Skizofrenia dan Kekerasan, Antara Fakta dan Stigma yang Memperburuk Keadaan

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Masih banyak anggapan yang mengaitkan antara orang dengan gangguan jiwa dan kecenderungan pada perilaku kekerasan. Hal itu membuat stigma pada orang dengan gangguan jiwa semakin besar.

Pada Februari 2026 lalu, sebuah berita muncul mengenai seorang pemuda yang bertindak kekerasan pada tiga warga di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pemuda tersebut diketahui mengalami gangguan kesehatan jiwa. Sebelumnya, pada November 2025, seorang pemuda dengan gangguan kesehatan jiwa diberitakan pula menganiaya ibunya di Nunukan, Kalimantan Utara.

Berita-berita tersebut biasanya memunculkan reaksi publik yang menguatkan stigma pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Orang dengan gangguan jiwa dianggap sebagai pribadi yang menakutkan dan berbahaya. Seringkali stigma-stigma tersebut juga diberikan pada orang dengan skizofrenia yang merupakan gangguan kesehatan jiwa berat.

Baca JugaSkizofrenia dan Frustrasi pada Perempuan Jadi Pemicu Joel Cauchi Targetkan Perempuan
Baca JugaSkizofrenia dan Gangguan Bipolar Dapat Dideteksi Bertahun-Tahun Sebelumnya

Namun, apakah benar jika orang dengan gangguan kesehatan jiwa, termasuk skizofrenia mudah melakukan perilaku kekerasan? Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren dihubungi di Jakarta, pada Minggu (7/6/2026), mengatakan, kondisi yang sebenarnya justru berkebalikan dengan stigma tersebut.

Skizofrenia bukan sinonim dari kekerasan. Yang berbahaya bukan diagnosisnya, tetapi faktor risiko yang tidak dikenali dan tidak ditangani.

Sebagian besar orang dengan skizofrenia tidak pernah melakukan kekerasan. Orang dengan skizofrenia justru lebih sering ditemukan menjadi korban kekerasan. Tidak jarang orang dengan kondisi tersebut mengalami diskriminasi, penelantaran, dan eksploitasi dari orang-orang di sekitarnya.

“Skizofrenia bukan sinonim dari kekerasan. Yang berbahaya bukan diagnosisnya, tetapi faktor risiko yang tidak dikenali dan tidak ditangani. Risiko kekerasan hanya meningkat pada kelompok tertentu dengan faktor risiko tambahan yang spesifik,” tutur Lahargo.

Merujuk pada meta analisis terbaru, Lahargo menyampaikan, risiko perilaku kekerasan pada orang dengan skizofrenia tidak terjadi pada semua pasien. Risiko tertinggi hanya ditemukan pada kelompok dengan faktor risiko spesifik. Itu seperti pasien dengan waham curiga, halusinasi perintah, penyalahgunaan zat, dan ketidakpatuhan dalam minum obat.

Waham curiga atau persecutory delusion pada orang dengan skizofrenia muncul karena pasien merasa ada yang mengikutinya. Sejumlah pasien juga sering merasa dirinya disadap, diracun, akan dibunuh, atau ada yang ingin berbuat jahat.

“Karena merasa terancam, pasien dapat melakukan tindakan agresif sebagai bentuk membela diri. Mereka memukul orang lain karena mereka yakin ada yang mau membunuhnya,” kata Lahargo.

Baca JugaMemahami Skizofrenia dari Karya Sastra
Baca JugaBerdaya dengan Skizofrenia

Perilaku tersebut juga bisa muncul karena orang dengan skizofrenia mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya. Suara itu bisa saja memerintahkan mereka untuk menyerang seseorang, membakar sesuatu, atau melakukan tindakan bahaya lainnya.

Tidak semua orang dengan skizofrenia mengikuti perintah tersebut. Namun, risiko dari tindakan itu akan meningkat jika pasien mempercayai suara tersebut. Hal itu terutama jika pasien memiliki kesadaran diri (insight) yang buruk dan tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.

Menurut Lahargo, ketidakpatuhan pasien dalam minum obat menjadi faktor paling menentukan perilaku berbahaya yang bisa dilakukan oleh orang dengan skizofrenia. Banyak kasus orang dengan skizofrenia melakukan tindakan kekerasan karena terlambat mengonsumsi obat.

Hal itu membuat kondisi pasien menjadi tidak stabil. Skizofrenia merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan rutin, sama seperti penyakit kronis lain seperti diabetes dan hipertensi. Jika tidak mengonsumsi obat rutin, kondisi penyakit tidak terkontrol.

Orang dengan skizofrenia yang tidak minum obat berisiko mengalami kekambuhan pada gejala psikotik, waham dan halusinasi memburuk, serta kontrol yang menurun. Data Kementerian Kesehatan melalui survei Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa 85 persen penderita mendapatkan obat secara rutin.

