KOMPAS.TV - Rentetan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada November 2025 meninggalkan dampak besar bagi sektor pendidikan. Ribuan siswa di Aceh dan Sumatera Utara terpaksa meninggalkan ruang kelas mereka akibat kerusakan infrastruktur sekolah yang disebabkan banjir bandang dan tanah longsor.
Meski demikian, semangat belajar para siswa tidak ikut surut. Di tengah keterbatasan fasilitas dan proses pemulihan yang masih berlangsung, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan melalui berbagai skema darurat yang disiapkan pemerintah bersama para pemangku kepentingan.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, bencana yang terjadi pada 25–26 November 2025 mengakibatkan kerusakan pada 4.149 sekolah. Sebagai respons cepat, pemerintah mendistribusikan tenda darurat untuk kegiatan belajar dan menginisiasi aksi bersih lingkungan sekolah agar proses pendidikan dapat segera kembali berlangsung.
Pemerintah juga mengalokasikan anggaran pemulihan sebesar Rp2,4 triliun untuk mempercepat rehabilitasi dan pembangunan kembali sarana pendidikan yang terdampak.
Melalui dukungan tersebut, seluruh fasilitas pendidikan ditargetkan dapat kembali beroperasi secara optimal sebelum tahun ajaran baru 2026–2027 dimulai.
Di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sejumlah sekolah harus direlokasi akibat kerusakan yang cukup parah. Namun kondisi tersebut tidak menghentikan proses belajar mengajar. Sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergantian atau shift agar para siswa tetap memperoleh hak pendidikan mereka sambil menunggu pembangunan gedung baru selesai.
Optimisme juga terlihat dari para guru dan siswa yang menyaksikan pembangunan kembali sekolah mereka mulai berjalan. Kehadiran fasilitas baru diharapkan dapat mempercepat pemulihan aktivitas pendidikan sekaligus mengembalikan rasa aman bagi peserta didik.
Sementara itu, di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, semangat yang sama ditunjukkan oleh para pendidik dan siswa. Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk memulihkan kondisi psikologis pascabencana.
Interaksi dengan teman sebaya dan kegiatan belajar menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan trauma yang dialami anak-anak.
Kisah dari berbagai daerah terdampak bencana tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas yang tidak boleh terhenti dalam situasi apa pun. Di tengah bangunan yang rusak dan fasilitas yang belum sepenuhnya pulih, semangat belajar para siswa terus menyala, menjadi lentera yang tak pernah padam di tanah bencana.
Penulis : Iqbal-Tawakal
Sumber : Kompas TV
- pendidikan
- semangat belajar
- advertorial





