- Pemenang Sementara
- Pemerintah Iran
- China
- Ukraina
- Korban
- Pasar Energi
- Lebanon
- Bagaimana dengan Israel?
Jakarta, CNBC Indonesia - Seratus hari sejak perang Iran pecah pada akhir Februari lalu, belum ada pemenang mutlak yang dapat dinyatakan keluar sebagai penguasa konflik. Namun, perkembangan selama lebih dari tiga bulan terakhir telah menghasilkan sejumlah pihak yang dinilai memperoleh keuntungan strategis, sementara pihak lain justru menanggung kerugian besar yang jauh melampaui perkiraan awal sebelum perang dimulai.
Ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari dan menyebut perang itu akan berakhir dengan cepat, banyak pihak memperkirakan pemerintahan Teheran akan runtuh atau setidaknya mengalami pelemahan fatal. Kenyataannya, setelah 100 hari pertempuran, peta kekuatan justru berkembang jauh lebih kompleks.
Setidaknya perang telah menyebabkan hingga 2.211 orang tewas, lebih dari 22.000 terluka, dan sedikitnya 3,9 juta orang mengungsi, meski berbagai perkiraan masih berbeda-beda.
Dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan, konflik tidak hanya melibatkan Iran dan Israel. Perang meluas ke Lebanon, mengguncang pasar energi global, memicu serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk, sekaligus menguji pengaruh AS di Timur Tengah serta efektivitas diplomasi internasional.
Berikut daftar pemenang sementara perang AS-Israel Vs Iran, sebagaimana dikutip dari analisis Newsweek, Senin (8/6/2026).
Pemenang Sementara Pemerintah IranSalah satu pihak yang dinilai keluar sebagai "pemenang sementara" adalah pemerintah Iran sendiri.
Gelombang awal serangan menghancurkan sistem pertahanan udara Iran, peluncur rudal, aset angkatan laut, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Keberhasilan awal itu sempat mendorong Trump mengeluarkan berbagai pernyataan yang menggambarkan rezim Iran berada di ambang keruntuhan.
Namun hingga hari ke-100 perang, pemerintahan Iran masih berdiri.
Memang, Iran mengalami kerusakan infrastruktur besar dan tekanan ekonomi yang makin berat. Serangan AS dan Israel memperburuk kondisi ekonomi yang sudah tertekan sebelumnya. Situasi makin sulit setelah Washington memberlakukan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April, sehingga ekspor energi Iran anjlok.
Meski demikian, tujuan utama untuk menjatuhkan pemerintahan tidak tercapai.
Pemerintahan Trump bahkan mulai mengurangi retorika yang sebelumnya mendorong rakyat Iran menggulingkan pemerintahannya sendiri. Fokus Washington kini lebih diarahkan pada upaya menghentikan kemampuan Iran mengembangkan senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran juga berhasil memberikan biaya ekonomi dan militer yang besar kepada lawan-lawannya.
Teheran mampu menimbulkan kerusakan terhadap pangkalan militer AS dan sistem pertahanan rudal di kawasan. Iran juga memaksa Israel, AS, dan negara-negara Teluk menggunakan persediaan amunisi ofensif maupun defensif yang sulit digantikan dengan cepat.
Selain itu, Iran secara efektif berhasil menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan hidrokarbon dunia.
Pihak lain yang dinilai memperoleh keuntungan dari perang adalah China.
Beijing membeli sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Status tersebut membuat China menjadi mitra dagang paling penting bagi Republik Islam tersebut.
Posisi ini memberikan bobot lebih besar terhadap seruan Presiden China Xi Jinping kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dibandingkan tekanan yang datang dari Trump.
Ketika fasilitas-fasilitas energi di kawasan Teluk terus menghadapi ancaman serangan Iran, posisi AS sebagai pelindung utama Timur Tengah mulai dipertanyakan. Kondisi ini membuka peluang bagi China untuk memperluas pengaruhnya dalam membentuk tatanan regional baru.
Allen Carlson, pakar kebijakan luar negeri China dari Cornell University, menilai Xi berhasil memanfaatkan momentum geopolitik tersebut.
"Dalam hal citra selama tiga minggu terakhir, Xi mampu menampilkan dirinya sebagai penentu arah di panggung dunia," katanya kepada Newsweek.
"Xi dan China berada dalam posisi yang lebih kuat, terutama ketika hal itu secara implisit dibandingkan dengan ketidakkonsistenan strategis pendekatan Washington terhadap dunia saat ini."
Meski demikian, Carlson mengingatkan bahwa ekonomi domestik China juga menghadapi tantangan.
Harga daging babi, yang sering digunakan sebagai indikator inflasi dan kepercayaan konsumen di China, justru merosot tajam bulan lalu.
Namun menurutnya, Beijing mampu menyerap guncangan eksternal akibat perang lebih baik dibanding banyak negara lain.
