SERING kita bayangkan partai politik sebagai benteng terakhir gagasan besar bangsa.
Gedung-gedung mewah dengan papan nama partai seharusnya menjadi tempat para pemikir merumuskan masa depan negara, menjaga moral, dan menjadi filter integritas nasional.
Sayangnya, gambaran ideal itu ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan.
Begitu musim pemilu tiba, realitas justru berputar 180 derajat. Alih-alih perdebatan gagasan, kita hanya dipaksa menjadi penonton drama absurd.
Politisi berubah warna layaknya bunglon, melompat dari satu perahu ke perahu lain hanya dalam hitungan malam.
Akibatnya, partai politik yang seharusnya menjadi penjaga gawang nilai demokrasi, kini justru berubah fungsi menjadi sekadar penyalur bantuan sosial.
Fenomena ini membuat partai-partai persis seperti kerupuk kulit yang dipajang di etalase kaca yang megah, ia mengembang besar, memikat mata, dan tampak begitu kokoh di balik cahaya lampu yang redup.
Namun, saat kita masuk ke dalam toko dan mencoba menggigitnya, kerupuk itu renyah sesaat, hancur menjadi bubuk, dan ternyata kosong di dalam.
Celakanya, ideologi yang mereka klaim hanyalah pembungkus plastik yang sekadar memberi label, padahal isinya hampa.
Narasi nasionalis atau agamis yang mereka usung hanyalah bumbu penyedap yang ditaburkan agar tampak menggugah selera.
Bedanya, kerupuk di toko hanya merugikan uang kita beberapa ribu rupiah, sementara "kerupuk" di Senayan telah menelan anggaran miliaran rupiah hanya untuk membiayai kehampaan.
Baca juga: Penyederhanaan Partai, Untuk Siapa?
Ketimpangan ini adalah bukti matinya fungsi ideologi di tubuh partai politik kita.
Ketika ideologi dikubur dalam-dalam demi pragmatisme elektoral, partai politik tidak lebih dari sekadar badan usaha penyalur kandidat, meninggalkan demokrasi kita berjalan terombang-ambing tanpa arah yang jelas.
Etalase Politik yang Renyah Tapi Kosong
Banyak yang berdalih bahwa ketiadaan ideologi adalah bentuk fleksibilitas politik modern yang cair.