Kota Surabaya menjadi percontohan Program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution, kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia untuk menekan pencemaran sampah plastik di sungai sebelum bermuara ke laut.
M. Fikser Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menyebut, total ada sekitar 1 ton sampah plastik yang berhasil diangkat dari Kali Tebu dan Kali Merutu setiap hari.
“Setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai organisasi lingkungan yang terlibat dalam program ini,” katanya, Jumat (5/6/2026).
Selain membersihkan sungai, program ini juga mengedukaai masyarakat untuk berhenti membuang sampah ke sungai.
“Dampak program juga mulai dirasakan masyarakat sekitar. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali. Proses tersebut melibatkan warga setempat sehingga menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus memberikan nilai tambah dari sampah yang sebelumnya tidak termanfaatkan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Surabaya juga memperkuat strategi pengurangan sampah dari hulu melalui program Kampung Zero Waste dan Kampung Program Iklim (Proklim).
“Langkah tersebut sejalan dengan target Wali Kota Surabaya yang mendorong pengurangan sampah hingga 40 persen,” imbuhnya.
Ia menyebut, total hasil sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari.
Dari jumlah itu, 200 ton di antaranya telah diolah melalui fasilitas TPS 3R dan aktivitas para pemulung.
Lalu 1.600 ton dikirim ke tempat pemrosesan akhir, dengan sekitar 1.000 ton diolah melalui proses gasifikasi menjadi energi listrik. Sisanya 600 ton masih berakhir di area landfill.
Untuk mempercepat pengurangan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, pemerintah pusat juga menunjuk Surabaya sebagai salah satu lokasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Lahan seluas 5,8 hektare telah disiapkan di kawasan Sumberrejo dan saat ini tengah menjalani proses survei.
“Fasilitas tersebut ditargetkan mulai dibangun pada akhir tahun ini dan diharapkan mampu mengolah sisa sampah yang masih masuk ke landfill, termasuk sampah dari wilayah Surabaya Raya seperti Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan,” jelasnya.
Sri Morwani Nifadilastuti Ketua Kelompok Kerja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular menegaskan, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama dalam menyelesaikan persoalan sampah perkotaan.
“Pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Titut.
Senada dengan itu, Ahmad Bahri Rambe Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) mengatakan keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, dan masyarakat.
Melalui kerja sama UNDP dan TKN PSL, program ini dirancang untuk membantu pemerintah mengurangi pencemaran sampah di sungai, baik sampah plastik maupun sampah organik.
“Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama program ini. Tujuannya agar perubahan perilaku dapat terbangun dan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ahmad Bahri.
Ahmad Didin mewakili Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengungkapkan, program ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia dengan UNDP sebagai lembaga pelaksana. Pada tahap awal, program dijalankan di lima wilayah yakni Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali.
Surabaya daerah pertama yang dipilih untuk peluncuran program karena dinilai punya komitmen kuat dalam pengelolaan sampah dan telah menunjukkan berbagai inovasi untuk dicontoh daerah lain.
“Surabaya diharapkan menjadi model bagi daerah lain. Jika implementasinya berhasil, berbagai praktik baik yang diterapkan di sini dapat direplikasi untuk memperkuat pengelolaan sampah dan mengurangi pencemaran plastik secara nasional,” ujar Ahmad Didin. (lta/iss)




