Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka peluang untuk bertemu pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak kemungkinan tersebut.
Dilansir AFP, Jumat (5/6/2026), Trump mengatakan kepada New York Post: "Ya, saya ingin bertemu dengannya," ketika ditanya tentang kemungkinan pertemuan, menambahkan bahwa "kita mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan".
Namun diplomat utama Iran tersebut meremehkan peluang tersebut dalam sebuah wawancara dengan media Lebanon yang ditayangkan pada Kamis malam. Ia menyatakan bahwa hal itu tidak realistis.
"Saya melihat sebuah laporan yang tampaknya mengatakan bahwa dia (Trump) telah menyatakan bahwa dia siap untuk bertemu atau bahwa dia ingin mengadakan pertemuan," kata Araghchi kepada saluran televisi Al Mayadeen.
"Saya pikir kita harus realistis dan berpikir serta hidup di dunia nyata," lanjut dia.
Araghchi mengatakan dalam wawancara tersebut bahwa selama serangan yang menewaskan Ali Khamenei, ia berada di dalam kantor pemimpin tempat ayahnya meninggal, tetapi di sayap lain gedung tersebut sehingga tidak terluka.
Serangan tersebut mendorong Iran untuk membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan sekutu AS di wilayah Teluk.
Araghchi juga mengatakan bahwa pemimpin tertinggi yang baru memiliki "kehadiran yang sangat dekat dan efektif dalam urusan negara dan memiliki kendali penuh".
(maa/idn)





