Pabrik Tekstil Setengah Menganggur, Tertekan Pelemahan Rupiah dan Impor Cina

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Utilisasi industri tekstil tercatat masih rendah, yakni di bawah 50%.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan kondisi industri tekstil nasional masih jauh dari kata pulih. Redma memperkirakan pelaku industri masih akan menghadapi periode bertahan pada paruh kedua tahun ini.

“Kami melihat tren yang memburuk pasca pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga. Karena impor barang Cina pun kembali membanjiri pasar usai tertahan karena momen Imlek,” kata Redma kepada Katadata.co.id, Rabu (3/6).

Tekanan tersebut tercermin dari tingkat utilisasi industri serat polyester baru mencapai sekitar 40%, sementara industri benang berada di level 55% dan industri kain sekitar 45%. Rendahnya utilisasi menunjukkan kapasitas produksi nasional belum dimanfaatkan secara optimal di tengah ketatnya persaingan dengan produk impor yang membanjiri pasar domestik.

Di sisi lain, APSyFI menilai kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2026, mengenai Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) untuk impor benang dan serat sintetik, belum cukup efektif memberikan perlindungan bagi industri dalam negeri.

Menurut Redma, besaran BMTP yang ditetapkan pemerintah hanya sekitar Rp300 per kilogram atau setara sekitar 1% dari harga produk benang saat ini. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rekomendasi Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) yang mengusulkan tarif pengamanan sebesar Rp1.500 per kilogram.

Mulai Ekspansi Setelah Sempat Turun

Tekanan tetap dirasakan oleh pelaku industri, meski aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi pada Mei 2026 setelah Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur naik ke level 50.

Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menilai pemulihan sektor manufaktur masih belum merata karena industri tekstil masih menghadapi tekanan dari rendahnya utilisasi pabrik hingga derasnya impor asal Cina.

Menurut Redma, peningkatan belanja di bulan Mei terjadi setelah sempat adanya penahanan belanja akibat lonjakan harga pada April lalu. Kondisi ini sebab industri mau tak mau harus berbelanja kebutuhan bahan baku untuk meneruskan produksi.

“Bulan April memang ada shock kenaikan harga, jadi semua tahan beli bahan baku. Tapi di bulan Mei kan harus tetap beli bahan baku,” ujar Redma.

Menurutnya, volume pembelian bahan baku pada Mei memang belum kembali ke level normal sebelum gejolak harga terjadi. Namun, aktivitas pembelian sudah lebih tinggi dibandingkan April.

“Meskipun secara volume tidak seperti sebelum ada kenaikan harga, pembelian bahan baku di bulan Mei di atas bulan April meski masih di bawah pembelian bulan Januari dan Februari,” kata Redma.

Dengan kondisi itu, ia menilai kenaikan PMI manufaktur pada Mei belum dapat menjadi indikator bahwa industri tekstil telah memasuki fase pemulihan. Pelaku usaha masih menghadapi berbagai tantangan struktural yang berpotensi menahan laju produksi hingga akhir tahun, mulai dari tingginya biaya produksi, pelemahan rupiah, hingga tekanan produk impor dari Cina.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Noel Ebenezer Divonis 4,5 Tahun Penjara: Hukuman Sesuai Kejahatan, Saya Terima
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kejagung Tangkap Dadan Cs, Korupsi BGN Perlu Diusut hingga Daerah
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Ketika Kampus Dipaksa Melayani Pasar
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
The Last Dance Messi dan Ronaldo di Piala Dunia 2026, Berpotensi Pecahkan Rekor
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dharma Pongrekun Gugat Sejumlah Pasal UU Kesehatan ke MK, Soroti Definisi KLB dan Wabah
• 6 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.