Perkembangan teknologi melaju begitu cepat. Belum tuntas mengeksplorasi kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI), dunia kini memasuki era komputer kuantum yang menjanjikan perubahan lebih masif. Saatnya untuk bersiap menghadapi gelombang teknologi masa depan tersebut.
Pertanyaan ini mengemuka di ajang New York Tech Week 2026, pekan teknologi yang digelar IBM (International Business Machines Corporation) di New York, Amerika Serikat, awal Juni ini. Harian Kompas (Kompas.id) turut hadir dalam acara itu pada Selasa (2/6/2026) waktu setempat.
”Era kuantum bukan lagi sesuatu yang ada di depan, era itu sudah dimulai. Klien, mitra, dan pengguna sedang memanfaatkan komputer kuantum IBM untuk melakukan pekerjaan yang mustahil dilakukan beberapa tahun lalu,” kata Chairman dan Chief Executive Officer IBM Arvind Krishna.
Komputer kuantum adalah mesin yang memanfaatkan prinsip mekanika kuantum untuk menyelesaikan perhitungan yang rumit. Mesin ini berbeda dengan komputer klasik, seperti laptop dan telepon pintar, yang mengandalkan semikonduktor silikon untuk memproses data.
Komputer klasik mengolah data atau informasi dalam bentuk bit, yakni aritmatika biner 0 dan 1. Komputer ini hanya memiliki kedua kode itu. Ibarat saklar, jika tidak on, ya off. Sementara itu, komputer kuantum menggunakan quantum bit atau qubit dengan karakteristik superposisi.
Melalui karakter itu, kode informasinya tidak hanya 0 dan 1, tetapi bisa berada pada kondisi keduanya pada waktu bersamaan. Dengan begitu, komputer kuantum dapat memecahkan perhitungan yang rumit. Ibaratnya, komputer klasik mengandalkan satu orang untuk menghitung satu per satu kasus.
Pada komputer kuantum, terdapat ratusan bahkan ribuan orang yang menghitung secara paralel dalam waktu bersamaan. Ilustrasinya, jika Anda mencari buku di perpustakaan besar dengan komputer klasik, waktunya amat lama. Dengan kuantum, Anda bisa memeriksa semua rak sekaligus sehingga menemukan bukunya bisa lebih mudah.
Kehadiran komputer kuantum tidak untuk menggantikan komputer klasik yang ada. Pasalnya, cara kerja dan tujuannya berbeda. Krishna mencontohkan, unit pemrosesan pusat (CPU) komputer yang sudah ada 70 tahun terakhir telah menjalankan program dan kalkulasi sesuai instruksi penggunanya.
Kemudian, unit pemrosesan grafis (GPU) muncul dengan kemampuan mengelola penghitungan berat, yang memungkinkan AI bekerja. Dalam beberapa hal, CPU juga bisa melakukan penghitungan seperti itu. Hanya saja, kemampuannya 10.000 kali lebih lambat dari GPU.
”Dengan komputer kuantum, Anda dapat melakukan jenis (penghitungan) matematika ketiga. Kuantum dapat menyelesaikan masalah yang bahkan pada GPU atau CPU akan memakan waktu bertahun-tahun untuk dipecahkan. Itulah keunggulannya,” ujar Krishna.
Menurut dia, komputer kuantum bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, seperti ketika teknologi ini muncul sekitar tiga dekade lalu. Salah satu temuan terbaru dari pemanfaatan komputer kuantum adalah keberhasilan simulasi kompleks protein hingga mencakup 12.635 atom.
Penelitian yang memadukan kuantum dan superkomputer ini merupakan kolaborasi IBM, Klinik Cleveland, serta RIKEN (pusat riset asal Jepang). ”Dengan memahami sifat-sifat protein menggunakan komputasi selama beberapa menit, Anda dapat memahami molekul untuk pengembangan obat,” ungkap Krishna.
