REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pesan kepada Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dengan menyerukan agar dia menyelamatkan Lebanon dari musuh yang sebenarnya.
Pernyataan itu merupakan tanggapan atas tuduhan Presiden Aoun yang menyebut Teheran menjadikan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi Iran dengan Amerika Serikat.
Baca Juga
Ilusi Kemenangan Benteng Beaufort dan Jebakan Hizbullah, Tentara Israel Bertumbangan 48 Jam Terakhir
Taktik Perang Brilian Hizbullah yang Ubah Lebanon Jadi Ladang Pembantaian Tentara Israel
Tentara Israel akan Mundur dari Lebanon Seusai Ultimatum Trump? Ini Kata Pakar Militer
Dalam unggahannya di platform X, Araghchi menegaskan bahwa Iran bukan pihak yang bertanggung jawab atas penderitaan rakyat Lebanon.
Dia berkata, "Dari pernyataan Tuan Aoun, orang bisa saja mengira bahwa Iran-lah yang menduduki seperlima wilayah Lebanon, mengusir seperempat penduduknya, dan setiap hari membombardir negara itu," dikutip dari Aljazeera, Sabtu (6/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menteri Luar Negeri Iran itu menambahkan, "Jika Lebanon memang hanya menjadi kartu tawar bagi Iran, maka kesepakatan sudah pasti tercapai sejak lama."
Pernyataan Araghchi muncul setelah wawancara Presiden Joseph Aoun dengan CNN, di mana ia melontarkan kritik terhadap Teheran.
Dalam wawancara tersebut, Aoun menuduh Iran menjadikan Lebanon sebagai alat negosiasi dalam konflik dan persaingannya dengan Amerika Serikat dan Israel, sementara rakyat Lebanon harus menanggung akibatnya.
Aoun menegaskan bahwa rakyat Lebanon sudah lelah dengan perang dan hanya ingin hidup dalam kedamaian. Menurutnya, siklus kehancuran yang terus berulang di negara itu harus segera diakhiri.
Dalam pesan yang ditujukan secara langsung kepada Garda Revolusi Iran, ia berkata, "Ini negara kami, bukan negara kalian."