JAKARTA, DISWAY.ID – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap pelajaran berharga yang dipetik Indonesia saat menghadapi berbagai krisis besar, mulai dari krisis finansial Asia 1997-1998 hingga krisis keuangan global 2008.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketahanan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh stabilitas ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk tetap produktif, terhubung secara sosial, dan memiliki harapan terhadap masa depan.
Pernyataan itu disampaikan SBY saat menjadi pembicara dalam Asia Grassroots Forum.
BACA JUGA:SBY Ingatkan Bahaya Ketidakpastian Global, Ekonomi Akar Rumput Jadi Benteng Ketahanan Bangsa
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat rivalitas geopolitik, konflik di berbagai kawasan, fragmentasi ekonomi, hingga disrupsi teknologi, SBY menilai pelajaran dari masa lalu tetap relevan untuk menghadapi tantangan dunia saat ini.
"Selama saya menjabat sebagai Presiden Indonesia, saya menyaksikan langsung bagaimana ketahanan di tingkat akar rumput menjadi sangat penting pada masa-masa krisis," ujar SBY.
Ia mengenang berbagai ujian berat yang pernah dihadapi Indonesia, mulai dari dampak krisis finansial Asia, aksi terorisme, bencana tsunami Aceh 2004, hingga krisis keuangan global 2008.
BACA JUGA:Hubungan Prabowo dan Teddy Dibandingkan dengan Peran Sudi Silalahi dan SBY, Pengamat: Peduli Kasih Kue Ultah
Dari pengalaman tersebut, SBY menyimpulkan bahwa bangsa akan menjadi lebih kuat ketika masyarakat tetap aktif secara ekonomi, tetap terhubung secara sosial, dan tetap memiliki optimisme terhadap masa depan.
"Kita mengelola dampak dari krisis finansial Asia pada tahun 1997 dan 1998. Kita menghadapi terorisme, dan juga bencana alam yang sangat dahsyat, termasuk tsunami di Aceh pada 2004. Kemudian, kita juga menghadapi krisis keuangan global pada 2008. Tahun-tahun itu bukanlah masa yang mudah," paparnya.
BACA JUGA:Annisa Pohan Lahirkan 'AHY Junior', Ini Arti Makna Nama Cucu SBY
Dalam pidato pembukaan The 2026 Asia Grassroots Forum, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan peluang yang lebih luas bagi masyarakat.
“Di tengah perubahan global yang semakin cepat, negara-negara di Asia perlu terus mendorong produktivitas, kewirausahaan, dan inovasi. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan mampu menjangkau lebih banyak orang,” ujar SBY.
Sejalan dengan pesan tersebut, Amartha melihat bahwa masa depan pertumbuhan inklusif tidak hanya ditentukan oleh perluasan akses keuangan, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem untuk membantu masyarakat akar rumput menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh secara finansial.
BACA JUGA:Annisa Pohan Lahirkan 'AHY Junior', Ini Arti Makna Nama Cucu SBY
- 1
- 2
- »





