Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membuka pameran seni rupa bertajuk “Mata Hati Soekarno” di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6). Pameran ini digelar dalam rangka memperingati 125 tahun kelahiran Proklamator RI Soekarno.
Pameran tersebut menghadirkan karya dari 47 perupa lintas generasi yang menafsirkan sejarah, pemikiran, dan perjalanan hidup Bung Karno melalui berbagai medium seni rupa seperti lukisan, karya grafis, dan gambar.
Dalam pembukaan acara, Megawati duduk berdampingan dengan Wakil Ketua DPD RI sekaligus Permaisuri Keraton Yogyakarta, GKR Hemas.
Seniman senior Butet Kartaredjasa yang menjadi penanggung jawab acara turut hadir bersama sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Hasto Kristiyanto, Rano Karno, Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Hasto Wardoyo, Endah Subekti Kuntariningsih, dan Abdul Halim Muslih.
Peresmian pameran ditandai dengan Megawati mengajak GKR Hemas membuka pintu kaca ruang pameran, kemudian keduanya berkeliling melihat karya para seniman. Saat memasuki ruangan, Megawati terlihat menggandeng tangan GKR Hemas.
Butet Kartaredjasa menjelaskan pameran ini merupakan bentuk penghormatan para seniman terhadap Bung Karno.
"Ini adalah kesadaran kami para seniman untuk menghormati seniman juga yang kebetulan seorang Presiden pertama Indonesia, Proklamator, ideolog, penggali Pancasila, yang selalu menginspirasi kami, menginspirasi kita dari waktu ke waktu," kata Butet dalam keterangan resminya, Sabtu (6/6).
"Jadi kalau ada ungkapan dari Bung Karno itu 'jangan hanya mewarisi abunya, maka kami ingin mewarisi apinya'. Api Soekarno itulah yang menanamkan kesadaran ideologis kami sebagai warga bangsa yang selalu kami usung ke depan," tambahnya.
Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menyatakan para perupa ditantang untuk menggali sudut pandang dan cara ungkap dalam memahami sosok Bung Karno.
"Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan dari waktu ke waktu sampai hari ini. Lebih dari setengah abad sepeninggal Bung Karno, ia adalah inspirasi yang tak pernah redup," ujarnya.
Ia menambahkan pameran ini tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog publik mengenai relevansi pemikiran Bung Karno.
"Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan. Ini perayaan yang tepat, karena teman-teman di berbagai belahan negara mengenal Indonesia, mengenal Bung Karno dari dekat, salah satunya adalah dari lima jilid buku yang diinisiasi beliau, yang diterbitkan dan belum pernah ada tandingannya sampai hari ini," katanya.
Pameran “Mata Hati Soekarno” menjadi bagian dari rangkaian peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno di Yogyakarta.





