Berdasarkan Asesmen Sektor Jasa Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk ke level 6.127,38 pada akhir Mei 2026.
Level IHSG tersebut terkoreksi tajam sebesar 29,14 persen secara year-to-date (ytd) dibandingkan posisi akhir tahun lalu di level 8.646,94.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan penyebab tekanan IHSG sepanjang tahun ini antara lain masih tingginya ketidakpastian dari domestik dan global.
"Serta adanya penyesuaian portofolio dari investor. IHSG tercatat ditutup di level 6.127,38 pada akhir Mei 2026. Ini terkoreksi sebesar 11,92 persen secara mtm [month to month] atau 29,14 persen secara ytd [year to date]," kata dia saat konferensi pers virtual, di Jakarta, Jumat (5/6).
Sementara itu, indeks likuiditas LQ45 turut terkoreksi sedalam 27,81 persen YTD ke posisi 611,17, sementara indeks IDX80 mencatat performa negatif sebesar 30,14 persen YTD.
"Memasuki bulan Juni 2026 pasar terlihat masih dinamis konsolidasi tentu ini akan terus kami cermati dari waktu-waktu ke depan," tambah dia.
Arus Keluar Rp 4,1 Triliun
OJK mencatat investor asing membukukan net sell sebesar Rp 4,1 triliun secara bulanan (mtm). Sementara itu sepanjang Januari-Mei 2026 investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 53,97 triliun.
Sementara itu kapitalisasi pasar sepanjang tahun tercatat Rp 10,729 triliun atau lebih rendah dibanding bulan sebelumnya Rp 12,382 triliun.





