Airlangga di Forum Ekonomi Brussel: Dunia Butuh Kerja Sama, Bukan Fragmentasi

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Brussels -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya membangun kembali arsitektur ekonomi internasional yang terbuka, inklusif, dan tangguh di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Hal tersebut disampaikan Airlangga saat menjadi pembicara dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 yang berlangsung di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026).

Menurut Airlangga, perubahan yang terjadi dalam tatanan ekonomi global harus dijawab dengan penguatan kerja sama antarnegara, bukan dengan kebijakan yang justru memperdalam fragmentasi ekonomi dunia.

"Arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat membangun kembali framework yang mampu mempertahankan manfaat keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Saya meyakini bahwa jawabannya bukan terletak pada decoupling, melainkan pada diversification. Bukan pada fragmentation, melainkan pada cooperation and partnerships," ujar Airlangga.

Baca Juga: Airlangga Rayu Investasi Teknologi Finlandia, Bidik AI dan Industri Masa Depan

Brussels Economic Security Forum merupakan forum tahunan yang mempertemukan para pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, hingga media internasional untuk membahas isu keamanan ekonomi, perdagangan, investasi, teknologi, dan ketahanan rantai pasok global.

Dalam forum tersebut, Airlangga memaparkan berbagai langkah Indonesia dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Ia menyoroti berbagai konflik geopolitik, termasuk yang terjadi di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, yang berdampak langsung terhadap rantai pasok global, investasi, hingga pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong banyak negara menerapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat keamanan ekonomi, mulai dari kebijakan industri, penyaringan investasi, hingga pengendalian ekspor.

Di tengah tantangan tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), ditopang inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang kuat, serta surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung lebih dari 70 bulan berturut-turut.

Airlangga juga menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, transformasi digital, dan pengembangan ekonomi hijau.

Salah satu fokus utama adalah memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.

"Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia dengan menarik investasi dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara pada sektor produksi baterai, material katoda, hingga perakitan kendaraan listrik," ujarnya.

Selain itu, Indonesia juga terus mendorong transformasi digital sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi. Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui US$130 miliar dalam gross merchandise value (GMV), menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.

Di sektor energi, pemerintah juga memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengembangan energi terbarukan dan implementasi program biodiesel B50. Program tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi nasional.

Baca Juga: Airlangga Umumkan Stimulus Ekonomi Kuartal II 2026, Ada Diskon Tiket Pesawat hingga Insentif Pajak Penulis

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga turut menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kerja sama ekonomi internasional melalui berbagai perjanjian perdagangan strategis, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA, serta Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).

Indonesia juga terus melanjutkan proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS, Airlangga menegaskan Indonesia akan terus memainkan peran sebagai jembatan antara negara maju dan negara berkembang guna mendorong dialog serta memperkuat kerja sama internasional yang inklusif.

" Mari kita bekerja sama membangun kerangka keamanan ekonomi yang lebih baik, yang mampu memperkuat ketahanan sekaligus menjaga keterbukaan, inklusivitas, dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi semua," pungkas Airlangga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kala Porsche, Harley, hingga Ducati Diangkut dari Rumah Silmy Karim
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Pulau Sampah di Jakarta dan Ancaman yang Mengalir ke Meja Makan
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Menkeu Purbaya Janji Tingkatkan Koordinasi dan Sinergi dengan Bank Sentral untuk Perkuat Rupiah
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Dekatkan hasil riset ke masyarakat, BRIN gelar pameran di Bogor
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Detik-detik Pria di Bogor Melawan Begal Motor hingga Dibacok
• 55 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.