"Tidak ada pengecualian. Saya katakan, berat bagi saya waktu saya tanda tangan, berat, 'ini orang yang saya angkat, ini orang saya kasih bintang, saya kasih pangkat'."
KALIMAT di atas diucapkan Presiden Prabowo Subianto di hadapan 12.000 penggerak dan mitra MBG (Makan Bergizi Gratis) di Sentul, Bogor, Rabu (3/6/2026). Dicatat Kompas.com (05/06/2026), Presiden mengucapkannya sambil menghela nafas dan terdiam beberapa detik.
Bisa diterka Presiden kecewa berat. Kecewa kepada orang yang semula sangat dibanggakan, dijagokan, bahkan dibela, tetapi ternyata “brengsek”—istilah yang juga dipakai sang presiden di forum tersebut.
Orang itu adalah Dadan Hindayana, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Sebagaimana publik ketahui, Dadan dicopot dari jabatan Kepala BGN bersama dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
Tak lama dari pencopotan itu, tiga mantan pucuk pimpinan BGN ditahan aparat penegak hukum. Diduga ketiganya melakukan tindak pidana korupsi penyimpangan tata kelola MBG tahun anggaran 2025–2026.
Kekecewaan Presiden sangat bisa dipahami. Presiden tentu saja kecewa berat dan marah besar. Betapa tidak!
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, adalah orang pilihan untuk memimpin BGN, lembaga negara yang diamanahi mengelola program prioritas pemerintahan Prabowo, yakni MBG.
Baca juga: Dari Piring Anak hingga Izin Tinggal: Ketika Negara Diperdagangkan
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025, BGN memperoleh alokasi anggaran sekitar Rp 268 triliun pada APBN 2026.
Dari total Rp 268 triliun itu, sekitar Rp 255,58 triliun dialokasikan untuk program pemenuhan gizi nasional atau MBG, sedangkan Rp 12,42 triliun digunakan untuk program dukungan manajemen.
BGN menjadi lembaga negara yang memperoleh kucuran anggaran terbesar. Kementerian dan lembaga lain jauh di bawahnya. Kementerian Pertahanan yang terbesar kedua saja sebesar Rp 187 triliun. Selisih Rp 80 triliun lebih.
BGN sangat diprioritaskan, karena mengelola program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo. Program ini diyakini memiliki landasan ideologis yang sangat kuat.
MBG dibela betul oleh Prabowo, karena dipandang sebagai instrumen cepat untuk mendistribusikan kesejahteraan dan keadilan sosial ketika sebagian besar rakyat Indonesia masih dibelenggu kemiskinan.
Kue pembangunan selama ini hanya dinikmati sedikit orang, maka negara tidak boleh diam, harus bertindak, dan satu di antaranya melalui MBG.
Melalui MBG, ekonomi masyarakat bawah diharapkan juga terdorong untuk tumbuh. Pertumbuhan itu akan berimplikasi juga pada penyerapan tenaga kerja.





