Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita
Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh

Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok kuno, bersama Ritus Zhou (Zhouli) dan Etiket dan Upacara (Yili). Jika dua kitab lainnya menjelaskan apa yang harus dilakukan, Liji menjelaskan mengapa hal itu harus dilakukan, dengan mendasarkan perilaku ritual pada alasan moral dan kosmologis. 

Orang Tiongkok kuno memahami kata “ritus” (li) sebagai sinonim dari “melaksanakan” atau “memenuhi”, yang berarti ritual harus dijalani dalam kehidupan nyata, bukan sekadar dipentaskan. Menurut kitab tersebut, upacara yang kosong dari makna sama sekali kehilangan tujuan utamanya.

Di inti pandangan dunia Liji terdapat sebuah pernyataan yang tegas mengenai sebab dan akibat: segala sesuatu yang diterima seseorang dalam hidup ini—baik status, kekayaan, maupun reputasi—ditukar dengan kebajikan yang telah ia kumpulkan.

Pembelajaran Agung (Daxue), salah satu dari Empat Kitab Konfusianisme, menyatakannya dengan lugas:

“Kebajikan mendatangkan manusia; kebajikan mendatangkan tanah; kebajikan mendatangkan kekayaan.”

Sang Jalan Tengah (Zhongyong) memperluas logika ini hingga ke tubuh manusia:

“Mereka yang memiliki kebajikan besar akan memperoleh kedudukan, penghasilan, nama baik, dan umur panjang.”

Umur panjang menjadi penting. Dalam kerangka pemikiran ini, kebajikan membawa konsekuensi fisik yang langsung.

Pembelajaran Agung merangkum gagasan tersebut dalam satu kalimat:

“Kekayaan memperindah rumah; kebajikan memperindah tubuh.”

Kata yang diterjemahkan sebagai “memperindah” adalah run, yang memiliki makna lebih kuat dan spesifik: kilau, vitalitas, dan kelembapan.

Secara fisik, run menggambarkan wajah yang bercahaya, aliran darah yang lancar, kulit yang sehat dan lentur. Bayangkan bagaimana alam tampak pada musim semi dan awal musim panas, ketika segala sesuatu terlihat dipenuhi energi kehidupan. Menurut kitab ini, itulah yang dilakukan kebajikan terhadap seseorang.

Pembinaan Moral Meninggalkan Jejak yang Terlihat pada Tubuh

Catatan klasik menunjukkan bahwa pembinaan moral meninggalkan tanda yang dapat dilihat pada tubuh.

Pada Dinasti Song dan Ming, banyak cendekiawan Konfusianisme terkenal. Catatan yang ditinggalkan para murid mereka menunjukkan pengalaman yang konsisten. Berada di dekat seorang guru besar terasa secara fisik seperti berdiri di tengah angin musim semi yang hangat.

Sensasi itu bukan sekadar kiasan. Para murid menggambarkannya sebagai sesuatu yang benar-benar mereka rasakan pada kulit mereka.

Teks-teks Buddhis mencatat fenomena serupa. Mereka yang mendengarkan Dharma dari seorang guru yang tercerahkan sering kali merasa terpikat, seolah tidak mampu memalingkan pandangan. Setelahnya, mereka merasakan kegembiraan dan rasa syukur yang mendalam.

Walaupun berasal dari tradisi yang berbeda dan dipisahkan oleh berabad-abad, catatan-catatan tersebut menggambarkan pengamatan yang sama: pembinaan moral mengubah sesuatu dalam tubuh yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Sebaliknya, kondisi yang berlawanan juga banyak dicatat.

Dalam sastra klasik Tiongkok, tokoh-tokoh yang mengalami penderitaan batin sering digambarkan merasakan tubuh yang berat, anggota badan yang lemah, dan dada yang terasa sesak. Hal ini dianggap sebagai gambaran realistis tentang respons tubuh terhadap energi vital yang terhambat atau rusak, bukan sekadar bahasa puitis.

Penulis klasik membandingkan run (kilau dan vitalitas) dengan jiang dan ku (kaku dan layu).

“Kaku dan layu” menggambarkan cabang pohon yang kehilangan kelembapan sehingga mudah patah. Dalam bahasa sehari-hari Tiongkok, terdapat hinaan yang kira-kira berarti “sekaku mayat”, yang sebenarnya mengandung penilaian moral: kekakuan dianggap sebagai tanda kurangnya kebajikan.

