Rupiah dan Harga Kepercayaan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Ini merupakan kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir. Tujuannya jelas: menahan arus modal keluar dan meredam pelemahan rupiah. Secara teori, langkah ini masuk akal. Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset keuangan domestik lebih menarik, sehingga dapat mendorong masuknya modal asing dan menopang nilai tukar.

Namun kenyataannya berbeda. Saat keputusan itu diumumkan, rupiah berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Dua pekan kemudian, nilainya justru menyentuh Rp18.000. Kebijakan yang semestinya meredakan tekanan belum mampu mengubah arah pasar. Pertanyaannya: Jika instrumennya tepat, mengapa hasilnya belum terlihat?

Jawabannya terletak pada kepercayaan. Pasar tidak hanya memperhitungkan tingkat imbal hasil, tetapi juga keyakinan terhadap kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan fiskal. Ketika investor menilai risiko meningkat, suku bunga yang lebih tinggi tidak selalu cukup untuk mengubah persepsi mereka. Suku bunga dapat dinaikkan dalam satu rapat, tetapi kepercayaan tidak dibangun secepat itu.

Berbagai indikator pasar menunjukkan bahwa pelemahan rupiah berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal. Berbagai program strategis yang membutuhkan pembiayaan besar memunculkan pertanyaan mengenai ruang fiskal pemerintah, prioritas anggaran, dan keberlanjutan pengelolaan keuangan negara dalam jangka menengah.

Namun di ruang publik berkembang pembacaan yang berbeda. Pelemahan rupiah lebih sering dijelaskan sebagai akibat tekanan eksternal, mulai dari gejolak ekonomi global hingga kekuatan kapitalisme internasional yang dianggap tidak menyukai arah kebijakan pemerintah.

Membaca Data

Data berbicara cukup jelas. Salah satu petunjuknya terlihat pada Credit Default Swap (CDS), yaitu biaya yang diminta pasar untuk menanggung risiko gagal bayar utang suatu negara. Semakin tinggi CDS, semakin mahal harga ketidakpercayaan terhadap negara tersebut. Kenaikan CDS biasanya menandakan investor menilai risiko fiskal meningkat, sehingga mereka menuntut imbal hasil yang lebih tinggi atau mengurangi eksposurnya di pasar domestik.

Pola itu terlihat di Indonesia. Sejak awal 2026, CDS Indonesia meningkat tajam dan bahkan sempat menjadi yang tertinggi di Asia. Kenaikan tersebut terjadi beberapa bulan sebelum konflik di Timur Tengah memanas. Artinya, sebagian kegelisahan pasar sudah muncul sebelum konflik geopolitik menjadi perhatian utama investor.

Petunjuk lain mengarah pada kesimpulan yang sama. Dalam keadaan normal, rupiah cenderung menguat ketika dolar AS melemah terhadap mata uang utama dunia. Namun sejak awal 2025, hubungan tersebut tidak lagi berjalan seperti biasanya. Dolar global melemah, tetapi rupiah tetap tertekan. Pola ini mengindikasikan bahwa faktor domestik sedang memainkan peran yang lebih besar dibandingkan yang lazim terjadi.

Tanda-tanda terbaru pada awal Juni memperkuat gambaran tersebut. Pada perdagangan 3 Juni, Indeks Harga Saham Gabungan melemah sekitar lima persen dan saham empat bank terbesar serentak turun antara dua hingga lima persen. Sebagian koreksi memang dipicu penyesuaian bobot dalam indeks global, tetapi keluarnya dana asing dari pasar domestik juga ikut berperan.

Pada saat yang sama, imbal hasil surat utang pemerintah meningkat, menandakan investor meminta kompensasi yang lebih besar atas risiko yang mereka lihat. Ketika sebagian besar bursa Asia bergerak menguat, pasar Indonesia justru melemah. Sulit mengabaikan kesan bahwa pasar sedang merespons persoalan yang lebih spesifik terhadap Indonesia, bukan sekadar gejolak global yang dialami semua negara.

Pasar Ragu

Dengan rangkaian fakta tersebut, penjelasan pertama tampak lebih masuk akal. Pasar hanya menghitung. Ketika kredibilitas fiskal mulai dipertanyakan, investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas ketidakpastian. Sebagian dana asing kemudian keluar dan rupiah pun tertekan.

