Makkah (beritajatim.com) – Kala jarum jam masih tertahan di antara angka satu dan dua dini hari, ketika kabut tebal lereng Gunung Sumbing masih memeluk erat Dusun Ngedok, Wonosobo, Jawa Tengah, Mbah Painah (65) telah memulai langkah sunyinya.
Sendirian membelah kesunyian malam, ia berjalan pelan memikul sayur-mayur menuju Pasar Pagi. Tak banyak yang tahu, di balik setiap hela napasnya yang mengembun di udara dingin, ia sedang merajut sepotong mimpi menuju pusat semesta.
Sebelum tahun 1991, hidup ibu empat anak ini telah diwakafkan pada bentangan daun pisang. Selepas Subuh, tangan keriputnya beralih memilah lembar demi lembar daun hijau yang ia dapatkan dari Sambek hingga Mangli.
Daun-daun kelas terbaik ia hargai Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram, sementara yang robek dipisahkan untuk para perajin tempe. Siapa nyana, dari setiap helai daun pembungkus pecel dan nasi hajatan itulah, Tuhan menuliskan undangan agung-Nya.
Wartawan Beritajatim.com, Muhammad Isnan, yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenag RI, melaporkan dari Arab Saudi, keteguhan fisik perempuan asal Wonosobo ini mencuri perhatian di koridor hotel Sektor 8, Misfalah, Makkah, pada Minggu (7/6/2026).
Di tengah ribuan jemaah yang mengandalkan kursi roda, Mbah Painah melangkah dengan betis yang sekeras batu gunung, buah dari rutinitas berjalan kaki sejauh 2,5 kilometer saban hari saat menjajakan dagangannya di tanah air.
Sebuah Janji di Balik Arisan Dua Ratus Ribu
Impian menapakkan kaki di Makkah sebenarnya bukanlah romansa yang ia bangun sendiri. Semua bermula pada tahun 2012 ketika sang suami, Munasir (71), mengajaknya mendaftar haji atas petuah kiai kampung.
Awalnya Mbah Painah menolak, lebih memilih menyodorkan anak-anaknya terlebih dahulu. Namun, sang belahan jiwa mengeluarkan ultimatum cinta yang tak bisa ditawar, “Kalau saya berangkat, kamu tidak, saya nggak mau. Kalau mau berangkat, ya ayo.”
Maka mulailah babak perjuangan sunyi itu. Tak ada keajaiban instan. Dari sisa recehan jualan sayur dan daun pisang, Mbah Painah dengan telaten menyisihkan uang untuk dititipkan pada arisan kampung selama 18 tahun.
“Mboten kathah, paling kalihatus (nggak banyak, hanya Rp200 ribu) dan rutin,” tutur Mbah Painah dengan bahasa Jawa yang halus dan santun.
Namun, takdir sering kali menguji keikhlasan dengan cara yang getir. Ketika waktu keberangkatan Haji 2026 tiba, sang suami justru dinyatakan tidak lolos syarat kesehatan.
Kekecewaan itu sempat menggelayuti dada mereka sebelum akhirnya terobati saat Munasir diberangkatkan umrah sebelum Ramadan lalu. Kini, Mbah Painah harus menggenapi janji suci mereka seorang diri, dikawal oleh putra sulungnya, Sabar.
Kepolosan di Depan Ka’bah dan Pantang Iba
Saat pertama kali netranya bertemu dengan keagungan Ka’bah, respons Mbah Painah justru jauh dari kesan dramatis yang biasa menghiasi layar kaca. “Biasa-biasa mawon, tapi nggih seneng banget (biasa-biasa saja, tapi senang sekali),” ucapnya polos, memicu tawa hangat orang-orang di sekitarnya.
Di balik kepolosan itu, ia melangitkan doa yang tak egois; memohon sugih waras (kaya akan kesehatan) untuk anak, cucu, dan suaminya di rumah. “Nek sugih waras enten rezeki,” imbuhnya bijak.
Ketangguhan fisik Mbah Painah sempat membuat geleng-geleng kepala Ketua Kloter YIA 22, Muhasyim. Ketika petugas menawarkan skema badal untuk lempar jumrah di Mina demi keselamatan jemaah lansia, Mbah Painah menolak dengan tegas.
Bagi buruh tani ini, haji adalah perjalanan sekali seumur hidup yang harus ditebus dengan seluruh raga yang ia miliki. Ia pun sukses menyelesaikan lempar jumrah dari tanggal 10 hingga 12 Zulhijah secara mandiri.
Bahkan, ketika armada bus shalawat diistirahatkan menjelang puncak haji, Mbah Painah menolak berdiam diri di kamar hotel. Jarak 2,5 kilometer dari pemondokannya di Misfalah menuju Masjidil Haram ia tempuh dengan berjalan kaki setiap hari demi bisa bersujud di pelataran mataf.
Kini, saat seluruh ritual suci telah digenapinya, pikiran Mbah Painah justru telah kembali membumi ke hilir pasar Wonosobo. Ia mengaku sudah rindu untuk kembali memotong pelepah, memilah mutu daun, dan berjalan kaki menyusuri gang-gang kampung menemui para pelanggan setianya.
Ia pulang bukan untuk menjadi orang asing yang jemawa dengan gelar barunya, melainkan tetap menjadi Painah yang dulu—seorang penjual daun pisang yang kini langkah kakinya telah sah diakui oleh langit. [ian/MCH]




