Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons pengumuman terbaru dari dua penyedia indeks global yaitu MSCI dan FTSE Russell terkait evaluasi mereka terhadap saham-saham Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal terus mencermati perkembangan pasar serta melakukan koordinasi secara intensif dengan seluruh pemangku kepentingan dan pelaku pasar.
"Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa transaksi perdagangan, manajemen risiko, dan terutama penyelesaian transaksi di pasar modal di masa rebalancing ini dapat tetap dilakukan dengan baik dan berjalan dengan lancar," kata Hasan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Jumat (5/6).
Hasan menilai kebiajkan-kebijakan stabilisasi pasar yang saat ini diterapkan masih relevan dan efektif dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia. Ke depan, OJK bersama SRO akan terus memantau agenda-agenda yang dilakukan penyedia indeks global sekaligus memastikan reformasi pasar modal yang tengah berjalan dapat diimplementasikan secara konsisten.
Menurut Hasan, langkah tersebut penting untuk memperkuat kredibilitas serta meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor. Sebelumnya, Pejabat sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan fundamental pasar modal Indonesia dalam kondisi baik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat rontok nyaris 5% selama dua hari berturut-turut.
Jeffrey mengingatkan investor untuk tetap mengambil keputusan investasi secara rasional dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan dan profil risiko masing-masing di tengah pelemahan IHSG.
Meski begitu, Jeffrey mengatakan kinerja emiten yang tercatat di bursa masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, laba bersih seluruh perusahaan tercatat tumbuh lebih dari 21% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat perkembangannya sampai dengan kuartal pertama tahun 2026, dibandingkan dengan kuartal pertama di tahun 2025, khususnya untuk saham-saham dalam kelompok LQ45, terjadi pertumbuhan laba bersih hampir 30%,” ujar Jeffrey kepada di ruang wartawan Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (4/6).
Meski demikian, tekanan di pasar saham masih berlanjut hingga hari ini. Hingga sesi kedua perdagangan Jumat (5/6), IHSG masih bergerak di zona merah dengan penurunan hampir 4% secara intraday. Pelemahan tersebut memperpanjang tren koreksi IHSG menjadi tiga hari perdagangan berturut-turut.
Tekanan terhadap pasar saham domestik terjadi setelah MSCI dan FTSE Russell merilis hasil rebalancing dalam tinjauan kuartalan Mei 2026. Kedua penyedia indeks global tersebut mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks yang mereka kelola.
Selain itu, MSCI mengumumkan penangguhan implementasi hasil rebalancing untuk saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Keputusan tersebut diambil setelah BEI memindahkan saham GOTO dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan. Sementara itu, FTSE Russell mengeluarkan GOTO dari indks Large Cap
Perpindahan papan pencatatan dilakukan karena likuiditas saham GOTO bertahan di level Rp 50 per saham atau yang dikenal sebagai level gocap.




