Pulau Sampah di Pesisir Jakarta, Ancaman Nyata bagi Ekosistem dan Nelayan

republika.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jakarta kembali dihadapkan pada persoalan sampah di wilayah pesisir. Tumpukan sampah yang mengendap di sejumlah perairan membentuk hamparan menyerupai "pulau sampah" yang tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mengancam kelestarian ekosistem laut dan aktivitas masyarakat pesisir.

Petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu bersama Unit Penanganan Sampah Badan Air terus melakukan pembersihan endapan sampah yang terbawa arus dari daratan. Puluhan petugas dikerahkan untuk mengangkut berbagai jenis sampah, mulai dari plastik sekali pakai, limbah rumah tangga, hingga material lain yang terakumulasi di kawasan sedimentasi.

Keberadaan pulau sampah menjadi indikator masih tingginya volume sampah yang masuk ke sungai dan bermuara ke laut. Saat musim hujan atau ketika debit sungai meningkat, sampah dari wilayah hulu dengan mudah terbawa arus hingga ke pesisir Jakarta.

Dampak yang ditimbulkan tidak hanya terbatas pada pencemaran lingkungan. Tumpukan sampah dapat menghambat pertumbuhan biota laut, merusak habitat pesisir, serta mengganggu aktivitas nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut. Selain itu, sampah plastik yang terurai menjadi mikroplastik juga berpotensi masuk ke rantai makanan dan membahayakan kesehatan manusia.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Upaya pembersihan yang dilakukan pemerintah menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak pencemaran. Namun, penanganan sampah di pesisir tidak dapat mengandalkan pembersihan semata. Diperlukan pengelolaan sampah yang lebih baik dari sumbernya, peningkatan kesadaran masyarakat, serta penguatan sistem pengelolaan limbah di kawasan perkotaan.

Fenomena pulau sampah di pesisir Jakarta menjadi pengingat bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa perubahan perilaku dan pengelolaan yang berkelanjutan, sampah akan terus mengalir dari daratan menuju laut dan memperburuk kondisi lingkungan pesisir di masa mendatang.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Republika
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KJP Plus Tahap I 2026 Cair Mulai 5 Juni, Berikut Besaran Dana dan Jumlah Penerimanya
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Kalahkan Timor Leste 3-0, Indonesia akan Berebut Juara Grup A Piala AFF U-19 dengan Vietnam
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Siswi SMP di Malang Tewas Gantung Diri, Diduga karena Depresi Ujian-Laptop Rusak
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Komisi XIII Minta Imigrasi Benahi Sistem Usai Kasus Silmy: Rotasi Jabatan-Audit
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Mulai Berlaku 7 Juni 2026, Pramono Sebut CFD di Jalan Rasuna Said Cuma Sampai Jam 9 Pagi
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.