RI - Filipina Kerja Sama Ekspor Impor Tanpa Dolar AS, Lewat Mekanisme Barter

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Indonesia akan mengimpor serat abaka dan bijih besi (iron ore) dari Filipina lewat mekanisme barter. Komoditas itu kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah untuk diekspor kembali ke negara tersebut.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan komoditas pertama yang akan diperdagangkan melalui skema barter adalah serat abaka, yakni serat alami yang berasal dari tanaman sejenis pisang dan digunakan sebagai bahan baku industri tekstil.

Indonesia akan mengimpor abaka dari Filipina, kemudian bahan baku tersebut diolah oleh perusahaan anggota Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) menjadi produk tekstil yang selanjutnya diekspor kembali ke Filipina.

MoU tiga pihak ini melibatkan Asian Pyrochem Technologies dari Filipina bersama PT Trade Barter Indonesia dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia. Ketiga pihak menyepakati pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi senilai US$ 50 juta atau setara Rp909 miliar per tahun. 

Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor bijih besi dari Filipina untuk kebutuhan industri baja nasional. "Setelah diproses oleh grup Krakatau Steel, kemudian bajanya kita ekspor ke Filipina," kata Budi.

Kesepakatan ini merupakan kerja sama antara Asian Pyrochem Technologies bersama PT Trade Barter Indonesia dan PT Krakatau Global Trading. Ketiga pihak menyepakati pertukaran produk baja dengan bijih besi asal Filipina untuk memenuhi kebutuhan produksi Krakatau Steel senilai US$ 300 juta atau setara Rp 5,45 triliun per tahun.

Mekanisme perdagangan tersebut tidak menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai alat transaksi. Sebagai gantinya, perdagangan dilakukan melalui sistem barter yang difasilitasi oleh agen dari masing-masing negara.

Untuk implementasi awal kerja sama tersebut, PT Trade Barter Indonesia (TBI) ditunjuk sebagai pihak yang memfasilitasi kesepakatan antara pelaku usaha kedua negara.

Kerja sama barter tersebut diharapkan dapat terus berkembang ke berbagai komoditas lain melalui kegiatan business matching yang melibatkan pelaku usaha Indonesia dan Filipina.

"Jadi tidak hanya produk yang saya sampaikan tadi, tetapi produk yang lain juga kita lakukan business matching," ujarnya.

Ia berharap penjajakan kerja sama tersebut dapat berlanjut dan diperluas dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan digelar pada 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD.

Budi mengungkapkan kinerja ekspor Indonesia pada periode Januari-April 2026 masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor tercatat mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan surplus neraca perdagangan sebesar US$5,64 miliar.

Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong peningkatan ekspor melalui percepatan implementasi perjanjian dagang, perluasan akses UMKM ke pasar global, serta sejumlah kebijakan yang mendukung penguatan devisa dan stabilitas nilai tukar rupiah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pasar Bergejolak, Intip Peluang dari Saham Dividen Favorit
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Komisi II DPR Rapat dengan Mendagri-Menpan RB, Bahas Nasib Pegawai PPPK-Honorer
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Sosok Astrio Feligent, Jubir Gerindra yang Jadi Sorotan Usai Debat dengan eks Ketua BEM UGM Soal Kepala BGN
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Tina Wiryawati Apresiasi WTP ke-15 Pemprov Jabar, Dorong Tata Kelola Kian Berkualitas
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
PM Anwar Ibrahim Sampaikan Keprihatinan atas Gempa Filipina dan Siap Berikan Bantuan
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.