JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI Jakarta menyampaikan telah melakukan berbagai upaya untuk menata RW kumuh di Ibu Kota.
"Untuk penanganan kampung di RW kumuh di DKI Jakarta, kami ada program CAP (Community Action Plan) dan CIP (Community Implementation Plan)," kata Kepala DPRKP DKI Jakarta Kelik Indriyanto dalam acara Jakarta Feature Festival di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2026).
CAP merupakan upaya peningkatan kualitas permukiman melalui kolaborasi langsung dengan masyarakat setempat.
Baca juga: Demi Fancam EXO, Penggemar Rela Sewa HP Rp 850.000 Semalam
Dalam pelaksanaannya, akan ada fasilitator di kampung-kampung tersebut untuk menampung kebutuhan warga.
Kebutuhan yang terkumpul kemudian menjadi acuan DPRKP dalam melaksanakan penataan fisik RW kumuh.
"Untuk CAP dan CIP, kami lakukan di enam wilayah di antaranya, lima wilayah kota administrasi dan satu kabupaten. Ini terus kita lakukan untuk benar-benar menyelesaikan sisa RW kumuh di DKI Jakarta," sambung Kelik.
Upaya lainnya adalah peremajaan permukiman yang mengubah kawasan secara menyeluruh, seperti yang telah dilakukan di Kampung Akuarium, Jakarta Utara, dan Kampung Kunir, Jakarta Barat.
Kedua kawasan tersebut ditata tanpa penggusuran, melainkan direvitalisasi menjadi kampung susun atau hunian vertikal.
Selain itu, DPRKP juga menjalankan program Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV).
Baca juga: Mobil Damkar Tertimpa Beton Gedung DLH Jakarta Berhasil Dievakuasi, Tak Ada Korban Jiwa
"Ini juga ada program kami yang baru, yang memang masih perlu pendalaman lebih lanjut terkait dengan aturan-aturannya," jelas Kelik.
Menurut dia, pelaksanaan KTV menjadi tantangan karena tidak mudah mencapai kesepakatan dengan warga untuk tinggal di hunian vertikal.
Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta telah menerapkan KTV di dua lokasi, yakni Kelurahan Palmerah, Jakarta Barat, dan Kelurahan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.
"Untuk yang di Palmerah itu dari 9 KK menjadi satu hunian empat lantai. Kemudian yang di Tanah Tinggi ada delapan KK, bentuknya hampir mirip namun tetap mempertahankan "roh" kampungnya," jelas Kelik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang