Indonesia Tertekan Kenaikan Harga Pangan Dunia dan Depresiasi Rupiah

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Dunia memasuki fase kerentanan pangan akibat lonjakan harga energi, pupuk, dan cuaca ekstrem. Kondisi tersebut dapat semakin menekan impor pangan Indonesia lantaran harga sejumlah komoditas pangan dunia naik di tengah depresiasi rupiah.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Jumat (5/6/2026) sore, merilis, Indeks Harga Pangan pada Mei 2026 sebesar 130,8 atau turun 0,2 persen secara bulanan. Indeks tersebut relatif stabil tinggi lantaran penurunan harga minyak nabati diimbangi dengan kenaikan, harga gula dan serealia, termasuk gandum.

Indeks Harga Minyak Nabati pada Mei 2026 turun 4,6 persen secara bulanan menjadi 185 akibat didorong harga minyak sawit dan kedelai dunia yang lebih rendah. Khusus minyak sawit, harganya turun setelah naik selama lima bulan beruntun.

Data Harga Komoditas Bank Dunia (The Pink Sheet) menunjukkan, harga minyak sawit turun dari 1.146 dolar AS per ton pada April 2026 menjadi 1.140 dolar AS per ton pada Mei 2026. Penurunan harga CPO itu mencerminkan ekspektasi melemahnya permintaan impor global dan ketidakpastian di pasar minyak mentah. Dunia.

Gandum berprotein tinggi (HRW), misalnya, harganya naik dari 282 dolar AS pada April 2026 menjadi 303 dolar AS pada Mei 2026.

Sebaliknya, Indeks Harga Serealia pada Mei 2026 naik 2,6 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan menjadi 114,3. Kenaikan harga itu terjadi di seluruh jenis serealia, seperti gandum, beras, jagung, dan jelai.

Gandum berprotein tinggi (HRW), misalnya, The Pink Sheet menunjukkan, harganya naik dari 282 dolar AS pada April 2026 menjadi 303 dolar AS pada Mei 2026. Dengan begitu, harga gandum dunia telah naik selama empat bulan berturut-turut.

FAO menyebutkan, kenaikan harga gandum dipengaruhi penurunan gandum di Amerika Serikat akibat dampak musim dingin. Selain itu, kenaikan harga gandum juga dipicu harga bahan bakar dan pupuk yang lebih tinggi.

Baca JugaKrisis Air, Deforestasi, dan Perang Merongrong Pangan

Indeks Harga Gula pada Mei 2026 juga melonjak 7,5 persen secara bulanan menjadi 95,1. Kenaikan indeks tersebut menandai level tertinggi sejak Oktober 2025, tetapi masih 13,1 persen di bawah level pada 2025.

Merujuk data The Pink Sheet, harga gula dunia naik dari 0,32 dolar AS per ton pada April 2026 menjadi 0,34 dolar AS per ton pada Mei 2026. Kenaikan indeks  terutama didorong oleh kekhawatiran atas perkiraan pengetatan pasokan gula global dalam beberapa bulan mendatang.

Banyak negara pembudidaya tebu, terutama Brasil, mengalihkan tebu sebagai bahan baku etanol secara besar-besaran. Bersamaan dengan itu, pasar khawatir El Nino dapat menurunkan produksi gula di India dan Thailand pada 2026/2027.

Direktur Devisi Pasar dan Perdagangan FAO Boubaker Ben-Belhassen mengatakan, secara umum, pasar komoditas pangan global masih tetap tanggun. Namun, kenaikan harga sejumlah pangan, terutama serealia, menunjukkan kerentanan terhadap sejumlah risiko.

“Kerentanan harga pangan itu dipicu oleh cuaca, serta gangguan di pasar energi dan input. Ketidakpastian yang berkelanjutan yang memengaruhi jalur perdagangan utama, termasuk Selat Hormuz, dapat mengurangi penggunaan pupuk dan memberikan tekanan tambahan pada harga pangan,” ujarnya melalui siaran pers.

Transmisi depresiasi rupiah

Indonesia juga tengah menghadapi risiko akibat kenaikan harga minyak mentah dan potensi terjadinya El Nino. Bahkan, Indonesia yang masih bergantung pada sejumlah bahan baku pangan impor bakal menghadapi tekanan ganda dari depresiasi rupiah dan kenaikan harga pangan global, seperti gandum, gula, dan kedelai.

Pada 2025, Indonesia mengimpor gula, gandum, dan kedelai masing-masing sebesar 3,93 juta ton, 11,76 juta ton, dan 2,56 juta ton. Sejak perang Iran versus Amerika Serikat-Iran meletus pada 28 Februari 2026, harga ketiga komoditas tersebut naik.

Pada Mei 2026, harga gandum dunia sudah tembus 303 dolar AS per ton. Adapun harga gula dan kedelai dunia masing-masing senilai 0,34 dolar AS per ton dan 474 dolar AS per ton.

