Bisnis.com, MAKASSAR - PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) memacu peningkatan kualitas layanan maritim di kawasan alur pelayaran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Tujuannya guna memperkuat keselamatan operasional kapal sekaligus menjaga kelancaran arus logistik nasional.
Sebagai operator jasa pemanduan dan penundaan kapal, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo ini mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital, salah satunya melalui integrasi sensor dan sistem telemetri.
Teknologi ini berfungsi mengumpulkan data, mengukur jarak jauh, serta melaporkan informasi secara otomatis dari perangkat di lapangan ke sistem pusat demi pemantauan operasional secara real-time.
Direktur Operasi dan Teknik PJM Edward D. P. Napitupulu menjelaskan bahwa implementasi telemetri ditujukan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat di lapangan. Terlebih, wilayah Samarinda memiliki karakteristik operasional yang menantang dengan densitas aktivitas pelayaran yang tinggi di sepanjang alur Sungai Mahakam.
"Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, disiplin terhadap prosedur, dan komitmen seluruh insan operasional, kami optimis dapat terus meningkatkan kualitas layanan serta mendukung kelancaran arus logistik nasional melalui perairan Samarinda," ujar Edward melalui keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).
Selain aspek teknologi, Edward menambahkan bahwa PJM secara berkelanjutan melakukan identifikasi risiko, pelaksanaan safety briefing, evaluasi insiden dan near miss, serta peningkatan koordinasi antarunsur operasional.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Operasi Pelindo Prasetyadi menegaskan bahwa keselamatan kerja merupakan fondasi utama dalam menjaga keandalan layanan kepelabuhanan. Oleh karena itu, penguatan budaya keselamatan di seluruh lini operasional wajib berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan.
Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung target Pelindo dalam menciptakan layanan maritim yang aman, andal, dan berkelas dunia, sekaligus memperkuat kepercayaan para pengguna jasa.
“Service excellence dan keselamatan kerja bukanlah dua hal yang dapat dipisahkan. Keduanya harus ditopang oleh kompetensi, profesionalisme, integritas, serta kepatuhan terhadap prosedur. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam menjaga keselamatan operasional pemanduan,” kata Prasetyadi.
Di tengah upaya standardisasi keselamatan secara nasional, wilayah kerja Samarinda menorehkan capaian positif. Melalui penguatan mitigasi risiko, khususnya pada area di pengolongan Jembatan Mahakam, PJM mengklaim berhasil menekan jumlah insiden property damage hingga 75% dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Keberhasilan menekan angka kecelakaan kerja ini dinilai menjadi bukti bahwa kedisiplinan operasional, pengawasan yang konsisten, dan kepatuhan terhadap prosedur mampu memperbaiki aspek keselamatan kerja di sektor maritim.





