Pelemahan Rupiah Rentan ke Rp19.000 pada Akhir Juni 2026

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan spekulasi kebijakan suku bunga ketat The Fed membuat mata uang rupiah dibayangi risiko pelemahan hingga berisiko tembus Rp19.000 per dolar AS. 

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa secara teknikal, indeks dolar AS berpotensi menguat tajam dalam sepekan ke depan dengan bergerak di rentang batas bawah 99 hingga batas atas 101.00. Penguatan ini diyakini akan memperlemah mata uang Garuda di pasar spot.

Untuk jangka pendek atau sepekan depan, rupiah diperkirakan bakal ditransaksikan pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS. Namun, volatilitas pasar dapat meningkat tajam jika sentimen global tak mereda. 

“Kalau gejolak geopolitik ini masih akan terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, di akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99% itu akan di Rp19.000,” pungkas Ibrahim dalam keterangan resminya, Minggu (7/6/2026).

Ibrahim memaparkan terdapat dua faktor fundamental utama yang menjadi motor penggerak fluktuasi indeks dolar dan menekan mata uang regional. 

Faktor pertama adalah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat melakukan penyerangan terhadap fasilitas radar di Selat Hormuz, yang kemudian memicu aksi balasan dari Iran.

Tensi yang meninggi di jalur perdagangan logistik internasional tersebut diperkirakan menyulitkan terjadinya gencatan senjata dalam waktu dekat. 

Bahkan, gangguan pada jalur distribusi minyak dunia ini diproyeksi bisa mengerek harga minyak mentah jenis WTI kembali ke US$101 per barel, yang pada gilirannya semakin memperkuat posisi dolar AS sebagai safe haven.

Faktor fundamental kedua datang dari kebijakan moneter AS. Rilis data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan performa yang solid, sehingga memperkuat indikasi bahwa Bank Sentral AS tidak hanya akan mempertahankan suku bunga di level tinggi, tetapi juga membuka ruang kenaikan suku bunga lanjutan.

Pasar berekspektasi The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2026. 

Skenario pengetatan moneter itu dinilai menjadi pendorong utama bagi investor global untuk terus menarik modalnya dari negara berkembang (emerging markets) dan mengalokasikannya ke dalam aset berdenominasi dolar AS.

 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono: Pulau Sampah di Muara Angke Dibersihkan dalam Waktu 3 Hari
• 5 jam laludisway.id
thumb
BPOM Temukan Jutaan Produk Kosmetik Impor Ilegal Senilai Rp 27,6 Miliar
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Trump Tiba-Tiba Incar Harta Iran, Negosiasi Damai Terancam Buyar
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polisi Selidiki Dugaan Adanya Unsur Pidana Kasus Wanita Tewas di Kamar Indekos
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Kuasa Hukum Sony Sonjaya Sebut Kliennya Punya Bukti di HP terkait Pihak-Pihak di Balik Kasus MBG
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.