OJK Pastikan Tak Ada Bank Rush Meski Rupiah Mengalami Pelemahan

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Fenomena bank rush umumnya dipicu oleh menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.

OJK Pastikan Tak Ada Bank Rush Meski Rupiah Mengalami Pelemahan (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global belum menimbulkan risiko terjadinya bank rush, karena kondisi fundamental perbankan dan tingkat kepercayaan masyarakat masih terjaga.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan fenomena bank rush umumnya dipicu oleh menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. 

Baca Juga:
Timnas Indonesia Putus Catatan 38 Tahun Tanpa Kemenangan dari Oman

Karena itu, menjaga kepercayaan publik menjadi faktor utama dalam mempertahankan stabilitas industri perbankan.

"Kami memandang saat ini tidak terdapat potensi bank rush karena situasi politik, keamanan, dan ekonomi Indonesia masih kondusif. Tentu saja, bank rush pada umumnya diakibatkan oleh isu kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan," ujarnya dalam RDKB Mei 2026, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga:
Kemenhaj Pastikan Jamaah KJT-04 Diberangkatkan Aman usai Saudia Airlines Mengalami Kendala Teknis

Menurutnya, di tengah berbagai risiko global tersebut, ketahanan industri perbankan nasional masih tergolong sangat kuat. Hingga April 2026, permodalan perbankan tetap terjaga dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) mencapai 23,97 persen.

Selain itu, kualitas kredit juga masih berada pada level yang sehat. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,17 persen, atau masih jauh di bawah ambang batas 5 persen, disertai tingkat pencadangan kerugian kredit yang dinilai relatif stabil.

Baca Juga:
Utang Warga Indonesia ke Pindar Tembus Rp102 Triliun pada April 2026

Dari sisi likuiditas, OJK menilai kondisi perbankan masih cukup kuat. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) dan alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) masing-masing berada di atas ambang batas minimum, yakni sebesar 10 persen dan 50 persen.

Sementara itu, rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) berada pada level 86,88 persen, masih berada dalam rentang ideal 78 persen hingga 92 persen.

Baca Juga:
Timnas Indonesia Kalahkan Oman 3-0, Erick Thohir: Masih Ada Mozambik

"Liquidity Coverage Ratio atau LCR perbankan tercatat sebesar 192,37 persen, masih jauh di atas threshold dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek perbankan ke depan," kata Dian.

Dian menjelaskan bahwa fenomena bank rush umumnya dipicu oleh menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Karena itu, menjaga kepercayaan publik menjadi faktor utama dalam mempertahankan stabilitas industri perbankan.

Baca Juga:
Total Aset Dana Pensiun Rp1.690 Triliun per April 2026

Ia menambahkan, upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat ityharus dilakukan oleh seluruh bank melalui pemeliharaan kinerja yang sehat, penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking), serta pengelolaan risiko secara aktif pada setiap lini bisnis.

"Bank rush pada umumnya diakibatkan oleh isu kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Sehingga upaya untuk menjaga kepercayaan masyarakat itu harus senantiasa dilakukan oleh manajemen bank," tuturnya.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri Yusril Sebut Presiden Prabowo Pantau Korupsi Imigrasi dan BGN
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Baru Gunakan Rp20,6 Miliar Dana IPO, BSA Logistik (WBSA) Kantongi Amunisi Rp281 Miliar
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Ragam Teknologi Baru di Piala Dunia 2026: Dari Avatar 3D hingga Sensor Bola
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
2 Anggota Brimob Dikeroyok Debt Collector di Serang, 4 Pelaku Ditangkap | BERUT
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Jam Operasional CFD Jakarta Berubah Lebih Pagi Mulai 7 Juni 2026, Simak Jadwal Terbarunya
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.