JAKARTA, DISWAY.ID-- Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi dinamika pasar keuangan global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
BACA JUGA:Hasil Indonesia Open 2026: Jonatan Christie Nggak Nyangka Bisa Bungkam Alwi Farhan
"Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," ujar Pras di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis, 4 Juni 2026.
Meski rupiah mengalami tekanan, pemerintah menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada level yang kuat.
"Tapi yang bisa kami sampaikan adalah bahwa kami harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi," jelas Prasetyo.
BACA JUGA:Viral Video Mahasiswa PNJ, Komisi X Dorong Penanganan Objektif dan Edukatif
Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga serta inflasi yang masih terkendali.
"Kemudian dari inflasi yang masih terjaga, insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," ungkapnya.
Diketahui, berdasarkan data Bloomberg, Rupiah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, melemah 0,35 persen ke posisi Rp18.028 per Dolar AS.
Level tersebut menjadi rekor terendah yang pernah dicapai Rupiah sejak pertama kali diperdagangkan.
Tekanan juga menjalar ke pasar saham. Hingga pukul 09.30 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3,02 persen ke level 5.760,33.
BACA JUGA:Bali Benahi Data Bansos dengan Aplikasi Perlinsos: Pemerintah Dapat Kondisi Riil Penerima Bantuan
Sebanyak 547 saham terkoreksi, sementara hanya 88 saham menguat dan 321 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 397,9 ribu kali transaksi dengan volume 5,23 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp3,38 triliun.





