BANDUNG, KOMPAS-Polisi menduga puntung rokok memicu kebakaran di Area 14 proyek pembangunan pabrik mobil listrik BYD di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026). Meski tidak menimbulkan korban jiwa, penyelidikan masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti insiden di salah satu proyek investasi kendaraan listrik terbesar di Indonesia itu.
Kebakaran itu terjadi pada pukul 14.20 WIB. Selain kertas, material styrofoam ikut terbakar sehingga memicu asap tebal yang terlihat dari kejauhan. Hal itu membuat warga mengira terjadi kebakaran besar di pabrik BYD.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Hendra Rochmawan pada Jumat (5/6/2026) mengatakan, berdasarkan dugaan sementara, pemicu kebakaran adalah puntung rokok yang dibuang sembarangan.
”Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Kerugian material masih dalam proses pendataan. Pemeriksaan saksi dan olah tempat kejadian perkara masih berproses,” kata dia.
Kepala Polres Subang Ajun Komisaris Besar Dony Eko Wicaksono menambahkan, styrofoam yang terbakar bukan bagian dari komponen kendaraan listrik, melainkan material yang sejak awal berada di area atap bangunan. Untuk memastikan kenapa bahan itu terbakar, polisi masih melakukan pemeriksaan.
”Kami menurunkan tim Inafis ke lokasi kejadian,” kata dia.
Terkait hal ini, Dony mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi di media sosial yang belum terverifikasi terkait peristiwa itu. Tujuannya, agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Personel Polsek Cipeundeuy dan Satuan Reserse Kriminal Polres Subang telah melaksanakan olah tempat kejadian perkara dan meminta keterangan saksi, " tambahnya.
Kebakaran ini sempat heboh di media sosial karena terjadi di proyek pembangunan pabrik mobil listrik BYD, salah satu investasi kendaraan listrik terbesar di Indonesia.
Berdasarkan siaran pers Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), BYD Indonesia menargetkan 150.000 unit per tahun pada tahap awal di tahun ini. BKPM menyebut peningkatan kapasitas produksi itu berpotensi menambah penyerapan tenaga kerja hingga 18.814 orang.





