Oleh: Azis Subekti, mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kaki pertama kali menapak di Madinah.
Kota itu tidak menghadirkan kemegahan seperti pusat-pusat dunia modern yang dipenuhi gedung pencakar langit, laboratorium teknologi, atau hiruk-pikuk industri global. Gurun mengelilinginya.
Baca Juga
Taktik Perang Brilian Hizbullah yang Ubah Lebanon Jadi Ladang Pembantaian Tentara Israel
Ilusi Kemenangan Benteng Beaufort dan Jebakan Hizbullah, Tentara Israel Bertumbangan 48 Jam Terakhir
Tentara Israel akan Mundur dari Lebanon Seusai Ultimatum Trump? Ini Kata Pakar Militer
Matahari turun dengan cahaya yang keras. Angin membawa debu dan jejak sejarah yang panjang.
Namun entah mengapa, justru di kota itu manusia merasa sedang berada sangat dekat dengan sumber peradaban.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Di malam hari, ketika pelataran Masjid Nabawi mulai dipenuhi langkah manusia dari berbagai bangsa, ada kesadaran yang pelan-pelan tumbuh di dalam batin: Madinah mungkin bukan kota yang melahirkan mesin-mesin modern, melainkan di sanalah banyak teknologi peradaban manusia pertama kali menemukan bentuk moralnya.
Kota yang nyaris tak memiliki aliran sungai besar itu justru mengajarkan bagaimana manusia membangun sistem penyediaan air bersih dan distribusinya, solidaritas sosial, dan disiplin hidup bersama di tengah keterbatasan alam.
Kota yang berada di tengah padang tandus itu tidak pernah benar-benar kehilangan kehidupan.
Seolah ada pelajaran sunyi bahwa peradaban besar tidak selalu lahir dari kelimpahan sumber daya, melainkan dari kemampuan manusia mengelola amanah dan menjaga keadilan.