Weton dan Cara Keluarga Jawa Mengingat Hari Lahir

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Ada hal-hal kecil dalam keluarga yang baru terasa maknanya setelah kita dewasa. Salah satunya adalah weton.

Dulu, weton sering muncul dalam obrolan yang sederhana. Tidak selalu dibicarakan dengan suasana serius. Kadang hanya disebut ketika orang tua mengingat hari lahir anaknya. Kadang terdengar saat simbah menyebut pasaran seseorang. Kadang pula muncul ketika keluarga sedang membicarakan kelahiran, hajatan, atau tanggal tertentu yang dianggap penting.

Pertanyaan seperti itu terdengar biasa. Namun di baliknya ada cara lama masyarakat Jawa mengingat waktu. Kelahiran seseorang tidak hanya ditandai dengan tanggal, bulan, dan tahun. Ada hari. Ada pasaran. Ada neptu. Ada susunan waktu yang dulu sangat dekat dengan kehidupan keluarga.

Weton Berawal dari Obrolan Rumah

Bagi sebagian orang, weton mungkin hanya dianggap sebagai hitungan lama. Sesuatu yang pernah akrab dengan orang tua, tetapi terasa jauh dari kehidupan sekarang.

Namun bagi banyak keluarga Jawa, weton bukan sekadar angka. Ia sering menjadi bagian dari ingatan rumah. Ada orang tua yang masih mengingat weton anaknya. Ada simbah yang bisa menyebut pasaran cucunya. Ada keluarga yang mungkin lupa tanggal lengkap sebuah peristiwa, tetapi masih ingat bahwa hari itu jatuh pada Jumat Kliwon, Minggu Pon, atau Rabu Wage.

Ingatan seperti ini menarik. Ia tidak hanya hidup di kalender, tetapi juga di kepala keluarga.

Weton menjadi semacam tanda kecil. Ia menghubungkan seseorang dengan hari lahirnya, dengan cerita keluarga, dan dengan cara lama orang Jawa membaca waktu.

Hari, Pasaran, dan Neptu

Dalam tradisi Jawa, weton lahir dari pertemuan antara hari tujuh dan pasaran lima. Hari tujuh adalah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Pasaran lima adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Dari pertemuan keduanya, muncullah susunan seperti Senin Legi, Selasa Pahing, Rabu Pon, Jumat Kliwon, dan seterusnya.

Di dalam weton, orang juga mengenal neptu. Neptu adalah angka yang melekat pada hari dan pasaran. Dalam masyarakat lama, neptu sering dipakai dalam berbagai pertimbangan tradisional.

Namun semua itu tidak perlu dibaca dengan tegang. Hari, pasaran, dan neptu bisa dipahami sebagai bagian dari pengetahuan budaya. Ia menunjukkan bahwa masyarakat Jawa punya cara sendiri untuk menandai kelahiran dan membaca hari.

Dari Kalender Dinding ke Layar Digital

Dulu, orang bisa mengetahui weton dari kalender Jawa yang tergantung di rumah. Kalender seperti itu biasanya tidak hanya memuat tanggal Masehi, tetapi juga pasaran, tanggal Jawa, bahkan kadang wuku.

Di banyak rumah, kalender dinding pernah menjadi benda sehari-hari. Orang melihat tanggal, mencatat acara keluarga, mencari hari tertentu, sekaligus membaca pasaran.

Sekarang, keadaan berubah. Tidak semua rumah masih menyimpan kalender Jawa lengkap. Anak muda lebih sering melihat tanggal lewat ponsel. Jadwal keluarga berpindah ke aplikasi. Catatan ulang tahun masuk ke pengingat digital.

Namun rasa ingin tahu tentang weton tidak hilang begitu saja.

Sekarang, ketika kalender Jawa tidak selalu tersedia di rumah, sebagian orang memilih mencari tahu hari dan pasaran kelahiran lewat ruang digital untuk memahami kembali weton dari tanggal lahir.

Perubahan ini tidak selalu berarti tradisi hilang. Kadang tradisi hanya pindah tempat.

Dari kalender dinding ke layar ponsel.

Dari obrolan simbah ke pencarian digital.

Dari ingatan keluarga ke rasa ingin tahu generasi sekarang.

Tidak Perlu Dibaca sebagai Vonis

Salah satu hal yang perlu dijaga dalam membicarakan weton adalah cara membacanya. Weton sering kali terlalu cepat dikaitkan dengan ramalan atau kepastian nasib. Akibatnya, sebagian orang merasa takut. Sebagian lain langsung menolaknya karena dianggap kuno.

Padahal, weton tidak harus ditempatkan di dua sisi ekstrem itu.

Ia bisa dibaca sebagai bagian dari warisan budaya. Sebagai cara memahami bagaimana orang Jawa dahulu menandai waktu, mengingat kelahiran, dan menyusun percakapan tentang hari.

Hari lahir bisa menjadi tanda. Pasaran bisa menjadi bagian dari tradisi. Neptu bisa menjadi sistem hitungan budaya. Namun hidup manusia tetap lebih luas daripada hitungan apa pun.

Seseorang tetap dibentuk oleh pilihan, pengalaman, keluarga, pendidikan, lingkungan, usaha, doa, dan cara membawa diri.

Karena itu, weton lebih sehat dibaca sebagai bahan mengenal tradisi, bukan sebagai vonis hidup.

Ingatan Budaya yang Masih Dicari

Weton masih dicari karena ia dekat dengan rumah. Ia mengingatkan orang pada obrolan keluarga, kalender yang pernah tergantung di dinding, suara orang tua, dan pertanyaan kecil yang dulu mungkin tidak terlalu diperhatikan.

Ada yang mencarinya karena ingin tahu hari lahirnya menurut hitungan Jawa. Ada yang ingin memahami pasaran. Ada yang penasaran dengan neptu. Ada pula yang mencari karena pernah mendengar istilah itu dari keluarga, tetapi belum sempat memahaminya.

Rasa ingin tahu seperti itu penting. Dari sana, tradisi bisa dikenali kembali tanpa harus dibaca dengan rasa takut.

Barangkali, weton bertahan bukan karena semua orang memahaminya secara lengkap. Ia bertahan karena masih ada yang bertanya. Masih ada yang ingin tahu. Masih ada yang merasa bahwa bagian kecil dari tradisi keluarga tidak seharusnya hilang begitu saja.

Pada akhirnya, weton bukan hanya tentang hitungan.

Ia juga tentang hari lahir.

Tentang pasaran.

Tentang keluarga.

Tentang cara orang Jawa mengingat waktu dengan lebih pelan.

Mugi Rahayu Sagung Dumadi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Destinasi Apa yang Menarik Dikunjungi di Kawasan Blok M?
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Akhir Pelarian Pelaku Pelecehan Buronan AS di Bunker Sawangan
• 11 jam laludetik.com
thumb
Pembunuhan Tukang Cilok di Tangerang Dipicu Dendam, Pelaku Ayah dan Anak
• 8 jam laludetik.com
thumb
Megawati Soekarnoputri Membuka Pameran "Mata Hati Soekarno" untuk Memperingati 125 Tahun Kelahiran Sang Proklamator
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Tanggapan Mensesneg terhadap Usulan Menteri HAM soal Kalangan Sipil Bisa Isi Jabatan di Polri
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.