Bersamaain dengan kenaikan harga ketiga komoditas itu di pasar internasional, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah. Merujuk data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada 5 Mei 2026 hingga 5 Juni 2026 bergerak di kisaran Rp 17.350-Rp 18.040 per dolar AS. Level depresiasi tertinggi terjadi pada 4 dan 5 Juni 2026, yakni sama-sama menyetuh Rp 18.039 per dolar AS.

Kedua faktor tersebut menyebabkan harga kedelai, gandum, dan gula impor di dalam negeri lebih mahal. Merujuk data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), Kementerian Perdagangan (Kemendag), per 5 Juni 2026, harga rerata nasional kedelai impor tembus Rp 16.682 per kilogram (kg) dan tepung terigu Rp 12.254 per kg.

Dalam sebulan, harga kedelai impor dan tepung terigu berbahan baku gandum telah naik masing-masing sebesar 0,77 persen dan 0,38 persen. Sementara harga diperkirakan naik sekitar 10 persen atau bergerak di kisaran Rp 11.000-Rp 12.500 per kg.

Serial Artikel

Sana-sini Inflasi

Inflasi tengah terjadi di sana-sini. Ekonomi semakin berbiaya tinggi. Isi dompet masyarakat semakin tergerogoti.

Baca Artikel

Pengamat pergulaan nasional Yadi Yusriadi, Jumat (5/6/2026), mengatakan, kenaikan harga gula dunia dan depresiasi rupiah akan memunculkan tekanan ganda di dalam negeri. Pertama, biaya produksi industri makanan-minuman pasti akan membengkak.

Selama ini, industri tersebut, baik berskala kecil, menengah, hingga besar, sangat bergantung pada gula rafinasi yang bahan bakunya berasal dari gula mentah impor. Lantaran harga gula mentah dunia naik dan rupiah melemah, harga gula rafinasi di dalam negeri pun turut naik.

“Kenaikan harga gula rafinasi itu diperkirakan sekitar 10 persen menjadi di kisaran Rp 11.000-Rp 12.500 per kg,” katanya ketika dihubungi dari Jakarta.

Kenaikan harga gula dunia dan depresiasi rupiah akan memunculkan tekanan ganda di dalam negeri.

Kedua, lanjut Yadi, meskipun harga gula rafinasi naik, harga gula kristal putih atau konsumsi di tingkat petani juga masih berpotensi tertekan. Hal itu terjadi lantaran diparitas harga gula rafinasi dengan harga acuan pembelian gula kristal putih petani—yang saat ini masih Rp 14.500 per kg—masih cukup besar, yakni sekitar Rp 1.500-Rp 3.500 per kg.

Disparitas harga gula rafinasi dengan harga gula konsumsi di tingkat eceran juga masih besar.  Merujuk data SP2KP Kemendag, per 5 Juni 2026, harga rerata nasional gula pasir senilai Rp 18.256 per kg atau turun 0,38 persen secara bulanan.

“Dengan demikian, jika kuota impor gula mentah pada 2026 tidak diturunkan, kebocoran gula rafinasi di pasar umum masih berpotensi terjadi. Kebocoran gula rafinasi itu bisa memicu kembali tidak lakunya gula petani dalam lelang gula seperti pada musim guling tebu 2025,” katanya.

Sementara itu, Kemendag menilai depresiasi rupiah berdampak positif terhadap kinerja ekspor. Di sisi lain, Kemendag akan memonitor imbas pelemahan nilai tukar terhadap produk-produk impor.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengemukakan, di tengah pelemahan rupiah, kesempatan ekspor justru semakin bagus. “Kendati nilai surplus ekspor turun dibandingkan tahun lalu, nilai ekspor tersebut tetap naik,” ujarnya di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan migas dan nonmigas pada Januari-April 2026 sebesar 5,64 miliar dolar AS. Capaian itu jauh lebih rendah ketimbang surplus Januari-April 2025 yang tembus 11,07 miliar dolar AS.

Sementara total ekspor migas dan nonmigas pada Januari-April 2026 senilai 92,15 miliar dolar AS. Capaian itu meningkat 5,48 persen dibandingkan dengan Januari-April 2025.

Perihal imbas depresiasi rupiah terhadap impor, Budi menuturkan Kemendag akan memonitor pergerakan stok dan harga bahan baku impor, termasuk pangan. Kemendag akan berkoordinasi dengan para produsen guna memastikan ketersediaan bahan baku impor tidak terganggu.

Baca JugaArah Kemudi Dagang Prabowonomics (11)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Pegadaian Galeri 24, Antam dan UBS Hari Ini Masih Turun
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bareskrim: Bripka Dedy Berperan Jadi Sniper di Kampung Narkoba Samarinda
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pengacara Ungkap Kondisi Sony Sonjaya Setelah Jadi Tersangka Korupsi Program MBG, Hmm..
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Prediksi Starting XI Timnas Indonesia Vs Oman, John Herdman Punya Formula Baru
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Kinerja Positif di Tengah Tekanan Ekspor Satu Pintu, Begini Prospek Bisnis MINE Versi Analis
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.