JAKARTA, KOMPAS – Nilai tukar rupiah yang makin merosot memang berdampak positif bagi pasar pariwisata Indonesia, tetapi tetap memukul industri. Pelaku usaha perlu melakukan efisiensi dari berbagai sisi yang tetap berisiko pada penyesuaian harga jasa dan barang, sehingga kenaikan tarif tetap dibebankan pada konsumen.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menarik para wisatawan mancanegara (wisman) untuk membelanjakan uangnya di Indonesia. Dari sisi pasar, kondisi ini dinilai menguntungkan bagi para pelaku perjalanan.
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sudah berada pada level Rp 18.039 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026). Nominal itu melebihi batas psikologis, jauh di atas asumsi dasar ekonomi makro nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah mematok Rp 16.500-16.900 per dolar AS (Kompas.id, 4/6/2026).
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengemukakan, para pelaku perjalanan yang datang ke Indonesia merupakan pihak yang diuntungkan. Sebab, nilai tukar mata uang negara lain lebih tinggi ketimbang rupiah, sehingga mereka dapat belanja lebih banyak dengan nilai yang lebih rendah.
“Untuk yang paling cepat melakukan traveling ke Indonesia, cross border (lintas batas) ya teman-teman regional, seperti warga Singapura, Malaysia, dan Australia. Berbagai negara tetangga bisa cepat traveling,” ujar Maulana saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Merujuk data PHRI, wisman paling banyak memberikan kontribusi di Bali. Sebab, okupansi hotel didominasi wisman yang proporsinya mencapai 80-90 persen. Hal serupa terjadi pula di beberapa daerah lain, seperti Jakarta dan Batam (Kepulauan Riau).
Meski demikian, tak semua wilayah di Indonesia menikmati dampak pelemahan rupiah terhadap pariwisata. Sebab, hanya destinasi populer yang banyak dikunjungi wisman.
Padahal, Maulana melanjutkan, mobilitas terbesar tetap disumbang pasar domestik atau perjalanan wisatawan nusantara (wisnus). Dalam kondisi ini, perjalanan ke luar pulau lebih lesu imbas harga tiket pesawat yang meningkat. Alhasil, masyarakat lebih banyak bermobilitas jarak dekat.
Ia mengingatkan agar isu pelemahan rupiah ini tidak hanya dilihat dari sisi pasar, tetapi melihat dari perspektif industri. Begitu nilai tukar rupiah melemah, beban pelaku usaha akan bertambah karena biaya operasional yang meningkat.
Hotel, misalnya, bergantung pada gas yang harganya meningkat sebagai komoditas impor. Ada kulkas dan pendingin (chiller) yang harus terus beroperasi. Harga plastik yang meningkat juga berimbas pada kemasan jasa cuci pakaian (laundry). Restoran-restoran hotel yang bergantung pada bahan baku impor juga terdampak biaya operasional yang melambung.
“Enggak mungkin harga tetap rendah, kecuali produk dalam negeri pasti masih bisa. Jadi tekanan rupiah itu dengan nilai dolar AS meningkat terus, perlahan inflasi yang besar juga akan berdampak. Hal ini tidak akan menguntungkan. Industri harus efisiensi besar-besaran,” tutur Maulana.
Apabila kondisi ini terus berlanjut dengan membiarkan nilai kurs rupiah terhadap dolar AS terus melemah, maka penyesuaian harga akan terjadi. Harga kamar hotel akan meningkat yang berujung dibebankan pada konsumen.
Secara terpisah, Chief Operating Officer Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego mengatakan, saat ini memang sentimen cenderung negatif. Sejumlah kegiatan bisnis yang mencakup pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran atau MICE dijadwalkan ulang, ditunda hingga dibatalkan.
“Ini semua (pebisnis) menahan dulu nih. Kemudian, orang-orang yang tadinya berencana berlibur ke luar negeri, memilih berlibur di dalam negeri saja. Hotel-hotel kami di Bali, misalnya, data-data menunjukkan bahwa kurvanya tetap naik walau tidak melonjak, setidaknya enggak turun,” ujar Eduard.
Dengan anggaran sekitar 8-10 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, Eduard menilai performa hotel masih terjaga. Merujuk data Artotel Group hingga akhir Mei 2026 menunjukkan, kinerja triwulan I-2026 menuju triwulan II-2026 lebih baik ketimbang tahun lalu dalam periode yang sama.
Saat ini, rata-rata okupansi properti berkisar 65-70 persen untuk hotel-hotel bintang 2-4 di bawah Artotel Group, walau Eduard mengakui angka itu masih di bawah target 75-78 persen. Apabila dibandingkan dengan periode 2024, performa saat ini lebih rendah, tetapi tetap lebih baik ketimbang kinerja periode 2025.
“Ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di Singapura, Malaysia, Thailand yang bosan kemudian berlibur ke sini. Jadi bukan wisman yang direct dari Eropa tiba-tiba datang ke sini, tetapi ekspatriat di negara tetangga,” ucap Eduard.
Pemerintah menilai, pelemahan rupiah berdampak positif bagi pariwisata Indonesia. Wisatawan, khususnya wisman, bisa menikmati berbagai hal.
“Ini baik untuk pariwisata dalam arti value for money dari wisatawan itu bagus. Dan yang terpenting, dari catatan kami, mereka datang untuk menikmati hotel, belanja oleh-oleh,” ujar Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ni Made Ayu Marthini seusai menghadiri acara “Ngobrolin Pariwisata dan Ekraf” di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Pemerintah terus memantau kondisi ini dan berharap makin banyak wisman berdatangan, supaya Indonesia makin banyak mengantongi devisa. Durasi tinggal mereka juga lebih lama.
Untuk wisman dari negara-negara Barat, mereka dinilai lebih sulit bermobilitas karena harga tiket pesawat meningkat signifikan. Aspek keamanan imbas ketegangan politik di Timur Tengah juga jadi pertimbangan besar.
“(Wisman) digantikan oleh yang sekitar ini. Ketika mereka datang, jumlahnya lebih banyak dan lebih sering, itu bisa menggantikan wisman yang datang dari jauh,” ucap Made.
Berdasarkan pemantauan Kemenpar, wisman Singapura, Malaysia, China, dan Korea Selatan banyak berdatangan ke Indonesia. Untuk Malaysia dan Singapura yang serumpun dengan Indonesia, mereka banyak menikmati kuliner dan belanja.
Warga Malaysia banyak berkunjung ke Jakarta. Setelah itu, mereka pergi ke Bandung, Jawa Barat menjajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Sementara, warga Singapura banyak berkunjung ke Batam dan Bintan, Kepulauan Riau. Mereka menikmati perjalanan singkat sebagai pelancong.
Wisatawan China tetap memilih Bali sebagai destinasi utama yang kini mulai merambah ke daerah-daerah sekitarnya, seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur; Lombok di Nusa Tenggara Barat; Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur; serta, Manado di Sulawesi Utara.
“Kami senangnya dalam 2-3 tahun terakhir ini, mulai terjadi diversifikasi. Kalau dulu, kan, semuanya di Bali ya. Nah, sekarang itu terjadi. Jadi, setelah mereka datang ke Jakarta, kemudian keliling-keliling, bukan stay di Bali. Jadi Bali bukan hanya sebagai destinasi, tetapi juga hub ke wilayah Indonesia lainnya,” tutur Made.
Merujuk data Badan Pusat Statistik, jumlah kunjungan wisman Malaysia pada April 2026 naik 22,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya dalam periode yang sama. Jika dibandingkan April 2026 dengan Maret 2026, maka kunjungan wisman Malaysia tumbuh 11,5 persen.
Sementara, jumlah kunjungan wisman China juga menunjukkan lonjakan 25,8 persen pada April 2026 terhadap April 2025. Jika April 2026 disandingkan dengan Maret 2026, maka angka kunjungannya melambung hingga 39,7 persen.
Ketika ditanya upaya khusus yang diberikan bagi pelaku usaha pariwisata, Made mengatakan, pemerintah tengah berusaha memperbaiki ekosistem agar persaingan usaha berjalan sehat. Penginapan tidak resmi atau ilegal ditertibkan.
Menanggapi kondisi ini, Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia Azril Azhari mengatakan, pariwisata Indonesia dari segi industri sangat merugi akibat daya beli masyarakat merosot. Dengan pelemahan rupiah, daya beli masyarakat akan makin tergerus.
Dari sisi wisatawan mancanegara, pemerintah perlu bergerak cepat untuk memanfaatkan momentum ini, apalagi puncak berlibur musim panas akan segera datang. Jumlah wisman Malaysia yang berkunjung ke Indonesia juga melonjak karena memanfaatkan rendahnya nilai rupiah terhadap dolar AS, bahkan terhadap ringgit Malaysia.
“Mereka senang berbelanja di Jakarta dan mencari kuliner di Bandung. Makanan Indonesia mirip dengan Melayu, seperti kue lapis. Harganya murah,” ujar Azril.
Pemerintah semestinya dapat membuat retail entertaiment (retailment) atau shopping tourism di Thamrin City, misalnya. Tempat perbelanjaan itu dapat dibenahi untuk mengakomodasi wisata berbelanja, dilengkapi dengan sejumlah kegiatan peragaan busana atau fashion show. Ada kombinasi antara belanja retail dengan hiburan.
Kebijakan yang dikeluarkan semestinya berbasis data akurat, sehingga penelitian ilmiah perlu dilakukan. Namun, pemerintah belum melangkah hingga ke tahap ini.





