Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong perguruan tinggi berperan aktif memperkuat hilirisasi pertanian dan kemandirian pangan nasional melalui inovasi, riset, serta pengembangan sumber daya manusia unggul.
"Kita sudah membuktikan swasembada pangan. Sekarang tantangannya adalah bagaimana menjaga keberlanjutannya dan melangkah ke hilirisasi," kata Mentan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Mentan menegaskan hal itu saat memberikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, bertajuk “Dari Kampus untuk Negeri: Penguatan Nilai Kebangsaan, Inovasi Pertanian, dan Kemandirian Pangan Nasional.”
Menurut Amran, kekayaan sumber daya alam Indonesia harus dipadukan dengan sumber daya manusia (SDM) unggul agar Indonesia mampu menjadi negara adidaya berbasis pangan dan agroindustri.
"Indonesia sangat kaya, tetapi kekayaan itu harus bertemu dengan SDM yang tangguh. Di situlah peran kampus menjadi sangat penting," kata dia.
Dia mengatakan capaian swasembada pangan Indonesia telah mendapat pengakuan internasional.
Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), serta Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan produksi nasional yang signifikan.
Adapun sejumlah komoditas pangan yang telah mencapai swasembada dan surplus meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Baca juga: Panen raya jagung di Bengkayang perkuat ketahanan pangan keluarga
Mentan menyebutkan stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog hingga awal Juni 2026 bahkan mencapai sekitar 5,3 juta ton, salah satu level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
"Ini bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Ada petani, perguruan tinggi, mahasiswa, TNI, Polri, dan seluruh elemen bangsa. Kita membuktikan bahwa Indonesia tidak harus bergantung pada impor pangan," ujarnya.
Menurut Amran, keberhasilan tersebut membuat Indonesia tidak lagi menjadi pasar utama bagi negara-negara pengekspor beras. Setelah berhasil memperkuat produksi, pemerintah kini mengarahkan fokus pada hilirisasi agar nilai tambah komoditas pertanian dinikmati di dalam negeri.
Ia mencontohkan potensi besar Sulawesi Tenggara yang memiliki keunggulan pada komoditas perkebunan dan dapat menjadi basis pengembangan industri pengolahan.
"Kalau hanya menjual bahan mentah, nilainya kecil. Tetapi kalau misalnya kelapa diolah menjadi virgin coconut oil (VCO), santan, coconut milk, dan produk turunannya, nilainya bisa berkali-kali lipat. Mimpi kita adalah hilirisasi seluruh komoditas sehingga kesejahteraan petani meningkat," jelasnya.
Oleh karena itu, Mentan mengajak Universitas Halu Oleo memperkuat kolaborasi riset dan inovasi bersama Kementerian Pertanian.
Dia meyakini perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam melahirkan teknologi dan sumber daya manusia yang mampu menopang transformasi sektor pertanian nasional.
Dia mencontohkan saat ini Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di Jawa Timur berhasil mengembangkan bahan bakar alternatif bernama Benwit (Bensin Sawit) berjenis biogasoline.
"ITS sudah menghasilkan inovasi minyak sawit menjadi bahan bakar, Benwit (bensin sawit). Saya berharap Universitas Halu Oleo juga bisa berkontribusi melahirkan inovasi baru. Kalau sudah berhasil, kita jadikan industri," katanya.
Mentan menambahkan kekuatan Indonesia berada pada tiga sektor vital, yakni pangan, air, dan energi. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta generasi muda yang inovatif, dia optimistis Indonesia mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia.
"Indonesia punya modal besar. Tinggal bagaimana kita satukan kekayaan alam dengan kualitas SDM. Kalau itu terjadi, Indonesia akan menjadi negara superpower," katanya.
Baca juga: Mentan: Pendapatan petani tumbuh lebih cepat dari biaya produksi
"Kita sudah membuktikan swasembada pangan. Sekarang tantangannya adalah bagaimana menjaga keberlanjutannya dan melangkah ke hilirisasi," kata Mentan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Mentan menegaskan hal itu saat memberikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, bertajuk “Dari Kampus untuk Negeri: Penguatan Nilai Kebangsaan, Inovasi Pertanian, dan Kemandirian Pangan Nasional.”
Menurut Amran, kekayaan sumber daya alam Indonesia harus dipadukan dengan sumber daya manusia (SDM) unggul agar Indonesia mampu menjadi negara adidaya berbasis pangan dan agroindustri.
"Indonesia sangat kaya, tetapi kekayaan itu harus bertemu dengan SDM yang tangguh. Di situlah peran kampus menjadi sangat penting," kata dia.
Dia mengatakan capaian swasembada pangan Indonesia telah mendapat pengakuan internasional.
Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), serta Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan produksi nasional yang signifikan.
Adapun sejumlah komoditas pangan yang telah mencapai swasembada dan surplus meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Baca juga: Panen raya jagung di Bengkayang perkuat ketahanan pangan keluarga
Mentan menyebutkan stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog hingga awal Juni 2026 bahkan mencapai sekitar 5,3 juta ton, salah satu level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
"Ini bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Ada petani, perguruan tinggi, mahasiswa, TNI, Polri, dan seluruh elemen bangsa. Kita membuktikan bahwa Indonesia tidak harus bergantung pada impor pangan," ujarnya.
Menurut Amran, keberhasilan tersebut membuat Indonesia tidak lagi menjadi pasar utama bagi negara-negara pengekspor beras. Setelah berhasil memperkuat produksi, pemerintah kini mengarahkan fokus pada hilirisasi agar nilai tambah komoditas pertanian dinikmati di dalam negeri.
Ia mencontohkan potensi besar Sulawesi Tenggara yang memiliki keunggulan pada komoditas perkebunan dan dapat menjadi basis pengembangan industri pengolahan.
"Kalau hanya menjual bahan mentah, nilainya kecil. Tetapi kalau misalnya kelapa diolah menjadi virgin coconut oil (VCO), santan, coconut milk, dan produk turunannya, nilainya bisa berkali-kali lipat. Mimpi kita adalah hilirisasi seluruh komoditas sehingga kesejahteraan petani meningkat," jelasnya.
Oleh karena itu, Mentan mengajak Universitas Halu Oleo memperkuat kolaborasi riset dan inovasi bersama Kementerian Pertanian.
Dia meyakini perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam melahirkan teknologi dan sumber daya manusia yang mampu menopang transformasi sektor pertanian nasional.
Dia mencontohkan saat ini Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di Jawa Timur berhasil mengembangkan bahan bakar alternatif bernama Benwit (Bensin Sawit) berjenis biogasoline.
"ITS sudah menghasilkan inovasi minyak sawit menjadi bahan bakar, Benwit (bensin sawit). Saya berharap Universitas Halu Oleo juga bisa berkontribusi melahirkan inovasi baru. Kalau sudah berhasil, kita jadikan industri," katanya.
Mentan menambahkan kekuatan Indonesia berada pada tiga sektor vital, yakni pangan, air, dan energi. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta generasi muda yang inovatif, dia optimistis Indonesia mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia.
"Indonesia punya modal besar. Tinggal bagaimana kita satukan kekayaan alam dengan kualitas SDM. Kalau itu terjadi, Indonesia akan menjadi negara superpower," katanya.
Baca juga: Mentan: Pendapatan petani tumbuh lebih cepat dari biaya produksi





