Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur menambah tiga guru besar dari lintas keilmuan yang akan dikukuhkan di hadapan senat akademik kampus di Gedung Samantha Krida, Rabu (10/8).
Ketiga guru besar tersebut, yakni Prof Bambang Semedi sebagai profesor bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan, Prof Erni Sofia Murtini sebagai profesor bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional, dan Prof Sri Muljaningsih sebagai profesor bidang Ekonomi Sumber Daya Alam.
Prof Bambang Semedi saat sesi konferensi pers di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya di Kota Malang, Senin, mengatakan, mengembangkan Marine Intelligence System for Spatio-Temporal Catch Prediction atau MARINESCAPE sebagai kerangka teknologi mutakhir untuk memprediksi zona potensi penangkapan ikan (ZPPI) yang presisi dan adaptif di tengah fluktuasi suhu permukaan serta perubahan arus ekstrim akibat pemanasan global.
"Zona penangkapan ikan yang selama ini dipandu oleh pengalaman empiris turun temurun dan kearifan lokal kini sulit diprediksi sehingga kondisi ini menyebabkan nelayan membutuhkan waktu lebih saat pencarian (ikan)," kata dia.
Perubahan alam tersebut menyebabkan terjadinya perubahan jalur migrasi yang tidak terduga ikan bernilai ekonomi penting, seperti cakalang.
Kondisi pada akhirnya membuat para nelayan menghadapi resiko berupa semakin tingginya kebutuhan untuk bahan bakar kapal atau perahu.
Prof Bambang menyatakan MARINESCAPE yang dikembangkan telah dilengkapi data multi-sensor dari satelit, seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan front laut yang dianalisa menggunakan model pembelajaran mesin.
"MARINESCAPE hadir bukan untuk menggantikan peran manusia tetapi sebagai decision support sistem yang cerdas guna membantu nelayan demi menjaga ketahanan pangan kelautan bagi generasi masa depan," ujarnya.
Sementara itu, Prof Erni Sofia Murtini menyatakan serealia merupakan tanaman dari kelompok biji-bijian, seperti padi, gandum, sorgum, dan ral yang menjadi sumber karbohidrat bagi kebutuhan energi manusia.
Dia pun mendorong pengembangan serealia lokal yang selama belum dimanfaatkan secara maksimal.
"Salah satu yang memiliki potensi besar adalah sorgum. Tanaman itu mampu tumbuh di lahan dengan tingkat kesuburan rendah sehingga tidak mengganggu lahan untuk budidaya padi," ucapnya.
Sedangkan, Prof Sri Muljaningsih menyampaikan Model Lily yang dia kembangkan memiliki dasar filosofi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) punya kesempatan menghadirkan nilai tambah terhadap sebuah sumber daya alam yang ada.
"Model ini bersifat community centric, dimana penciptaan nilai terjadi melalui interaksi sosial," kata dia.
Baca juga: Universitas Brawijaya tambah 10 guru besar bidang ilmu berbeda
Baca juga: Guru Besar UB: PSEL jadi strategi pemerintah ciptakan ketahanan energi
Ketiga guru besar tersebut, yakni Prof Bambang Semedi sebagai profesor bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan, Prof Erni Sofia Murtini sebagai profesor bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional, dan Prof Sri Muljaningsih sebagai profesor bidang Ekonomi Sumber Daya Alam.
Prof Bambang Semedi saat sesi konferensi pers di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya di Kota Malang, Senin, mengatakan, mengembangkan Marine Intelligence System for Spatio-Temporal Catch Prediction atau MARINESCAPE sebagai kerangka teknologi mutakhir untuk memprediksi zona potensi penangkapan ikan (ZPPI) yang presisi dan adaptif di tengah fluktuasi suhu permukaan serta perubahan arus ekstrim akibat pemanasan global.
"Zona penangkapan ikan yang selama ini dipandu oleh pengalaman empiris turun temurun dan kearifan lokal kini sulit diprediksi sehingga kondisi ini menyebabkan nelayan membutuhkan waktu lebih saat pencarian (ikan)," kata dia.
Perubahan alam tersebut menyebabkan terjadinya perubahan jalur migrasi yang tidak terduga ikan bernilai ekonomi penting, seperti cakalang.
Kondisi pada akhirnya membuat para nelayan menghadapi resiko berupa semakin tingginya kebutuhan untuk bahan bakar kapal atau perahu.
Prof Bambang menyatakan MARINESCAPE yang dikembangkan telah dilengkapi data multi-sensor dari satelit, seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan front laut yang dianalisa menggunakan model pembelajaran mesin.
"MARINESCAPE hadir bukan untuk menggantikan peran manusia tetapi sebagai decision support sistem yang cerdas guna membantu nelayan demi menjaga ketahanan pangan kelautan bagi generasi masa depan," ujarnya.
Sementara itu, Prof Erni Sofia Murtini menyatakan serealia merupakan tanaman dari kelompok biji-bijian, seperti padi, gandum, sorgum, dan ral yang menjadi sumber karbohidrat bagi kebutuhan energi manusia.
Dia pun mendorong pengembangan serealia lokal yang selama belum dimanfaatkan secara maksimal.
"Salah satu yang memiliki potensi besar adalah sorgum. Tanaman itu mampu tumbuh di lahan dengan tingkat kesuburan rendah sehingga tidak mengganggu lahan untuk budidaya padi," ucapnya.
Sedangkan, Prof Sri Muljaningsih menyampaikan Model Lily yang dia kembangkan memiliki dasar filosofi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) punya kesempatan menghadirkan nilai tambah terhadap sebuah sumber daya alam yang ada.
"Model ini bersifat community centric, dimana penciptaan nilai terjadi melalui interaksi sosial," kata dia.
Baca juga: Universitas Brawijaya tambah 10 guru besar bidang ilmu berbeda
Baca juga: Guru Besar UB: PSEL jadi strategi pemerintah ciptakan ketahanan energi



