Rapor Merah Bursa RI, Koreksi IHSG Juni 2026 Paling Tajam di Dunia

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 8,69% selama sepekan menempatkan Bursa Efek Indonesia di zona merah terdalam dibandingkan bursa global lainnya pada awal Juni 2026.

Berdasarkan data statistik mingguan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2 – 5 Juni 2026, indeks komposit terkontraksi 8,69% menuju level 5.594,76 dari penutupan pekan sebelumnya yakni 6.127,38. Kinerja tersebut diikuti penyusutan kapitalisasi pasar bursa sebesar 8,59% menjadi Rp9.807 triliun. 

Jika dibandingkan dengan bursa lainnya, koreksi IHSG merupakan yang terdalam di dunia. Penurunannya jauh melampaui tekanan yang dialami Tel Aviv 35 Index di Israel (-4,26%) dan KOSPI Index di Korea Selatan (-3,72%).  

Sementara itu, bursa utama lainnya bahkan mencatatkan pergerakan yang lebih stabil. SSE Composite RRC, misalnya, terkontraksi 1%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,88%, sedangkan S&P BSE SENSEX India turun 0,73% sepekan.

Di sisi lain, bursa Amerika Serikat (AS) melalui Dow Jones Industrial Average justru melaju positif dengan mencatat penguatan sebesar 1,04%. 

Kondisi cukup kontras juga terlihat di lingkup Asia Tenggara atau Asean. Saat IHSG rontok mendekati 9%, bursa-bursa negara tetangga justru berhasil parkir di zona hijau, seperti indeks PSEI Filipina yang memimpin penguatan regional dengan lonjakan 2,94%, diikuti oleh SET Index Thailand yang naik 0,91%. 

Baca Juga

  • Bukan MSCI, Ternyata Ini Sentimen yang Bikin IHSG Ambles
  • IHSG Pekan Depan Uji Level 5.500, Dibayangi Sentimen Kebijakan & Rupiah
  • Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Pekan Depan, BI Genjot Upaya Stabilisasi

Adapun, kontraksi indeks acuan domestik dipicu oleh aksi jual investor global terutama pada saham-saham berkapitalisasi pasar raksasa (big caps) yang selama ini menjadi motor penggerak pasar modal dalam negeri. 

Sepanjang pekan berjalan, BEI melaporkan investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net foreign sell yang sangat tebal yakni sebesar Rp7,38 triliun. 

Arus modal keluar tersebut berdampak langsung pada pelemahan harga sejumlah saham bluechip, seperti BBCA yang turun 10,96% dalam sepekan, BBRI terkontraksi 7,12%, TLKM melemah 8,91%, dan BRPT ambruk 23,71%.

Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai pemberat utama kinerja IHSG saat ini bukan lagi datang dari isu rebalancing MSCI, melainkan dari pelemahan nilai tukar rupiah dan arah kebijakan pemerintah.

“Sentimen yang memegang peranan paling penting saya lihat bukan hanya MSCI, tetapi rupiah dan arah kebijakan pemerintah. MSCI itu nomor tiga. Nomor satu kebijakan pemerintah karena ini ada political risk,” ucap Ike. 

Menurutnya, di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami ketakutan ekstrem, faktor fundamental emiten untuk sementara waktu tidak lagi memiliki pengaruh yang besar. Pasar cenderung melakukan aksi jual masif (sell off) lantaran pergerakan indeks telah menembus batas psikologisnya. 

Belum lagi, pasar secara umum saat ini dibayangi oleh kinerja mata uang rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pekan ini.

“Pemberat yang paling utama itu adalah arah kebijakan dan nilai tukar rupiahnya. Nah, rupiah itu bisa kita katakan sebagai induk ekonomi. Jadi pada saat rupiah mengalami pelemahan, sektor farmasi yang tidak masuk di dalam indeks MSCI pun bisa ikut mengalami penurunan,” pungkasnya.

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa otoritas fiskal dan moneter telah memperkuat koordinasi yang berfokus untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui dua langkah utama.

Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik guna menjaring kembali arus modal asing. Perry mengakui tren kenaikan suku bunga global telah memicu outflows dari berbagai instrumen investasi domestik, mulai dari pasar saham hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

“Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).

Langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di BI. Upaya tersebut juga disertai dengan peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan oleh bank sentral kepada pemerintah. 

Perry menilai kombinasi dari kedua kebijakan tersebut akan memperkuat efektivitas operasi moneter, sekaligus mendukung kebijakan fiskal dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional.

“Dua hal itu yang kami lakukan. Yang kami sepakat ini akan terus kita lakukan. Penguatan koordinasi fiskal yang sudah kuat selama ini sekarang diperkuat dan secara berkesinambungan terus akan diperkuat,” ucap Perry.

PULIHKAN KEPERCAYAAN 

Sementara itu, Otoritas bursa mengaku gencar melakukan pendekatan terhadap komunitas investasi internasional guna mengembalikan kepercayaan pasar dan menggairahkan kembali aktivitas transaksi di pasar modal Indonesia.

Langkah proaktif BEI juga diwujudkan melalui serangkaian pertemuan tatap muka dengan sejumlah perwakilan kelompok investor global serta agenda roadshow ke berbagai institusi bursa di luar negeri.

Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa pihaknya telah menggelar pertemuan sedikitnya dua kali dengan kelompok investor global. Pertemuan itu dilakukan untuk memaparkan berbagai upaya stabilisasi dan penguatan pasar yang tengah berjalan. 

Selain itu, BEI menyerap berbagai aspirasi dan masukan dari para pengelola dana global demi memetakan arah pengembangan pasar modal ke depan.

“Paling tidak sudah ada dua kali pertemuan antara kami dengan kelompok investor global untuk menyampaikan apa yang sudah kita lakukan,” ujarnya saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Jeffrey menyatakan bahwa BEI berkomitmen penuh untuk memulihkan kepercayaan investor terhadap integritas pasar modal Indonesia. Guna mencapai target tersebut, BEI turut memperkuat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam merumuskan kebijakan yang suportif. 

“Tentu kami bersama-sama melakukan segala upaya yang bisa kita lakukan untuk bisa memulihkan kepercayaan tersebut,” pungkasnya.

Senada, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan bahwa bursa saat ini tengah melancarkan aksi roadshow secara masif. Penetrasi ini tidak hanya menyasar ceruk pasar domestik, melainkan juga membidik basis investor institusi di luar negeri.

Melalui penjajakan kerja sama dengan beberapa bursa efek internasional dan perusahaan perantara pedagang efek (brokerage firm) asing, BEI berupaya membuka jalur penyerapan kapital yang lebih luas bagi para calon emiten.

“Kami roadshow untuk mengambil demand side, baik di internal, domestik kita maupun ke luar negeri. Kami sudah bertemu dengan beberapa stock exchanges di luar untuk kerja sama, termasuk dari sisi brokerage firm asing,” tuturnya.  

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KKP Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Jaga Laut, Pengelolaan Sampah Jadi Prioritas
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Pelamar PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Harus Siap Tinggal di Asrama, Begini Sistem Kelulusannya
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Manfaat Tomat untuk Kesehatan Wajah, Salah Satunya Mencegah Penuaan
• 11 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Imigrasi Bongkar Kasus Love Scamming di Semarang, 4 WN China Ditangkap
• 8 jam laludetik.com
thumb
Kemnaker Gandeng Dunia Usaha Buka Peluang Kerja bagi Lansia, Begini Cara Daftarnya
• 17 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.