Impor minyak China turun menjadi 6,6 juta barel per hari (bph) pada Mei 2026, anjlok 38 persen dibandingkan rata-rata di 2025.
IDXChannel - Impor minyak China turun menjadi 6,6 juta barel per hari (bph) pada Mei 2026, anjlok 38 persen dibandingkan rata-rata di 2025.
Dilansir dari Traders Union pada Minggu (7/6/2026), data dari firma riset Vortexa menunjukkan rata-rata impor minyak China mencapai lebih dari 10 juta bph tahun lalu.
Menurut data firma riset Kpler, impor minyak China terus turun sejak lumpuhnya Selat Hormuz akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Timur Tengah.
Pada April, China mengimpor minyak sebanyak 8 juta bph. Angkanya mencapai sekitar 11 juta bph sebelum perang pecah pada Februari.
Selama lebih dari setahun sebelum AS dan Israel memulai perang dengan Iran, China telah membeli lebih banyak minyak mentah daripada yang dapat dikonsumsi, memanfaatkan harga yang stabil dan diskon untuk minyak mentah yang dikenai sanksi dari Rusia dan Iran.
Negara ini tidak melaporkan angka persediaan, tetapi analis memperkirakannya berdasarkan data impor dan pengoperasian kilang.
Berdasarkan perkiraan tersebut, China terlihat menimbun minyak mentah dengan laju hingga 1 juta bph tahun lalu.
Alhasil, China memiliki cadangan minyak sekitar 1 miliar barel, yang kini dimanfaatkan oleh perusahaan kilang negada itu untuk menutupi kekurangan pasokan.
Menurut banyak analis, pengurangan impor minyak China dan penggunaan cadangan minyak telah membantu mencegah lonjakan harga yang jauh lebih besar pada patokan harga minyak internasional.
Setelah sempat menembus USD120 per barel, harga minyak Brent berada di kisaran USD100 bulan lalu.
Minyak yang tidak dibeli China bisa mengalir ke negara-negara lain, yang tidak memiliki cadangan sebesar Negeri Tirai Bambu tersebut. (Wahyu Dwi Anggoro)