Masalahnya, keraguan semacam ini dapat memperkuat dirinya sendiri. Dalam teori krisis nilai tukar, ekspektasi pasar yang memburuk sering kali ikut menciptakan hasil yang mereka khawatirkan. Ketika cukup banyak pelaku pasar meragukan kemampuan suatu negara menjaga stabilitas ekonomi, keraguan itu dapat berubah menjadi kenyataan. Fenomena ini dikenal sebagai self-fulfilling currency crisis.

Ingatan terhadap krisis 1998 membuat refleks semacam itu bekerja lebih cepat. Pasar selalu menyimpan kemungkinan, sekecil apa pun, bahwa skenario terburuk dapat terulang. Para ekonom menyebut gejala ini sebagai peso problem.

Meski demikian, ini bukan berarti faktor global tidak berperan. Negara berkembang memang rentan terhadap perubahan sentimen pasar internasional, pergerakan suku bunga global, dan arus modal yang dapat berubah dengan cepat. Namun, kerentanan tidak sama dengan persekongkolan. Data menunjukkan bahwa kegelisahan pasar terhadap Indonesia telah muncul, bahkan sebelum konflik geopolitik menjadi perhatian utama investor. Karena itu, menjelaskan pelemahan rupiah semata-mata sebagai akibat tekanan dari luar negeri berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang sebenarnya perlu dibenahi di dalam negeri.

Beda Zaman

Mengakui bahwa sumber persoalan berada di dalam negeri bukan berarti kita harus panik. Situasi saat ini berbeda jauh dengan 1998. Ketika itu, nilai tukar dipertahankan secara ketat, sementara banyak perusahaan menumpuk utang dolar jangka pendek tanpa perlindungan nilai. Ketika rupiah akhirnya dilepas, depresiasi terjadi secara drastis dan mengguncang sistem perbankan.

Kondisinya sekarang berbeda. Rezim nilai tukar lebih fleksibel, cadangan devisa lebih kuat, dan pelaku usaha lebih terbiasa mengelola risiko kurs. Tekanan terhadap rupiah memang nyata, tetapi terjadi secara bertahap, bukan dalam bentuk guncangan mendadak seperti yang terjadi menjelang krisis Asia.

Pengalaman satu dekade terakhir juga menunjukkan hal yang sama. Sepanjang 2014 hingga 2024, rupiah melemah sekitar 36 persen terhadap dolar AS tanpa memicu krisis perbankan maupun krisis keuangan. Karena itu, situasi saat ini lebih tepat dibaca sebagai ujian terhadap kepercayaan daripada ancaman krisis yang segera terjadi.

Taruhan Utama

Justru karena belum menjadi krisis, ruang untuk memperbaiki keadaan masih terbuka. Faktor global berada di luar kendali kita, tetapi kepercayaan pasar tidak sepenuhnya demikian. Kepercayaan dibangun melalui disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, dan kemampuan pemerintah meyakinkan publik bahwa setiap program strategis memiliki prioritas, sumber pembiayaan, dan batas risiko yang jelas.

Pasar pada dasarnya tidak menuntut kesempurnaan. Investor memahami bahwa setiap pemerintah memiliki agenda pembangunan yang ambisius. Yang mereka perhatikan adalah apakah ambisi tersebut ditopang oleh perencanaan fiskal yang kredibel dan komunikasi kebijakan yang meyakinkan. Ketika keyakinan itu terjaga, tekanan pasar biasanya lebih mudah dikelola. Sebaliknya, ketika kredibilitas mulai dipertanyakan, bahkan kebijakan yang secara teknis tepat sering kali kehilangan efektivitasnya.

Satu hal juga tidak boleh dilupakan. Dampak pelemahan rupiah terhadap pertumbuhan ekonomi relatif terbatas, tetapi dampaknya terhadap harga pangan dan biaya hidup jauh lebih terasa. Kelompok berpendapatan menengah ke bawah biasanya menjadi pihak yang paling terdampak. Karena itu, perlindungan terhadap mereka bukan sekadar pelengkap kebijakan, melainkan juga bagian dari tanggung jawab utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rumah Silmy Karim Diobok-obok KPK, Mobil Mewah hingga Perhiasan Disita
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Purbaya: Pelemahan Rupiah-IHSG tak Sesuai Fundamental Ekonomi RI
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jadwal Indonesia Open Hari Ini, Indonesia Kejar Tiga Tiket Final di Istora
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
DPR-Pemerintah Rapat di Akhir Pekan Bahas Perkembangan Ekonomi
• 10 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.