"Xi mungkin bahkan memanfaatkan aspek panggung dunia ini karena persoalan politik dan ekonomi domestik jauh lebih sulit untuk diatasi," ujarnya.
Perang Iran juga secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi Ukraina. Perhatian dunia yang sebelumnya tertuju pada invasi Rusia ke Ukraina kini banyak beralih ke Timur Tengah.
Pada saat yang sama, harga minyak Rusia melonjak. Harga minyak Urals Rusia meningkat tiga kali lipat sehingga pendapatan energi Moskow bertambah hingga US$10 miliar per bulan.
Namun Ukraina juga memperoleh peluang baru. Pengalaman Kyiv menghadapi drone Shahed buatan Iran yang digunakan Rusia kini menjadi aset berharga.
Ukraina mulai menawarkan keahlian anti-drone kepada AS dan negara-negara Teluk yang menghadapi serangan Iran.
"Ukraina keluar dari konflik Timur Tengah ini sedikit lebih kuat dengan kemitraan baru di Teluk serta kemampuannya menunjukkan bahwa mereka memiliki keunggulan dalam teknologi drone dan anti-drone yang kini menarik perhatian Washington," kata Zev Faintuch dari Global Guardian.
"Ukraina memiliki kartu baru di Washington, dan memiliki penyokong baru di Teluk. Ukraina keluar lebih kuat dari perang ini. Itu mungkin berarti Rusia keluar sedikit lebih lemah."
Di sisi yang merugi, pasar energi global menjadi salah satu korban terbesar.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mendorong harga minyak Brent melonjak dari sekitar US$71 per barel sebelum perang menjadi sekitar US$96 per barel. Bahkan harga di atas US$100 per barel beberapa kali terjadi selama tiga bulan terakhir.
Lonjakan tersebut langsung membebani konsumen di berbagai negara, terutama AS.
Analis pasar senior FXCM Russell Shor mengatakan dampak terbesar bukan berasal dari hilangnya pasokan minyak secara fisik, melainkan meningkatnya premi risiko geopolitik.
"Investor harus menilai ulang risiko gangguan di sekitar Selat Hormuz," katanya.
LebanonNegara lain yang mengalami kerugian besar adalah Lebanon. Konflik meluas ke negara itu pada 2 Maret ketika kelompok Hizbullah yang didukung Iran meluncurkan roket dari wilayah Lebanon ke Israel utara.
Pemerintah Lebanon tidak mengendalikan Hizbullah, namun negara tersebut harus menanggung konsekuensinya.
Militer Israel merespons dengan memperluas operasi jauh melampaui Sungai Litani. Kekhawatiran kini muncul bahwa kehadiran militer Israel di sekitar 20% wilayah Lebanon dapat berubah menjadi pendudukan permanen.
Data ACLED mencatat hampir 270 peristiwa penghancuran properti antara 2 Maret hingga 1 Juni.
Kementerian Keuangan Lebanon memperkirakan kerugian akibat perang telah mencapai sedikitnya US$3 miliar. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 3.500 orang tewas dan 10.600 lainnya terluka sejak perang dimulai.
Sebanyak 1,2 juta warga terpaksa mengungsi. "Setelah 100 hari perang, Lebanon berada dalam posisi yang sangat rapuh," kata peneliti ACLED, Bassel Doueik.
Sementara itu, Aline Kamakian dari organisasi bantuan World Food Kitchen menggambarkan skala kehancuran yang terjadi.
"Orang-orang bahkan belum mencoba kembali karena mereka tahu mereka tidak bisa kembali. Kerusakannya sangat besar," katanya.
Bagaimana dengan Israel?Untuk Israel sendiri, para analis menilai masih terlalu cepat menentukan apakah negara itu termasuk pihak yang menang atau kalah.
Israel memang berhasil melemahkan kelompok-kelompok proksi Iran, termasuk Hizbullah. Menurut Faintuch, hingga 3.000 pejuang Hizbullah telah dieliminasi sejak perang Iran dimulai dan sekitar 8.000 sejak konflik yang meletus setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
"Jadi tentu saja Israel keluar jauh lebih kuat terhadap Hizbullah dalam 100 hari terakhir," ujarnya.
Namun hasil akhir tetap bergantung pada apakah perang akan berakhir melalui kesepakatan yang menguntungkan atau justru melahirkan konflik baru yang lebih panjang.
"Iran mampu menciptakan hubungan yang cukup kuat antara negosiasi dengan Amerika Serikat dan situasi di Lebanon," kata Faintuch.
"Saya tidak berpikir kita bisa mengatakan Israel lebih kuat dibanding sebelumnya, tetapi jelas tidak lemah, dan pada akhirnya semuanya akan ditentukan oleh hasil akhir."
(luc/luc) Add as a preferred
source on Google




