Pulang ke Rumah Emosional Bernama Fandom

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Di tengah kemelut ketidakpastian ekonomi—rupiah melemah, pengangguran melebar luas—atau keresahan politik, beberapa anak muda mengisi algoritma media sosialnya dengan debat teori One Piece atau berdiskusi mengenai idol K-Pop favoritnya. Lantas, mengapa anak-anak muda ini jauh lebih gemar tenggelam dalam dunia fiksi daripada membahas urgensi masa depan? Ya, Selamat datang di fandom, tempat di mana penggemar pop culture atau karya dan figur tertentu bertemu, melebur jadi satu.

Fandom adalah ruang berkumpulnya penggemar lintas dunia dari satu kegemaran atas produk budaya yang sama, seperti musisi, figure, series, klub, hingga grup K-Pop. Di dalamnya, mereka membahas segala hal yang berkaitan dengan produk budaya masing-masing sampai larut malam.

Aktivitas yang umumnya dilakukan di kalangan fandom adalah berdebat teori, seperti One Piece yang tak kunjung tamat dan menyimpan pelbagai misteri. Selain itu, ada yang berdiskusi santai sekaligus sarkas terhadap series kesukaan mereka sendiri, seperti fandom Star Wars yang masih kecewa dengan sekuel trilogi di bawah Disney. Namun, yang menjadi favorit saya pribadi adalah ship-war yang berupa perdebatan panjang antara satu pasangan pilihan penggemar dengan pasangan yang lain.

Kehidupan di fandom penuh dengan aktivitas hangat dan dingin di saat-saat tertentu. Beberapa fandom juga dapat menjadi kawat berduri yang melukai anggotanya sendiri karena iklimnya yang toxic. Namun, terlepas dari berbagai masalah kontemporer, fandom juga dapat menjadi tempat singgah yang nyaman ibarat tongkrongan. Batasannya tidak lagi rekan kuliah atau teman depan kompleks, tapi orang asing dari negeri yang jauh dan disatukan atas kesamaan sebagai penggemar. Bahkan, fandom dapat menjadi alternatif paling terjangkau bagi anak muda, khususnya Gen-Z, yang kerap kehilangan rumah emosionalnya.

Ini Bukan Sekadar Hiburan, Juga Mencakup Fungsi Sosial

Fandom sering diremehkan oleh generasi yang lebih tua sebagai permainan anak-anak. Padahal, fandom juga dapat menciptakan ruang interaksi digital yang mencakup beberapa kegunaan atau fungsi. Fungsi yang paling terlihat jelas adalah terbentuknya komunitas digital yang tak kalah besar dari komunitas berbasis offline. Komunitas digital ini yang membantu seorang individu untuk membentuk identitas pribadi. Di tengah dunia nyata yang semakin individualistis, fandom dapat memfasilitasi kebersamaan, meskipun terbentuk secara digital.

Melalui fandom, penggemar dapat bebas mengemukakan argumennya sendiri dari hal yang mereka cintai bersama. Meskipun perdebatan kerap membawa ketegangan, para anggota fandom patutnya juga memberikan aturan demi mencegah potensi konflik yang luas. Dengan begitu, fandom dapat berperan sebagai ruang sosial yang mengayomi anggotanya dalam kebebasan interaksi. Di dalam fandom, anggota dapat berbagi pengalaman, membagikan karya fanart, menulis fanfiction yang dapat dinikmati oleh setiap anggota. Aktivitas ini bukanlah suatu bentuk pasif, tapi perwujudan aktivitas sosial.

Meskipun begitu, bukan maksud saya menjustifikasi bahwa dunia maya jauh lebih baik dari dunia nyata. Kehidupan digital yang banyak tercermin dari media sosial berpengaruh langsung dalam membentuk perasaan pesimis. Hal ini juga yang menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan mental bagi Gen-Z. Hadirnya media sosial membuat kita terus membandingkan hidup sendiri dengan pencapaian orang lain.

Hal ini membuat banyak anak muda hidup dalam perasaan tertinggal. Timeline dipenuhi pencapaian, sementara kehidupan sendiri terasa berjalan di tempat. Lantas muncul pertanyaan-pertanyaan pesimistik seperti, “Kapan aku bisa seperti dia?”. Contoh ini adalah salah satu pembentuk gaya berpikir yang selalu dihantui oleh rasa takut akan kegagalan. Masyarakat digital menjadi neraka bagi kita.

Dari kasus seperti itu, fandom memberikan kontradiksi. Statusnya sama-sama digital, namun pengaruhnya justru berbanding terbalik. Di tengah media sosial yang semakin individualistis, fandom justru menawarkan rasa kolektivitas. Padahal fandom tertentu juga tumbuh dari media sosial, namun fungsinya sudah beralih menjadi rumah emosional. Boleh jadi karena itu pula banyak Gen-Z merasa lebih nyaman berbincang dengan teman satu fandom hingga larut malam dibanding membicarakan hidupnya sendiri di dunia nyata. Cara-cara ini menjadi contoh penemuan kembali makna pulang dari fandom.

Rumah Emosional

Seperti yang sudah disebut beberapa kali di atas, bahwa fungsi sosial fandom juga mencakup rumah emosional. Hal ini terjadi karena banyak Gen-Z yang sering merasakan kesepian dan kehilangan makna rumah dari tempat-tempat terdekatnya, bahkan dari tempat tinggal mereka sendiri. Boleh jadi seorang anak justru merasa tertekan dengan pulang ke rumahnya karena sehari-hari selalu diberikan ekspektasi berlebih dan tekanan tanpa henti dari orangtuanya.

