Bisnis.com, SURABAYA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke 5.390,89 pada perdagangan Senin (8/6/2026).
Pada awal perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level terendah 5.370,32 dan sempat duduk di posisi 5.490,11, tercatat hanya 61 saham menguat, dengan 503 saham terkoreksi dan 119 saham stagnan.
Merespons hal tersebut, pengamat Instrumen Investasi Universitas Airlangga (Unair) Gagas Gayuh Aji menilai bahwa fenomena anjloknya IHSG dewasa ini bukan semata-mata karena faktor makroekonomi belaka.
Menurut dia, kondisi saat ini memperlihatkan rapuhnya struktur investor di pasar modal RI, yang disebutnya didominasi oleh trader jangka pendek dan perilaku FOMO (Fear Of Missing Out).
Gagas mengungkapkan koreksi yang dialami IHSG selama beberapa waktu terakhir apabila ditarik dari akhir tahun lalu sebenarnya telah mendekati angka 34%.
Meskipun sempat diprediksi mampu bertahan pada level psikologis 6.100 dalam kondisi ceteris paribus atau asumsi kondisi ekonomi sempurna, ia menjelaskan bahwa pasar saat ini justru berbicara sebaliknya yang disebabkan oleh hantaman berbagai faktor eksternal hingga perilaku finansial masyarakat.
Baca Juga
- Tren Bearish IHSG: Saham Big Caps & Bank Jumbo Masih Layak Serok?
- IHSG Masih Betah di Zona Merah, Intip Sederet Sentimen Pemberatnya
- IHSG Dibuka Turun 3,64% ke 5.390, 503 Saham ke Zona Merah
"Secara fundamental, emiten-emiten besar seperti BBCA dan BBRI sebenarnya menunjukkan kinerja yang sangat baik di kuartal pertama. Namun, dalam studi behavior finance, fundamental emiten hanyalah satu bagian kecil. Ada faktor lain yang jauh lebih mempengaruhi, seperti sentimen pasar dan peran dari regulator," beber Gagas, Senin (8/6/2026).
Dia mengakui bahwa saat ini pasar modal Tanah Air tengah mengalami krisis kepercayaan diri. Beberapa lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI dan Moody’s, hingga aksi jual para investor global di lantai bursa RI utamanya pada saham-saham berkapitalisasi pasar raksasa (big caps) yang tercatat sampai menyentuh Rp7,38 triliun (net foreign sell), turut menyumbang sentimen negatif terhadap transparansi pasar domestik.
Ditambah lagi, lanjut dia, situasi geopolitik global yang tak kunjung kondusif, seperti negosiasi perdamaian yang berlarut-larut antara Iran dan Amerika Serikat kian mengacaukan stabilitas pasar.
"Banyak investor yang akhirnya memilih cut loss atau mending rugi sedikit, daripada uang mereka hilang sepenuhnya. Akibatnya, volume transaksi terus menurun karena mereka yang sudah menjual sahamnya belum mau kembali ke pasar," ungkapnya.
Gagas pun mengomparasi karakteristik investor RI dengan investor di negara maju seperti di kawasan Skandinavia.
Menurutnya, masyarakat asing telah membagi keuangan ke dalam lima instrumen matang, yakni tabungan, dana operasional, dana darurat, investasi, dan kegiatan sosial (charity).
Uang yang masuk dan bergerak ke lantai bursa negara-negara tersebut sesungguhnya berstatus 'uang dingin'.
Sebaliknya, mayoritas pelaku pasar modal di tanah air tidak memiliki edukasi manajemen risiko seperti itu. Mayoritas dari mereka bertindak sebagai trader yang hanya mengejar keuntungan sesaat dari kenaikan harga instrumen, bukan memposisikan diri sebagai investor jangka panjang yang peduli terhadap nilai kepemilikan perusahaan.
"Ketika harga saham turun akibat sentimen eksternal, para trader ini panik dan langsung keluar massal dari pasar. Padahal secara logika dasar, sebagus apapun fundamental perusahaannya, kalau pasarnya sangat FOMO, indeksnya pasti akan ikut ambruk seperti yang kita lihat saat ini," pungkasnya.





