Bisnis.com, JAKARTA — Sektor manufaktur tengah dihadapkan tantangan di balik minimnya pasokan gas industri dan melonjaknya biaya energi di tengah pelemahan rupiah yang tengah terjadi.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa apabila ketidakpastian pasokan gas tersebut tidak segera tertangani, dikhawatirkan bakal berpotensi menahan ekspansi modal sekaligus menggerus daya saing industri domestik.
Pasalnya, tambah Rendy, keterbatasan volume alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) memaksa pelaku usaha membeli gas alternatif dengan harga tinggi mencapai US$11,5 hingga US$15 per MMBTU.
"Menurut saya, risiko yang lebih perlu diwaspadai adalah deindustrialisasi secara bertahap. Ketidakpastian pasokan dan tingginya biaya energi dapat menahan ekspansi investasi serta mengurangi daya saing industri nasional," ujar Yusuf kepada Bisnis, dikutip Minggu (7/6/2026).
Yusuf menambahkan, beban operasi juga dilaporkan makin membengkak bagi sektor padat energi seperti industri keramik. Di mana, porsi biaya energi kini meroket ke kisaran 33% hingga 35% dari total struktur biaya produksi.
Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto menjelaskan bahwa dinamika pasokan gas industri memang menjadi salah satu tantangan yang saat ini tengah dihadapi.
Edy menuturkan bahwa kemampuan suplai industri yang disalurkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) sepanjang tahun ini baru mencapai 45% dari total kebutuhan.
“Lima bulan di tahun ini, suplai gas dari PGN untuk HGBT itu di bawah rata-rata. Itu hanya di range 40% sampai 45% yang [bisa dibeli] dengan menggunakan harga US$ 7 dollar. Selebihnya kami harus membayar dengan harga regasifikasi LNG yang amat sangat mahal,” ujarnya.
Edy memberikan gambaran, harga regasifikasi LNG didapatkan para pelaku industri di harga US$21 dolar per MMBTU. Sehingga, secara rata-rata total biaya energi yang dikeluarkan mencapai US$15 MMBTU, membuat biaya produksi mengalami kenaikan.
Kendati demikian, Edy memastikan kenaikan biaya produksi tersebut belum sampai dirasakan ke level konsumen.
Hal itu dilakukan lantaran mempertimbangkan daya beli masyarakat dan daya saing produk keramik dari gempuran produk impor murah. Dampaknya, margin penjualan dilaporkan mengalami penipisan hingga 4%.
“Kalau kita lihat dengan kondisi hari ini ya kita akan mengurangi margin. Ini akan tergerus sekitar 3% sampai 4%. Itu besar, karena mayoritas industri ini margin-nya paling hebat berapa sih? Paling ya 9-10%,” pungkasnya.





