Jakarta: PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp3,5 triliun di sepanjang 2025, dengan penjualan bersih sebesar Rp31,9 triliun atau naik 4,31 persen (yoy).
Pencapaian tersebut disokong oleh 17 merek unggulan yang berkontribusi sekitar 75 persen terhadap total penjualan. Selain itu, produk perseroan memiliki penetrasi yang kuat di pasar, dengan sebagian besar masyarakat setidaknya menggunakan dua merek Unilever di rumahnya.
"Dengan penjualan sebesar Rp31,9 triliun dan kapitalisasi pasar sebesar Rp68 triliun, kami menggabungkan kekuatan finansial dengan kepemimpinan pasar," ucap Presiden Direktur Unilever Benjie Yap dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Grha Unilever, Kamis, 4 Juni 2026.
Direktur Keuangan Neeraj Lal, menyampaikan margin laba kotor pada kuartal pertama 2026 tercatat mengalami peningkatan hingga sebesar 48,2 dibandingkan dari 2025, sementara secara penuh 46,9 persen. Peningkatan ini didorong oleh volume yang positif 2,1 persen serta kenaikan harga 1,4 persen.
"Secara keseluruhan, ini menunjukkan kemampuan kami untuk memperluas margin sambil menyeimbangkan pertumbuhan dan tekanan biaya dengan cara yang disiplin," terang dia.
Baca juga: Unilever Bagi Dividen Rp201 per Saham, Total Rp7,63 Triliun
(RUPST 2026 Unilevel Indonesia. Foto: Istimewa)
Atur ulang biaya tenaga kerja Pencapaian tersebut disokong oleh 17 merek unggulan yang berkontribusi sekitar 75 persen terhadap total penjualan. Selain itu, produk perseroan memiliki penetrasi yang kuat di pasar, dengan sebagian besar masyarakat setidaknya menggunakan dua merek Unilever di rumahnya.
"Dengan penjualan sebesar Rp31,9 triliun dan kapitalisasi pasar sebesar Rp68 triliun, kami menggabungkan kekuatan finansial dengan kepemimpinan pasar," ucap Presiden Direktur Unilever Benjie Yap dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Grha Unilever, Kamis, 4 Juni 2026.
Direktur Keuangan Neeraj Lal, menyampaikan margin laba kotor pada kuartal pertama 2026 tercatat mengalami peningkatan hingga sebesar 48,2 dibandingkan dari 2025, sementara secara penuh 46,9 persen. Peningkatan ini didorong oleh volume yang positif 2,1 persen serta kenaikan harga 1,4 persen.
"Secara keseluruhan, ini menunjukkan kemampuan kami untuk memperluas margin sambil menyeimbangkan pertumbuhan dan tekanan biaya dengan cara yang disiplin," terang dia.
Baca juga: Unilever Bagi Dividen Rp201 per Saham, Total Rp7,63 Triliun
(RUPST 2026 Unilevel Indonesia. Foto: Istimewa)
Menurut Neeraj Lal, efisiensi biaya merupakan hal yang bermanfaat bagi perseroan, sebab sudah terasa dampak positif yang terlihat pada 2026 ini.
"Kami telah mengatur ulang biaya tenaga kerja kami, yang mana kami berhasil mendapatkan pengurangan lebih dari 20 persen. Ini memungkinkan kami bisa bersaing dalam struktur biaya. Manfaatnya mulai terasa dari 2026," jelas Neeraj.
Sementara itu, biaya SG&A yang tidak mencakup A&P, royalti, dan biaya transformasi turun menjadi Rp931 miliar pada kuartal I-2026, dari Rp1.039 miliar sepanjang 2024.
Efisiensi ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kinerja keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. "Rasio yang membaik dari 13,6 persen menjadi 11 persen pada 2026," papar Neeraj.
Diketahui, tambahan Unilever membagikan dividen total sebesar Rp201 per saham dari laba bersih. Dividen final senilai Rp114 per saham akan didistribusikan 30 Juni 2026 kepada pemegang saham. (Adrian Bachtiar)




