HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Di tengah berbagai ketidakpastian yang mengelilingi PSM Makassar menjelang musim baru, secercah harapan justru datang dari sosok pemain muda yang sedang bersinar bersama Tim Nasional Indonesia U-19.
Namanya Dimas Adi Prasetyo.
Striker muda milik PSM Makassar itu menjadi salah satu bintang kemenangan Timnas Indonesia saat membungkam Myanmar dengan skor telak 3-0 pada laga pembuka Piala AFF U-19 di Stadion Utama Sumatera Utara.
Meski tidak tampil sebagai starter, Dimas mampu menunjukkan kualitas yang dimiliki seorang penyerang modern. Ia masuk sebagai pemain pengganti, tetapi berhasil mengubah jalannya pertandingan dengan dua gol yang dicetak dalam waktu singkat.
Penampilan tersebut tidak hanya menghadirkan tiga poin penting bagi Garuda Muda, tetapi juga mengirim pesan bahwa Indonesia memiliki stok penyerang muda yang menjanjikan untuk masa depan.
Bagi PSM Makassar, kabar itu tentu menjadi sesuatu yang sangat menarik.
Sebab di saat klub sedang memasuki fase regenerasi dan menghadapi keterbatasan dalam membangun skuad, munculnya pemain muda seperti Dimas bisa menjadi aset yang sangat berharga.
Gol pertama Dimas ke gawang Myanmar lahir dari naluri predator yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Ia mampu membaca kesalahan lawan, menekan dengan agresif, dan memanfaatkan situasi yang terlihat sederhana menjadi gol.
Sementara gol keduanya memperlihatkan kualitas yang berbeda.
Kecepatan membaca ruang, kemampuan lepas dari jebakan offside, hingga ketenangan saat menyelesaikan peluang menunjukkan bahwa Dimas bukan sekadar striker yang menunggu bola di kotak penalti.
Ia memiliki insting menyerang yang lengkap.
Penampilan itu menjadi lanjutan dari perkembangan positif yang telah diperlihatkannya dalam beberapa tahun terakhir.
Dimas bukan nama baru dalam pembinaan sepak bola Indonesia.
Ia pernah menjadi bagian dari Timnas Indonesia U-17 dan merasakan atmosfer kompetisi level dunia saat tampil di Piala Dunia U-17.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting yang membantu proses kematangannya sebagai pemain muda.
Di level klub, performanya bersama PSM U-20 juga cukup menjanjikan.
Musim lalu, penyerang kelahiran Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, itu mencatatkan delapan gol dari 15 pertandingan. Catatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu pemain paling produktif di skuad Ramang Muda.
Namun yang membuat situasi ini semakin menarik adalah konteks yang sedang terjadi di PSM Makassar.
Pasukan Ramang saat ini berada dalam fase transisi.
Sejumlah pemain senior mulai meninggalkan klub. Beberapa pemain asing juga tidak lagi menjadi bagian dari proyek tim musim depan.
Situasi tersebut membuka ruang bagi lahirnya generasi baru yang bisa mendapatkan kesempatan lebih besar di tim utama.
Di sinilah nama Dimas mulai layak diperhitungkan.
Apalagi jika rumor kepulangan Darije Kalezic ke PSM Makassar benar-benar terwujud.
Sebab salah satu karakteristik yang melekat pada pelatih asal Bosnia tersebut adalah keberaniannya memberikan ruang kepada pemain muda.
Saat pertama menangani PSM, Darije tidak hanya fokus mengejar hasil jangka pendek. Ia juga dikenal memiliki perhatian terhadap proses regenerasi dan pembangunan fondasi tim untuk masa depan.
Filosofi tersebut sangat relevan dengan kebutuhan PSM saat ini.
Klub membutuhkan pemain muda yang lapar, memiliki potensi berkembang, dan bisa menjadi investasi jangka panjang.
Dimas memenuhi sebagian besar kriteria tersebut.
Usianya masih 19 tahun.
Mental bertandingnya sudah teruji di level internasional kelompok umur.
Dan yang paling penting, ia memiliki naluri mencetak gol yang menjadi komoditas langka dalam sepak bola modern.
Tentu perjalanan menuju tim utama tidak akan mudah.
Persaingan di lini depan PSM tetap ketat, terlebih jika klub berhasil mempertahankan beberapa pemain senior atau mendatangkan tambahan amunisi baru setelah berbagai persoalan administratif terselesaikan.
Namun performa bersama Timnas Indonesia U-19 setidaknya memberikan alasan kuat bagi tim pelatih untuk mulai meliriknya lebih serius.
Dalam sepak bola, banyak pemain besar lahir dari satu momentum penting.
Satu pertandingan.
Satu turnamen.
Atau satu kesempatan yang berhasil dimanfaatkan dengan sempurna.
Bagi Dimas Adi Prasetyo, dua gol ke gawang Myanmar bisa menjadi awal dari cerita yang lebih besar.
Cerita tentang seorang striker muda yang perlahan menembus tim utama PSM Makassar.
Cerita tentang pemain binaan yang berkembang menjadi andalan klub.
Dan jika Darije Kalezic benar-benar kembali ke Makassar, bukan tidak mungkin Dimas akan menjadi salah satu nama yang mendapatkan perhatian khusus dalam proyek pembangunan ulang Pasukan Ramang.
Sebab PSM saat ini tidak hanya membutuhkan pemain yang siap bermain.
Mereka membutuhkan simbol harapan baru.
Dan harapan itu bisa saja datang dari seorang penyerang muda asal Parigi Moutong yang baru saja membuat publik Indonesia tersenyum lewat dua golnya bersama Garuda Muda.
Musim depan mungkin masih menyimpan banyak tanda tanya bagi PSM Makassar.
Namun satu hal mulai terlihat semakin jelas.
Di balik proses regenerasi yang sedang berlangsung, Dimas Adi Prasetyo memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi salah satu wajah baru kebangkitan Pasukan Ramang di masa depan.





