Industri musik digital di Indonesia tengah mengalami pergeseran yang luar biasa. Berdasarkan data yang dihimpun dari Spotify, terlihat fenomena di mana musik lokal kini mendominasi telinga pendengar domestik secara masif.
Tren ini berbanding terbalik dengan popularitas musik Barat dan K-Pop yang justru longsor secara kuantitas di tangga lagu terpopuler.
Data menunjukkan, ada titik balik signifikan antara tahun 2019 dan 2020. Sebelum periode tersebut, lagu-lagu dari Amerika Serikat secara konsisten mendominasi pasar Indonesia.
Namun, sejak 2020 hingga proyeksi Mei 2026, dominasi lagu Indonesia meroket tajam hingga menyentuh angka hampir 50 lagu di daftar teratas. Sementara itu, lagu-lagu Barat terus merosot drastis hingga berada di angka di bawah 10 lagu.
Menanggapi fenomena ini, Aldo Sianturi sebagai konsultan bisnis musik dan pengamat musik, menyebut penurunan ini bukan berarti musik luar negeri tidak lagi diminati, melainkan karena ada perubahan cara konsumsi.
"Yang sebenarnya terjadi bukan K-pop atau musik Barat menjadi tidak laku, melainkan terjadi fragmentasi perhatian pendengar," kata Aldo kepada kumparan, Jumat (5/6).
Ia menjelaskan, di era digital ini, algoritma membuat individu hidup dalam "dunia musiknya" sendiri, sehingga dominasi satu genre besar tidak lagi sekaku dulu.
"Musik Indonesia mengalami peningkatan kualitas yang sangat signifikan. Pendengar kini tidak lagi merasa harus mencari musik dari luar negeri untuk mendapatkan produksi yang bagus," tutur Aldo.
Ketika musisi lokal mampu menawarkan kualitas dengan standar internasional, dan tetap membawa kedekatan bahasa dan budaya, publik secara alami akan beralih ke karya domestik.
Faktor EmosionalSelain faktor kualitas produksi, karakter pendengar Indonesia yang sangat emosional memainkan peran kunci. Berdasarkan analisis Aldo, masyarakat cenderung mencari lagu yang mampu mewakili perasaan atau kisah hidup mereka.
"Pendengar Indonesia pada dasarnya adalah pendengar yang sangat emosional dan sangat relasional. Mereka tidak mencari lagu yang paling canggih secara teknis; mereka mencari lagu yang terasa seperti menceritakan hidup mereka sendiri," ucap Aldo.
Data grafik Top Artists di Spotify turut mendukung argumen ini. Sejak November 2021, jumlah artis lokal yang masuk dalam daftar unggulan Spotify Indonesia konsisten naik dari angka 20-an menjadi hampir 40 artis.
Hal ini membuktikan ada loyalitas pendengar terhadap personifikasi musisi dalam negeri. Sebaliknya, posisi musik K-Pop dan Barat justru terlihat fluktuatif dan musiman.
Meski K-Pop sering dibicarakan di media sosial, secara kuantitas di daftar Top Songs, posisinya masih jauh di bawah musik lokal dan musik Amerika Serikat.
Lebih lanjut, musik di Indonesia kini telah menjadi bagian dari identitas sosial. Aldo mencatat, masyarakat mengonsumsi musik sebagai alat bersosialisasi, mulai dari menjadi soundtrack konten di media sosial hingga dinyanyikan bersama saat konser.
"Lagu yang berhasil menciptakan rasa biasanya memiliki umur yang lebih panjang," ucap Aldo.
Fenomena yang Harus Disambut BaikSenada dengan Aldo, Dzulfikri Putra Malawi selaku Founder WaraMusika dan Asisten Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Kreatif, mengungkap bahwa fenomena musisi lokal merajai tangga Spotify perlu disambut baik.
"Ini fenomena yang harus disambut baik dan diapresiasi untuk semua pihak; pencipta lagu, performer, pendengar, platform, dan stakeholder lainnya. Artinya musik pop Indonesia mampu menjangkau pendengar lebih luas dan lintas generasi jika didistribusikan dengan baik Sehingga musik-musik yang relate dengan pendengar jadi mudah diakses," kata Fikri dalam wawancara terpisah.
Fikri berharap, platform sebagai agregator dalam industri punya komitmen untuk terus menjaga kualitas musik Indonesia yang akan tampil di pasar global.
"Semoga platform juga bisa berkomitmen untuk menjaga algoritmanya merekomendasikan musik-musik Indonesia yang berkualitas dan lebih luas lagi secara global," kata Fikri.
Industri musik Indonesia sedang berada di masa keemasannya. Ketergantungan terhadap musik Barat dan global telah berkurang secara drastis dalam lima tahun terakhir. Jika tren terus berlanjut hingga akhir tahun 2026, Indonesia akan memiliki pasar musik yang sangat mandiri.
Musisi lokal bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi tuan rumah di platform streaming negeri sendiri, mengungguli raksasa global dari Amerika maupun Korea Selatan.