Kebanyakan orang yang mengucapkan ungkapan tersebut tidak menyadari bahwa mereka sedang mengutip filsafat medis klasik Tiongkok.

Catatan kuno juga menyebutkan bahwa orang-orang yang terkenal berkarakter buruk sering meninggal dengan tubuh yang cepat menjadi kaku. Sebaliknya, banyak kisah tentang para bijak dan guru spiritual besar yang mengetahui kapan kematian mereka mendekat, lalu duduk tenang menyambutnya. Setelah wafat, anggota tubuh mereka tetap lentur, pipi mereka masih berwarna kemerahan, dan bagian ubun-ubun kepala masih terasa hangat.

Penafsiran tradisional menyatakan bahwa jiwa mereka telah naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Penelitian modern tentang fisiologi stres menemukan bahwa emosi yang ekstrem, seperti kemarahan berkepanjangan atau ketakutan akut, memicu pelepasan senyawa biokimia tertentu yang dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Bahasa yang digunakan ilmu pengetahuan modern berbeda dengan istilah klasik, tetapi pengamatannya serupa: keadaan batin seseorang dapat terbaca dari luar, dan kebajikan menghasilkan jejak fisik yang berbeda dibandingkan ketiadaannya.

Pedoman Perawatan Lansia Berdasarkan Tahapan Usia

Selain gagasan metafisik tersebut, Liji juga berisi panduan yang sangat praktis mengenai perawatan lansia yang disusun berdasarkan dekade usia.

Bab Peraturan Kerajaan (Wangzhi) menjelaskan perubahan tubuh secara rinci:

Dalam keluarga kaya di Tiongkok kuno, anak-anak kecil sering ditempatkan sebagai pendamping bagi orang yang sangat lanjut usia.

Praktik ini mungkin terdengar aneh bagi masyarakat modern, tetapi didasarkan pada teori medis Tiongkok klasik. Anak-anak dianggap memiliki energi yang yang melimpah, murni, kuat, dan menghangatkan. Kedekatan dengan energi tersebut diyakini bermanfaat bagi tubuh lansia.

Dengan kata lain, perawatan lansia dibangun di atas teori perpindahan energi vital, dan keyakinan ini memengaruhi tata kehidupan rumah tangga selama berabad-abad.

Makanan Khusus bagi Orang Tua

Pedoman makanan dalam bab yang sama juga sangat rinci.

Bab Aturan Internal (Neize) bahkan menjelaskan delapan jenis hidangan istimewa yang dibuat khusus untuk anggota keluarga yang lanjut usia.

Potongan daging terbaik dipilih dan dimasak menjadi makanan yang lembut serta mudah dicerna. Perhatian terhadap pencernaan lansia, pemilihan bahan makanan, dan pengolahan daging menjadi sesuatu yang berada di antara sup dan bubur menjelaskan salah satu sumber kehalusan teknik kuliner Tiongkok yang sering terlewatkan.

Seni memasak Tiongkok yang rumit berkembang sebagian karena kewajiban untuk memberi makan para lansia dengan baik.

Peringatan terhadap Pakaian yang Terlalu Tebal untuk Anak-anak

Bab Yuzao (Bejana Giok) memuat aturan yang mungkin mengejutkan pembaca modern:

Anak-anak tidak boleh mengenakan bulu tebal maupun sutra tebal.

Alasannya, kehangatan yang berlebihan dianggap merusak zhuangqi, yaitu energi kuat yang secara alami dimiliki anak-anak.

Menurut pengobatan klasik Tiongkok, anak-anak secara bawaan memiliki sifat yang: hangat, aktif, dan penuh energi. Membungkus mereka dengan terlalu banyak lapisan pakaian dianggap mengganggu kondisi alami tersebut dan pada akhirnya justru melemahkan mereka.

Namun ini tidak berarti pakaian anak harus polos dan membosankan.

Yuzao memperbolehkan bahkan menganjurkan penggunaan bordir, hiasan kain brokat, dan ornamen dekoratif pada ujung pakaian. Dengan demikian, anak tetap cukup sejuk untuk menjaga energi vitalnya, tetapi tetap dapat menikmati keindahan warna dan pola.

Seorang pejabat sekaligus sarjana pada masa Tiga Kerajaan (220–280 M), Wang Lang, pernah mengamati bahwa anak-anak Kaisar Wei, Cao Rui, meninggal pada usia muda dengan tingkat yang tidak biasa.

Setelah melakukan pengamatan, Wang menyimpulkan bahwa penyebab yang paling mungkin adalah karena mereka dibesarkan dalam kondisi yang terlalu hangat.

