JAKARTA, KOMPAS.TV - Dosen Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Bivitri Susanti menanggapi langkah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) baru, Nanik Sudaryati Deyang.
Nanik sebelumnya menyatakan akan fokus meningkatkan efisiensi anggaran dan memprioritaskan pemerataan layanan BGN ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Kenapa baru sekarang? Menurut saya memang karena kasusnya sudah terblow up (meledak)," ujarnya dalam program Bola Liar KompasTV yang tayang Jumat (5/6/2026).
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu menyinggung kritik dari sejumlah pihak terhadap program MBG yang sudah muncul sejak lama.
Namun, BGN terkesan kebal terhadap data-data tandingan yang diberikan pihak-pihak tersebut, baik kalangan masyarakat sipil sampai ahli gizi.
Padahal menurutnya, tujuan masyarakat memberikan data-data tentang program MBG adalah untuk memberikan koreksi kepada BGN.
Baca Juga: Eks Ketua BEM UGM soal 3 Pimpinan BGN Jadi Tersangka: Pemimpin Buruk Pasti Memilih Tim yang Buruk
Bivitri mengingatkan, tugas negara bukan seperti sinterklas yang membagi-bagi sesuatu secara konkret.
Tugas negara adalah membuat sistem dan kebijakan yang bisa berjalan dengan baik.
Melihat ketidakjelasan program MBG yang berjalan selama ini, lulusan Universitas Warwick itu menilai program MBG hanya semacam proyek saja, bukan policy (kebijakan atau aturan).
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- bgn
- kepala bgn
- nanik s deyang
- mbg
- bivitri susanti
- 3t




