JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring perkembangan zaman, lampu panggung yang dahulu kerap menerangi pertunjukan lenong Betawi kini semakin jarang menyala.
Di tengah menjamurnya hiburan modern di Jakarta, kesenian teater tradisional khas Betawi itu perlahan kehilangan ruang tampil di tanah kelahirannya sendiri.
Pementasan yang dulu mudah dijumpai dalam hajatan warga, perayaan kampung, hingga acara pemerintahan, kini semakin jarang digelar.
Baca juga: Kisah Nouval, Remaja Belasan Tahun yang Menolak Lenong Betawi Punah Ditelan Zaman
Di balik tawa dan celetukan khas yang selalu mengundang gelak penonton, para pelaku lenong harus menghadapi kenyataan pahit, berjuang mempertahankan eksistensi seni warisan leluhur di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.
Kehilangan panggung di tanah kelahiranPemilik Sanggar Kesenian Betawi Silibet Pengadegan, Ramdani (43), mengatakan bahwa pada era 1980-an hingga 1990-an, lenong masih menjadi hiburan utama masyarakat Jakarta.
Saat itu, hampir setiap hari grup lenong mendapat panggilan untuk tampil di berbagai acara, baik hajatan warga maupun kegiatan pemerintahan. Namun, kondisi tersebut kini berubah.
Menurut Ramdani, minat masyarakat untuk menghadirkan lenong sebagai hiburan acara besar terus menurun. Salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomi.
Untuk menyewa satu grup lenong lengkap dengan iringan gambang kromong, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta.
"Hal itu yang mungkin membuat masyarakat kesulitan menyewa lenong Betawi sebagai hiburan di hajatannya," ujarnya.
Baca juga: Menjaga Napas Lenong Betawi di Tengah Arus Deras Modernisasi
Ironisnya, saat ini lenong justru lebih sering tampil di Tangerang dibandingkan Jakarta yang merupakan tanah kelahirannya.
"Saat ini lenong lebih banyak tampil di daerah Tangerang. Di Jakarta sendiri frekuensinya cukup minim untuk acara hajatan warga, kebanyakan kami tampil di acara kedinasan atau pemerintahan," ujar Ramdani saat ditemui Kompas.com di Sanggar Silibet, Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, masyarakat Tangerang, termasuk warga keturunan Tionghoa yang masih memegang erat budaya Betawi, masih kerap menggunakan gambang kromong dalam berbagai acara, bahkan hingga acara kematian.
Ketua Divisi Lenong Betawi Sanggar Silibet, Kiki (38), membenarkan bahwa kelompoknya kini lebih banyak mengandalkan panggilan dari instansi pemerintah untuk bisa tampil di Jakarta.
"Kalau di daerah DKI Jakarta, biasanya hanya kalau ada acara saja, misalnya dari dinas," kata Kiki.
Namun, kegiatan pemerintah pun tidak rutin digelar setiap bulan. Akibatnya, kesempatan tampil bagi para pemain lenong menjadi terbatas.
Baca juga: Ridwan Kamil Berkomitmen Perluas Pertunjukan Lenong ke Penjuru Jakarta
Karena itu, para pemain Sanggar Silibet kerap mencari panggung di Tangerang yang dinilai masih memiliki permintaan lebih tinggi terhadap pertunjukan lenong.
Meski demikian, Kiki mengaku tidak pernah menyerah untuk menjaga napas kesenian tradisional tersebut.
Tergeser oleh dangdutSelain semakin sedikit mendapat panggung, lenong juga menghadapi persaingan dari jenis hiburan lain yang kini lebih diminati masyarakat, terutama musik dangdut.
Menurut Kiki, banyak warga lebih memilih menyewa grup dangdut untuk memeriahkan hajatan.





