Rupiah Anjlok Lagi, Mensesneg: Insya Allah Kita Memiliki Fundamental Ekonomi yang Cukup Kuat

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com — Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. 

Di tengah tekanan yang juga menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Istana memastikan pemerintah terus melakukan koordinasi intensif untuk memantau perkembangan dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi gejolak yang terjadi di pasar keuangan. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah,” kata Prasetyo Hadi di ruang pers Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan saat rupiah kembali tertekan dan ditutup melemah 82 poin ke level Rp18.049 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang rupiah muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal nasional, tingginya harga minyak dunia, hingga munculnya outlook negatif terhadap Danantara Investment Management. Kondisi tersebut turut memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Meski demikian, Prasetyo meminta publik tidak melihat pergerakan rupiah hanya dari sisi pelemahan kurs semata. Menurutnya, indikator utama ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif terjaga.

“Tetapi yang pasti bisa kami sampaikan bahwa kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga, Insya Allah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat gitu,” ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Menurutnya, kombinasi sentimen domestik dan global masih menjadi faktor utama yang membayangi pasar.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 82 point sebelumnya sempat melemah 90 point dilevel Rp18.049 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.966,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis.

Ia memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.050-Rp18.120,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Selain berpotensi memperbesar beban subsidi dan impor energi, situasi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan eksternal nasional.

“Kekhawatiran yang meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3 persen dan keseimbangan eksternal, membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, dan kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadap pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti,” jelasnya. (Agr)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Suhu Surabaya Terasa Dingin saat Malam hingga Pagi Hari, Ini Penjelasan BMKG
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
BeauPicks: 3 Buku Tipis yang Bantu Kamu Keluar dari Reading Slump
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pemilik Indomaret Ungkap Risiko Kehadiran Kopdes Merah Putih ke Gerai dan Rantai Pasok
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kakannwil Imigrasi Jabar Tersangka, Dugaan Korupsi Capai Ratusan Miliar Rupiah
• 8 jam lalukompas.id
thumb
Rusia Mulai Kehilangan Sekutu, Negara Ini Ogah Disetir Putin
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.