Menkeu Purbaya: Rupiah Tembus Rp18.000 Tak Ganggu Kemampuan Bayar Utang Negara

medcom.id
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta : Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak serta-merta mengganggu kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang.
 
Menurut Purbaya, struktur utang pemerintah sebagian besar menggunakan kupon tetap (fixed rate), sehingga fluktuasi nilai tukar tidak memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap beban pembayaran pokok maupun bunga dalam mata uang domestik.
  Baca juga:  Menkeu Purbaya Yakin DHE SDA Bisa Jadi “Tameng” Rupiah di Tengah Gejolak Global  
“Kuponnya bersifat konstan. Jadi pembayaran utang mengikuti kupon yang sudah ditetapkan.
Hanya saja, ketika rupiah melemah, nilai pembayaran dalam rupiah bisa meningkat,” ujar Purbaya dikutip dari Antara. 
 
Meski demikian, ia mengakui bahwa pelemahan rupiah tetap memberikan dampak pada komponen utang pemerintah yang menggunakan denominasi valuta asing (valas), terutama dalam pembayaran bunga.

Purbaya menambahkan, pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam kisaran yang telah diperhitungkan dalam perencanaan fiskal pemerintah. Dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan di level Rp16.500 per dolar AS.
 
Ia juga menyebut pemerintah telah melakukan berbagai simulasi risiko, termasuk skenario ketika harga komoditas energi mengalami lonjakan akibat ketegangan geopolitik global. Namun, ia tidak merinci detail skema simulasi tersebut.
 
“Secara fundamental, rupiah sebenarnya masih lebih kuat dibandingkan level saat ini,” katanya.
 
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar valuta asing untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang masih berada di kisaran Rp18.000-an per dolar AS.
 
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral memperkuat respons kebijakan melalui berbagai instrumen, termasuk penguatan suku bunga instrumen moneter yang bersifat pro-market untuk menjaga daya tarik aset domestik.
 
BI juga melakukan intervensi secara berkelanjutan di pasar valas, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
 
Selain itu, bank sentral turut melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan dan memperkuat likuiditas.
 
Dengan berbagai langkah tersebut, otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi serta dinamika pasar global yang belum sepenuhnya kondusif.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Barang yang Diduga Di-Mark Up Dadan Hindayana Cs, Ada Ribuan Motor Listrik hingga Sepatu
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
IHSG Berpotensi Volatil, Investor Pantau Sentimen Global dan Rencana Pusat Keuangan Internasional RI
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Harga Emas Menguat di Tengah Prospek Perdamaian Timur Tengah
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Diperiksa Polisi, Saiful Mujani Dicecar 37 Pertanyaan Terkait Dugaan Penghasutan
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Terbitkan Surat Terbuka, Zelensky Ajak Putin Bertemu untuk Akhiri Perang Rusia-Ukraina
• 2 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.