Jakarta: Karakter Presiden ke-2 RI, Soeharto, dibedah dalam sebuah buku berjudul Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen. Dalam buku tersebut, dijelaskan Soeharto adalah sosok pemimpin yang mengambil keputusan berbasis kalkulasi politik dan tradisi kebatinan Jawa.
"Dan Pak Harto menggunakan feeling itu dalam merumuskan strategi politik dalam masa pemerintahannya. Ia menyerap energi alam itu, atau yang disebut Joyo Prabowo," kata Penulis Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen, Bambang Wiwoho, Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Baca Juga :
Daging Kurban Disalurkan hingga Pelosok SulselBambang menjelaskan Soeharto juga melakukan Cipta Roso Karso, yaitu dalam Islam dikenal dengan istilah Napsu, Kalbu, dan Akal Pikiran. Menurut dia, hal ini dilakukan beberapa pimpinan terkenal dunia, namun sebutannya berbeda.
"Intinya adalah, bagaimana dalam membuat kebijakan bukan hanya memperhitungkan angka tapi juga harus selaras dengan alam itu sendiri dan rasa manusiawi manusia," ungkap Bambang.
Kondisi ini dinilai terlihat sebelum Soeharto memutuskan untuk berhenti dari jabatannya sebagai Presiden pada Mei 1998. Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Paulus Tri Agung Kristanto mengatakan, saat itu Soeharto harus menghadapi dua mahzhab, antara yang ingin menerapkan Currency Board System (CBS) dan tidak ingin menggunakan CBS.
“Pak Harto sudah mau mengendorse itu, tapi saat itu 14 menteri sudah mengundurkan diri. Akhirnya, Pak Harto menyatakan, dia tidak melakukan itu, karena dirinya sudah tidak didukung lagi," kata Tri Agung.
Penulis Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen, Bambang Wiwoho (tengah). Foto: Dok. Istimewa.
Dia menyatakan Soeharto selalu menekankan bahwa pemerintah harus bisa memastikan tidak ada rakyatnya yang susah, adil, dan makmur. Hal ini dikenal dengan tata tentrem, kerto raharjo, murah kang sarwo tinumbas.
Dia mengatakan, saat kepemimpinan Soeharto, slogan itu dimanifestasikan dengan penguatan badan negara. Upaya menjaga kestabilan harga bahan pokok dilakukan dengan menghadirkan Bulog.
“Badan negara dibentuk bukan hanya untuk mencari profit, tapi juga untuk menjaga kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat atau agent development," papar Tri Agung.




