Dolar Menguat, Petani Kopi dan Sawit Lampung Tetap Tertekan

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS – Menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tidak berdampak signifikan terhadap kenaikan harga komoditas ekspor dari Lampung. Di tingkat petani, harga komoditas perkebunan, seperti kopi dan sawit, justru turun akibat tekanan fluktuasi harga di pasar internasional.

Merujuk data London Berjangka dari laman Investing.com, pada Senin (8/6/2026), harga kopi robusta di pasar internasional berada pada rentang 3.350-3.375 dolar AS per ton. Harga ini merosot dibandingkan tahun 2024, harga 4.500-4.600 dolar AS per ton.

Supriyono (50), petani kopi asal Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, menuturkan, harga biji kopi robusta (green bean) di tingkat petani berkisar Rp 52.000–Rp 55.000 per kilogram. Harga itu lebih rendah dibandingkan dua tahun lalu yang mencapai rekor tertinggi, Rp 75.000–Rp 100.000 per kg.

“Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah naik, tapi harga kopi internasional turun. Jadi, harga kopi saat ini justru lebih murah dibanding beberapa tahun lalu,” kata Supriyono kepada Kompas.

Tak hanya robusta, harga arabika juga tertekan. Saat ini, harga arabika berkisar Rp 150.000 per kg untuk kualitas premium atau spesialti. Padahal, sebelumnya, harganya bisa menyentuh Rp 200.000 per kg.

Selain harga yang anjlok, produktivitas kopi tahun ini juga lebih sedikit. Paryoto (70), petani kopi asal Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat, menuturkan, satu hektar lahan kopi rata-rata hanya menghasilkan sekitar 700 kg biji dari sebelumnya mencapai 1.000 kg biji.

“Tahun ini hasil panen memang lebih sedikit. Tahun depan semoga bisa banyak lagi,” katanya.

Sementara itu, pelaku ekspor robusta Lampung, Alghazali Qurtubi (35), mengakui, penguatan nilai dolar AS terhadap rupiah memberikan peluang keuntungan untuk eksportir. Biasanya, eksportir sudah mendapat kesepakatan dagang sejak awal tahun.

”Kontrak bisnis ekspor kopi yang sudah disepakati dibayar dengan dolar AS. Ketika terjadi perubahan nilai tukar seperti sekarang ini, akan memberikan keuntungan bagi eksportir,” kata Alghazali, yang akrab disapa Ali.

Namun, eksportir juga harus bersiap menghadapi kenaikan biaya operasional dan biaya pengiriman akibat terdampak situasi geopolitik yang tidak menentu. Menurut dia, eksportir rentan kesulitan mengirim kopi ke negara-negara di wilayah konflik karena kendala transportasi.

Baca JugaRupiah Masih Loyo, Bagaimana Dampaknya bagi Bisnis Ekspor Impor?

Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah juga memicu kenaikan harga minyak, karung, hingga kantong plastik. Biaya transportasi untuk pengiriman kopi ke luar negeri ikut meningkat.

”Di kondisi ekonomi yang tidak menentu sekarang ini, kami memang harus pintar-pintar mengatur bisnis dan menjaga arus kas agar tetap bisa menjalankan bisnis,” katanya.

Harga sawit

Tak hanya komoditas kopi, harga tandan buah segar sawit di tingkat petani anjlok. Selain fluktuasi harga di pasar internasional, penurunan harga juga dipicu kebijakan pemerintah yang mewajibkan skema ekspor sumber daya alam strategis melalui badan usaha milik negara atau BUMN.

Harga minyak sawit berjangka menunjukkan tren pelemahan. Pada Senin (8/6/2026), harganya tercatat 4.545 ringgit Malaysia per ton, turun dari level 4.838 ringgit Malaysia per ton yang sempat dicapai pada April 2026.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Lampung Abdul Simanjuntak menuturkan, saat ini, harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani antara Rp 2.700-2.800 per kg. Harga itu lebih rendah dibandingkan dua bulan lalu, Rp 3.500 per kg.

Menurut dia, harga buah sawit anjlok setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan kebijakan terkait kewajiban ekspor sumber daya alam strategis melalui BUMN. Penurunan harga itu membuat penghasilan rumah tangga petani sawit swadaya merosot. 

Di Lampung, petani rata-rata mempunyai lahan seluas 1 hektar dengan produksi sekitar 1 ton TBS per bulan. Dari sebelumnya mendapat Rp 3,5 juta per bulan, kini petani hanya meraih Rp 2,7 juta per bulan.

Bahkan, Abdul menyebut, produktivitas kebun sawit juga diperkirakan akan merosot selama beberapa bulan ke depan akibat dampak El Nino ”Godzilla”. Lahan sawit yang biasanya dapat menghasilkan 1 ton per hektar diperkirakan akan turun menjadi 6-7 kuintal per hektar setiap bulan. Bila hal itu terjadi maka petani bakal semakin merugi.

Baca JugaHarga Sawit di Tingkat Petani Turun, Harga Minyak Goreng di Ritel Naik

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Keuangan Bocor Terus? Coba Terapkan Aturan 72 Jam Ini
• 1 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Bocah Tewas di Hutan Jasinga, Polisi Kantongi Identitas Pemilik Anjing Pemburu
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ayu Puspita Divonis 1,5 Tahun Kasus Penipuan Wedding Organizer
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Telkom (TLKM) Tebar Dividen Rp21,9 Triliun, 123% dari Laba Bersih 2025
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
PT DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor SDA, Danantara: Kontrak Lama Tetap Jalan
• 9 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.