Belum lagi kalau orang tua sudah membandingkan si anak dengan tetangga sebelah yang jauh lebih sukses. Maka rumah kehilangan makna sejatinya sebagai tempat berpulang. Faktual, menurut survei Oxfam 2025, 47% Gen-Z sering merasa kesepian. Alasan terbesarnya adalah karena kurangnya ruang sosial dan koneksi nyata. Sementara itu, CDC juga menunjukkan bahwa fenomena kesepian meningkat drastis beberapa tahun terakhir.

Fandom kemudian hadir menjadi rumah emosional baru bagi Gen-Z. Ditambah, generasi ini juga besar dengan budaya pop modern seperti Marvel Studios dan tayangan anime yang kian masif. Gen-Z sudah terbiasa memulai harinya di masa kecil dengan budaya tontonan lewat kartun-kartun seperti Spongebob. Mereka juga besar di budaya gaming yang kuat tercermin dari penggunaan Playstation. Grup-grup baru K-Pop juga bermunculan di periode ketika Gen-Z menginjak usia remaja dan memantik minat untuk terus mengikuti idola mereka. Di situasi ini, fandom memainkan peran penting untuk menghimpun penggemar masing-masing produk budaya untuk membangun komunitas secara digital.

Dengan hadirnya fandom, Gen-Z dapat merasakan kembali ruang interaksi sosial yang jauh lebih ramah, tanpa ada tuntutan dan cukup bersenang-senang dengan diskusi intens. Satu hal yang menjadi sisi positif dari fenomena fandom adalah globalisasi. Anggota fandom terdiri dari penggemar lintas bangsa. Bagi sebagian anggota fandom, interaksi lintas bangsa juga membuat mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Globalisasi ini menjadi cermin dunia postmodern, di mana interaksi tidak terbatas ruang. Meski begitu, fandom tidak selamanya menjadi surga.

Toxicity dalam Fandom

Kini kita tiba dari sisi negatif fandom, yaitu lingkungan toxic. Tidak selamanya fandom menjadi tempat berpulang yang aman. Ibarat jika kita memasuki kompleks ketika hendak pulang ke rumah, namun banyak preman dan ancaman begal di sepanjang perjalanan. Namun, hal ini tidak selalu terjadi di setiap fandom. Masih banyak fandom yang memberikan nuansa positif. Tapi tidak dapat dipungkiri, toxicity dapat hadir di setiap sudut fandom.

Perbedaan pendapat umum terjadi di setiap komunitas. Namun, hal tersebut dapat menjadi diskusi tidak sehat apabila antar anggota mulai berkata kasar dan membawa unsur personal. Komunitas yang seharusnya membawa demokrasi dalam interaksi, dirusak hanya karena perbedaan pendapat. Kefanatikan terhadap satu karakter tertentu juga memicu keretakan internal fandom dan menumbuhkan bibit pribadi yang semi-chauvinis.

Toxicity dalam fandom patut disayangkan karena merusak komunitas dan produk budaya yang mereka cintai di mata publik. Seperti contoh series My Hero Academia yang dibenci karena fandomnya tidak sehat. Ketika berada dalam posisi ini, maka anggota yang bijak adalah yang memilih diam dibanding berdebat panjang lebar tapi penuh makian. Lebih baik jika ia menghentikan dan mengingatkan agar komunitas tidak tercemari oleh perilaku buruk.

Tempat untuk Menjadi Diri Sendiri

Terlepas dari problem toxicity, fandom masih dapat disebut rumah emosional karena posisinya yang memberikan peluang untuk menjadi diri kita sendiri di tengah kepalsuan dunia nyata. Jika di kantor kita harus terus dituntut oleh bos tanpa mengeluh, atau ketika di rumah selalu dihakimi oleh orang tua, maka di dalam fandom kita bisa menjadi diri kita sendiri. Ini adalah salah satu alternatif untuk mencari sisi kemanusiaan yang kerap terlupakan di dunia nyata.

Pada titik ini, fandom jadi terasa manusiawi dibanding dunia nyata. Tidak perlu dituntut dengan ekspektasi yang berat atau harus produktif di setiap waktu. Fandom hanya memerlukan anggota yang memiliki kesamaan minat terhadap satu produk budaya. Hal ini yang membuat fandom jadi terasa lebih hidup dibanding telantar secara pikiran di dunia nyata. Bagi generasi muda seperti Gen-Z, hidup terlalu lelah untuk percaya atas masa depan, sehingga mereka sering tenggelam pada dunia fiksi yang memberikan makna persahabatan, harapan, dan cinta.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respons Tarif Baru Buntut Tuduhan Kerja Paksa, Mendag Bakal Lakukan Pendekatan ke Pemerintah AS
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Campus League Basket The Nationals Resmi Dimulai, Gameday 1 Langsung Panas
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Pemanggilan Ferarri ke Timnas Indonesia Tuai Sorotan, Padahal Lama Cedera dan Minim Menit Bermain
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Ciri Kamu Butuh Batasan Emosional
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pertamina Kembangkan Ekonomi Sirkular Berbasis Masyarakat
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.