Baca JugaKesehatan Jiwa Remaja
Baca JugaKesehatan Jiwa Indonesia Pascapandemi

Namun, hanya 48,9 persen yang rutin minum obat dalam satu bulan terakhir. Beberapa alasan tidak rutin minum obat diantaranya merasa sudah sehat, tidak rutin berobat, tidak mampu membeli obat secara rutin, tidak tahan efek samping obat, sering lupa minum obat, merasa dosis tidak sesuai, dan obat tidak tersedia.

Kesadaran lingkungan

Lahargo menuturkan, dukungan dari orang sekitar juga diperlukan bagi orang dengan skizofrenia. Keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan perlu mengetahui kondisi orang dengan skizofrenia. Tanda-tanda awal perlu disadari dengan baik untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan pada orang dengan skizofrenia.

Pada fase awal, orang dengan skizofrenia biasanya menunjukkan gejala, seperti gelisah, sering mondar-mandir, sulit diam, serta menunjukkan tatapan tajam. Pada fase kedua biasanya sudah cenderung berbicara dengan nada keras, mudah tersinggung, tangan sering mengepal, dan menendang benda.

Pada fase ketiga mulai muncul ancaman verbal seperti mudah memaki, mengancam, dan menunjuk-nunjuk dengan emosi marah. Sementara pada fase keempat sudah terjadi kekerasan fisik. Mengenali tanda awal dari gejala tersebut merupakan kunci untuk mencegah tindakan yang berbahaya.

Lahargo menyampaikan, risiko kekerasan akan meningkat jika sudah muncul waham curiga berat, halusinasi perintah, tidak minum obat, ada riwayat kekerasan sebelumnya, serta kurangnya kesadaran akan penyakit. Pengobatan yang teratur serta dukungan keluarga dan rehabilitasi psikososial dapat mencegah perilaku kekerasan pada skizofrenia.

Baca JugaPemasungan Masih Berlangsung
Baca JugaStop Pemasungan, Bangun Keadaban

“Yang perlu ditakuti bukan orang dengan skizofrenia, tetapi skizofrenia yang tidak diobati. Karena dengan pengobatan yang baik maka skizofrenia bisa dipulihkan. Namun stigma justru hanya akan memperburuk keadaan,” ujarnya menambahkan.

Pemasungan

Secara terpisah, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menuturkan, kondisi skizofrenia tidak terlepas dari persoalan pemasungan yang masih banyak ditemukan di Indonesia. Kasus pemasungan yang dilaporkan pun meningkat dari tahun ke tahun.

Secara berturut-turut, angka kasus pemasungan meningkat dari tahun 2023-2025, yakni 981 kasus, 1.794 kasus, dan 2.442 kasus. Pada triwulan pertama tahun 2026 telah tercatat setidaknya 1.443 kasus pemasungan.

Imran mengatakan, kesenjangan layanan yang menjadi akar masalah penanganan pada orang dengan gangguan jiwa di Indonesia mesti diatasi. Pemerintah telah menargetkan pada 2029, seluruh puskesmas bisa memberikan layanan jiwa. Saat ini baru sekitar 6.000 puskesmas atau 58 persen puskesmas yang mampu memberikan layanan tersebut.

Selain itu, distribusi obat jiwa perlu diperluas ke seluruh puskesmas di Indonesia. Hal ini diperlukan untuk memastikan seluruh pasien dengan gangguan kesehatan jiwa bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Jika obat bisa didapatkan dengan mudah, orang dengan gangguan kesehatan jiwa bisa mengonsumi obat dengan rutin. Kondisinya pun bisa terkontrol sehingga risiko pemasungan bisa dicegah.

“Kita harus mengakhiri tindakan pemasungan. Kita harus pastikan setiap orang dengan skizofrenia bisa mendapatkan perawatan yang tepat, obat tersedia, serta memberikan mereka kesempatan untuk pulih dan berkontribusi dalam komunitas,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejak Pekan Lalu Diajak Berkomunikasi, Said Iqbal Akan Dilantik Jadi Penasihat Presiden
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Janggal! KPK Ungkap Silmy CS Panik, Beli Rumah Pakai Kepingan Emas Sembunyikan Hasil Pemerasan
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Dispendukcapil Surabaya Buka Layanan Aktivasi IKD Setiap CFD di Taman Bungkul
• 13 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mensos: 93 Gedung Permanen Sekolah Rakyat Dibangun, Tahun Depan 100 Unit
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Pemprov DKI Buat Lomba Pilah Sampah untuk Hotel-Kafe, Hadiahnya Insentif Pajak
• 10 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.