Bagaimana Menjadi Lansia Sehat, Bahagia, dan Mandiri?

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana kondisi lansia di Indonesia?
  2. Mengapa kesejahteraan menurun saat lansia?
  3. Apa saja kunci sehat di usia senja?
  4. Apa tips agar lansia bahagia?
  5. Bagaimana tetap produktif dan mandiri saat lansia?
Bagaimana kondisi lansia di Indonesia?

Keberadaan warga lanjut usia atau lansia seringkali hanya dianggap sebagai sosok lemah di hari tua yang tidak perlu dilibatkan langsung dalam pembangunan. Karena itu, keberadaan lansia dianggap sebagai beban keluarga dan masyarakat umum.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menegaskan, warga lansia, terutama perempuan lansia, sering berada dalam posisi kurang terlihat. Banyak dari mereka hidup dalam ketergantungan ekonomi, mengalami penurunan kesehatan, kehilangan pasangan hidup, hidup sendiri, atau tak punya sistem dukungan keluarga yang kuat.

Kondisi itu dapat meningkatkan risiko penelantaran, diskriminasi, eksploitasi, bahkan kekerasan domestik dan kekerasan berbasis jender. Banyak warga lansia jadi korban diskriminasi keluarganya sendiri. Banyak mereka yang keberadaannya ditempatkan dalam kamar-kamar sempit dan gelap di belakang rumah, didiamkan dan diajak bicara seperlunya.

Karena itu perhatian terhadap lansia sangat penting karena Indonesia saat ini berada dalam transisi krusial menuju negara dengan struktur penduduk tua (ageing population). Data menunjukkan proporsi lansia meningkat signifikan dari 7,6 persen pada 2010 menjadi 11,9 persen pada 2025, dan diproyeksikan melonjak hampir 20 persen pada 2045.

Pada tahun 2025, ada sekitar 34 juta penduduk lansia atau hampir menyamai jumlah seluruh penduduk Malaysia. Para lansia itu terkonsentrasi di 16 provinsi yang memiliki populasi menua dan menampung sekitar 75 persen penduduk Indonesia.

Namun investasi negara untuk lansia amat terbatas. Lansia terpinggirkan dalam pembangunan. Dalam seremoni pemerintahan di berbagai tingkatan, lansia hampir tak pernah terlihat keberadaannya dibandingkan anak muda. Persoalan ini membuat warga tercerabut dari wawasan, kearifan, dan pengalaman lansia.

Baca JugaWarga Lansia, Rentan Miskin Ekstrem dan Terabaikan
Mengapa kesejahteraan menurun saat lansia?

Satu dari 10 lansia Indonesia hidup dari hasil kerjanya. Kemungkinan mereka terus bekerja sampai usia lanjut jika tak ada bantuan sosial atau jaminan pendapatan. Menurut Sri Moertiningsih Adioetomo, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dalam artikelnya, lansia kita belum bisa hidup dari tabungan atau hasil investasi semasa bekerja.

Sepertiga lain hidup dari santunan anak menantu atau kerabat yang tak mengikat kapan dan berapa besarnya. Guncangan seperti pandemi dan pemutusan hubungan kerja berisiko terhentinya transfer informal seperti ini. Cakupan pensiun dan bansos minimal sekali. (Supas, 2015, diolah Sanjaya, 2016).

East Asia Retirement Survey dengan responden pensiunan dan pra-pensiun sektor formal perkotaan mengindikasikan adanya penurunan ketergantungan pada peranan keluarga. Sekitar 45 persen lansia mengharapkan pemerintah bertanggung jawab untuk jaminan pendapatan masa tua.

Karena itu pengembangan skema jaminan pendapatan masa tua, baik kontributori maupun nonkontributori, perlu dipertimbangkan. Untuk kelompok yang ingin mandiri setelah pensiun, mereka harus mulai menabung dan investasi sejak mulai bekerja. Ini butuh pekerjaan layak penghasilan layak umumnya sektor formal.

Pemerintah harus menciptakan lapangan kerja bagi mereka, sama halnya kelompok yang mengharapkan mantan pemberi kerja yang bertanggung jawab. Ini terkait skema jaminan hari tua yang dibayar patungan antara pemberi kerja dan pekerja. Ditambah skema pensiun yang juga kolaborasi pekerja dan pemberi kerja.

Baca JugaLansia di Rumah Tiga Generasi
Apa saja kunci sehat di usia senja?

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia Siti Setiati mengatakan, Angka kelahiran menurun dan bertambahnya usia harapan hidup warga membuat jumlah warga lansia akan meningkat.

”Tantangan terbesar kita tidak semata-mata menjaga agar lansia bisa hidup lama. Lansia harus hidup sehat, tetap mandiri, aktif, dan bermartabat,” ujar Setiati, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (1/6/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan angka harapan hidup (AHH) penduduk Indonesia kini 74,15 tahun. Namun, angka harapan hidup sehat 60,7 tahun. Hal ini mengindikasikan jutaan lansia berpotensi menghabiskan masa tua dalam kondisi sakit dengan keterbatasan fungsi dan ketergantungan tinggi.

Umumnya warga lansia yang sakit tidak hanya mengalami satu atau dua jenis penyakit tapi bersifat kronis sehingga butuh perawatan jangka panjang antara lain, hipertensi, diabetes, stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Hal ini diperparah meningkatnya angka demensia atau kepikunan bersamaan dengan beberapa penyakit lain.

