“Jadi Butet (anak) tuh langganannya perut kembung dulu. Jadi dia perutnya tuh sering banget kembung, jadinya malem tuh bener-bener bangun-bangun terus gitu,” cerita Anggi Marito saat ditemui di mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Sebagai ibu dengan satu anak, tentunya Anggi Marito menyadari banyak hal yang masih perlu dipelajarinya. Seperti ketika si kecil baru belajar makan, Anggi merasa pencernaan anaknya itu jadi lebih sensitif hingga berujung pada GTM (gerakan tutup mulut).
“Iya ternyata kalau kembung-kembung gitu jadi malas makan, GTM gitu pasti ya,” ujar Anggi.
Tak berhenti di situ, tantangan lain juga muncul saat si kecil lulus ASI (air susu ibu). Anggi mengaku tak sembarangan dalam memilih susu formula, apalagi kondisi pencernaan Gemma yang sensitif.
“Butet (anak) itu minum Lactogrow kurang lebih 1 tahunan, karena aku dulu sempet ASI terus berhenti ASI, kemudian aku cari-cari susu yang kira-kira bagus untuk butet,” kata Anggi.
Kondisi yang dialami anak Anggi Marito ternyata terbilang wajar. Dokter spesialis anak, dr. Miza Afrizal mengatakan bahwa masalah pencernaan seringkali dialami anak di bawah usia 4 tahun.
“Oke, menurut datanya, anak di bawah 4 tahun, 1 dari 5 anak itu mempunyai masalah pencernaan. Masalah itu tentunya ada berbagai macamnya lagi ya,” kata dr. Miza Afrizal, Sp.A, BMedSci, M.Kes, saat ditemui di acara Lactogrow Digestion Expert.
Menurut dr. Miza, salah satu faktor yang dapat memicu berbagai gangguan pencernaan pada anak adalah ketidakseimbangan mikrobiota usus atau bakteri yang hidup di dalam saluran cerna. Karenanya, orangtua perlu memastikan asupan nutrisi yang mendukung keseimbangan bakteri baik di dalam usus
“Ketidak seimbangan antara bakteri baik dan bakteri jahat itu yang membuat akhirnya jadi gangguan saluran cerna.”
“Saya persingkat aja bahwa yang paling bertanggung jawab terhadap bakteri baik dan juga bakteri tidak baik ini ada dua hal, prebiotik dan probiotik,” tegasnya. (*)
Artikel Asli