Kesimpulannya hampir identik dengan prinsip yang telah ditulis Yuzao berabad-abad sebelumnya.

Postur Tubuh, Batu Giok, dan Keselarasan dengan Musim

Bab Yuzao juga memuat salah satu kutipan paling terkenal dari Liji:

“Seorang junzi (manusia berbudi luhur), tanpa alasan khusus, tidak membiarkan batu giok terlepas dari dirinya.”

Di Tiongkok kuno, batu giok bukan sekadar perhiasan.

Sifatnya—halus tetapi kuat, berkilau tetapi tidak mencolok, keras tetapi tidak rapuh—dipandang sebagai model fisik dari kebajikan yang harus dimiliki seseorang.

Mengenakan batu giok berfungsi sebagai pengingat terus-menerus untuk mewujudkan sifat-sifat tersebut dalam kehidupan.

Bab Liyun (Ritus dalam Gerak) menyatakan:

“Ketika keempat anggota tubuh berada dalam posisi yang benar, kulit akan terisi dan menjadi penuh.”

Dalam pandangan ini, postur tubuh dan pembinaan moral berkembang bersama. Berdiri tegak bukan hanya mencerminkan kelurusan batin, tetapi juga membantu membentuknya.

Seiring waktu, hasilnya terlihat pada kondisi fisik seseorang.

Liji juga memandang tubuh manusia sebagai bagian dari siklus alam.

Titik balik musim dingin menandai saat energi yang mulai bangkit kembali setelah masa surutnya yang panjang. Titik balik musim panas menandai mulai bangkitnya energi yin.

Pada kedua masa peralihan tersebut, kitab ini menganjurkan ketenangan, pengendalian diri, dan pembatasan keinginan.

Logikanya adalah bahwa selama masa transisi, ritme tubuh sedang berubah. Memaksakan aktivitas yang bertentangan dengan perubahan itu dianggap membuang energi dan menciptakan kerentanan.

Menunggu hingga siklus kembali stabil dipandang sebagai bentuk kecerdasan praktis, bukan takhayul.

Bab Makna Persembahan (Jiyi) mencatat bahwa ketika embun dan embun beku turun, seorang yang berbudi luhur secara alami merasakan sedikit kesedihan saat berjalan di atasnya.

Kitab tersebut tidak menganggap perasaan itu sebagai kelemahan, melainkan sebagai kepekaan yang tepat terhadap perubahan alam semesta.

Sebuah Sistem Pengetahuan yang Sebagian Besar Telah Hilang

Besarnya warisan yang tersimpan dalam teks-teks ini baru terlihat ketika dibaca secara menyeluruh.

Para penyusunnya bukanlah dokter, tetapi melalui berabad-abad pengamatan, praktik, dan pewarisan pengetahuan, mereka berhasil merumuskan berbagai pemahaman tentang penuaan, fisiologi anak-anak, keselarasan dengan musim, dan dampak fisik dari kondisi moral manusia.

Setiap petunjuk dalam Liji mengenai makanan, pakaian, postur tubuh, dan hubungan manusia dengan musim mengandung pengalaman kolektif dari ribuan kehidupan manusia yang kemudian dirumuskan menjadi aturan yang dapat diwariskan.

Teks tersebut memuat pengetahuan empiris yang diungkapkan melalui bahasa filsafat, dan keduanya tidak dapat dipisahkan dengan mudah.

Kini, sistem pengetahuan hidup itu sebagian besar telah menghilang.

Kitab Ritus saat ini lebih banyak menjadi bahan kajian para ahli teks klasik dan arkeolog. Jejak-jejaknya masih bertahan dalam tradisi rakyat, kebiasaan keluarga, dan praktik generasi yang lebih tua, tetapi semakin sulit ditemukan.

Apa yang dahulu diwariskan dari guru kepada murid dan dari orang tua kepada anak kini memerlukan upaya penggalian kembali agar dapat dipahami dan dipulihkan.

Oleh Bai Song, Vision Times.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Sudah Jatuh, Valuasi Saham Konglo Masih Mahal?
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Awasi Ketat Program MBG, Prabowo Janji Tambah Anggaran KPK-Kejagung
• 18 jam laludisway.id
thumb
Pemprov DKI Jakarta Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Segini Gajinya
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
CFD Naik Kelas jadi Wisata Baru Favorit WN Singapura dan Malaysia
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Wamenlu Anis Matta Tanggapi Kritik Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.