Menurut Setiati, penyakit serta keterbatasan pada penduduk lansia tersebut tidak boleh dianggap wajar. Penduduk lansia bisa hidup panjang dengan kondisi sehat dan mandiri. Penyakit bisa dicegah atau setidaknya diperlambat perkembangannya.

Kuncinya pada deteksi dini, pola hidup sehat yang dibangun sejak usia muda, serta melakukan pemeriksaan kesehatan yang teratur. Orang lansia sehat dan berkualitas perlu dibangun jauh sebelum seseorang menjadi tua. Penuaan yang sehat harus dibangun sejak usia muda.

Di lain sisi, ekosistem masyarakat ramah lansia harus dibangun dengan baik. Saat ini beberapa faktor perlu diperbaiki, khususnya layanan kesehatan lansia, antara lain penguatan fasilitas kesehatan primer untuk layanan geriatri (penyakit pada orang lansia), penguatan posyandu lansia, kejelasan sistem rujukan pasien geriatri, peningkatan kapasitas pengasuh lansia, dan pengembangan kota ramah lansia.

Baca JugaHadapi 30 Juta Generasi ”Silver”, Layanan Kesehatan Dinilai Belum Memadai
Apa tips agar lansia bahagia?

Menua itu pasti, ketika diberi umur panjang. Pertanyaannya, apakah semua warga lanjut usia bahagia di ujung masa hidupnya? Jawabannya, tergantung pada warga lanjut usia yang bersangkutan serta keluarga dan lingkungan di mana dia tinggal.

Semakin bertambah umur tentu kian banyak risiko dihadapi, terutama dari sisi kesehatan dan kemampuan beraktivitas keseharian. Isu kesehatan lansia tak hanya kesehatan fisik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 14 persen orang berusia 60 tahun ke atas hidup dengan gangguan mental, terutama depresi dan kecemasan.

Banyak lansia tinggal sendiri dan keterlibatan sosial mereka menurun. Apalagi seiring perubahan nilai sosial di masyarakat, perawatan lansia kini dianggap sebagai beban keluarga. Karena itu, perlu ada program berbasis komunitas, misalnya kelompok pendukung, kegiatan kerohanian, kelas kerajinan, dan kegiatan sosial lainnya.

Selain itu, program seperti pos pembinaan terpadu (posbindu) lansia, penyuluhan antidepresi, dan konseling perlu ditingkatkan, termasuk kehadiran sukarelawan atau kader lansia serta dukungan tetangga dalam mengurangi kesepian pada lansia.

”Dengan membangun jejaring sosial dan kegiatan ramah lansia di masyarakat, kita memelihara kesehatan mental mereka sekaligus memperkuat ikatan sosial lintas generasi,” ucap Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Woro Srihastuti Sulistyaningrum beberapa waktu lalu.

Baca JugaNilai Berubah, Perawatan Warga Lansia Masa Depan Tidak Mudah
Bagaimana tetap produktif dan mandiri saat lansia?

Warga lanjut usia pada masa depan harus lebih mandiri mengingat mereka akan tinggal sendiri dan jauh dari anak-anaknya seiring dengan perubahan nilai sosial masyarakat dan tekanan ekonomi pada kelompok usia produktif.

Karena itu, orang tua harus sehat dan tetap aktif sehingga bisa merawat dan mengurus diri sendiri. Dengan kemandirian itu, mereka bisa hidup, berkegiatan harian, mengunjungi layanan kesehatan, atau berwisata secara mandiri tanpa perlu didampingi anak atau orang lain.

Tri Budi Rahardjo, Guru Be­sar Gerontologi (Ilmu tentang Kelanjutusiaan) dari Universitas Respati Indonesia dan juga pendiri Centre for Ageing Studies Universitas Indonesia, menegaskan, lansia berdaya perlu disiapkan sedini mungkin, bahkan sejak usia dini.

Karena itu integrasi nilai-nilai penghargaan terhadap lansia kini mulai dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, termasuk di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD). Tujuannya adalah mewujudkan ekosistem di mana lansia tetap aktif, produktif, dan mandiri secara ekonomi.

Untuk itu, pemerintah diharapkan memberikan perhatian lebih pada aspek ekonomi lansia agar penduduk lansia tidak hanya dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai kelompok yang berdaulat atas hidupnya sendiri. Pemerintah perlu mulai banyak berinvestasi untuk lansia, bukan hanya anak-anak.

Tri Budi menekankan pentingnya menerapkan konsep ”lansia tangguh”. Lansia tangguh mencakup tujuh dimensi kesejahteraan, yaitu dimensi spiritual, intelektual, emosional, fisik, sosial, vokasional, dan lingkungan. Sementara dimensi intelektual diarahkan untuk mempertahankan daya ingat dan mencegah demensia.

Berkaca dari studi ‘Blue Zones’ di sejumlah negara yang memiliki komunitas masyarakat berumur panjang dan sehat, lanjut Faisal, salah satu kunci pendorong panjangnya usia lansia yakni kuatnya dukungan dan interaksi sosial yang membuat mereka senantiasa terhubung dengan yang lain dan hidup dengan tujuan.

Baca JugaSiapkan Lansia Mandiri dan Bermartabat

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ukir Sejarah, BPS-Pos Indonesia Luncurkan Sampul Edisi Sensus Ekonomi 2026
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Wamenhaj: Hampir 17 Ribu Haji Reguler Akan Tempati Hotel Bintang 4 dan 5 di Madinah
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Daftar Juara Polytron Indonesia Open 2026
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Menua di Jakarta: Sudahkah Ramah Lansia?
• 26 menit lalukompas.com
thumb
Menikmati "Sunset" dari Beranda Batam
• 6 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.