Pada tahap awal, penemuan ini berpotensi memperpendek waktu pengembangan obat yang sebelumnya memakan waktu lebih dari satu dekade. Biayanya pun bisa lebih hemat karena selama ini dibutuhkan investasi besar untuk pembuatan satu obat saja.
Selain kesehatan, hasil simulasi dari komputer kuantum juga dapat memecahkan persoalan rumit di bidang kimia material, energi, hingga keuangan. Konsumsi listrik komputer kuantum juga jauh lebih efisien dibandingkan komputasi untuk AI karena mengandalkan pendingin dari gas.
Potensi pemanfaatan yang luas itulah yang mendorong IBM mengembangkan komputer kuantum. Hingga kini, terdapat 90 mesin komputer kuantum dan perangkatnya. Lebih dari 30 di antaranya memiliki kapasitas di atas 100 qubit. Komputer itu tersebar di AS, Jerman, hingga Tokyo (Jepang).
Bahkan, IBM telah mengumumkan rencana investasi dalam komputasi kuantum selama lima tahun ke depan. Nilainya, lebih dari 10 miliar dolar AS atau Rp 180 triliun (dengan kurs Rp 18.000 per dolar AS). Investasi itu mencakup penelitian dan pengembangan, belanja modal, peningkatan skala manufaktur, kemitraan ekosistem, serta merger dan akuisisi.
Lalu, mengapa IBM berinvestasi amat besar untuk sesuatu yang kerap masih dianggap abstrak? ”Jika Anda bisa mendahului kurva (perkembangan teknologi), dan jika apa yang Anda lakukan cukup sulit (bagi pihak lain), Anda benar-benar unggul beberapa tahun. Industri teknologi sudah menunjukkan imbal hasil yang besar. Kami merasa, kuantum juga seperti itu,” ujarnya.
Krishna tidak asal bicara. Departemen Perdagangan AS, misalnya, akan memberikan insentif senilai 1 miliar dolar AS untuk Anderon (perusahaan baru IBM) untuk pengembangan pabrik cip kuantum pertama di AS. Pabrik itu diproyeksikan menghasilkan nilai ekonomi 850 miliar dolar AS pada 2040.
Tidak hanya IBM, sejumlah perusahaan teknologi juga berlomba mengembangkan komputer kuantum, seperti IQM, Rigetti Computing, hingga Google. Meski demikian, IBM telah memperluas pengaruhnya melalui 340 anggota jaringan kuantum, yang terdiri atas 75 klien industri, mitra swasta, perusahaan rintisan, laboratorium nasional, dan kampus.
”Saya tidak akan mengatakan Anda harus memiliki ratusan orang yang mengerjakan kuantum hari ini. Tapi, saya bilang, Anda harus memiliki mungkin tiga hingga enam orang. Artinya, Anda harus bersiap sehingga ketika saatnya tiba, Anda tidak perlu menghabiskan dua tahun lagi,” ujarnya.
Quantum Readiness Index (QRI) 2025, laporan kesiapan perusahaan untuk mengadopsi komputer kuantum, juga menunjukkan, organisasi yang menyiapkan diri saat ini diperkirakan mendapat 53 persen imbal hasil investasi (ROI) pada 2030 dibandingkan perusahaan yang menunda investasi.
Namun, kenyataannya, skor kesiapan organisasi secara global pada 2025 masih berkisar 28 poin, meski naik 6 poin dibandingkan 2023. Investasi kuantum tercatat rata-rata mencapai 11 persen dari anggaran riset dan pengembangan, naik dari 7 persen dibandingkan 2023.
Meski prospeknya menjanjikan, pengembangan komputer kuantum masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satunya, menurut laporan QRI, adalah persoalan keterampilan. Sekitar 90 persen dari perwakilan 750 organisasi di 28 negara menyebutkan kurangnya talenta yang memadai menjadi penghalang untuk menuju teknologi ini.
Pada tahap awal, organisasi biasanya mengandalkan tim kecil yang sangat spesialis. Namun, ketika proyek berkembang, kebutuhan talenta harus meluas ke berbagai bidang, seperti arsitektur, desain algoritma, rekayasa integrasi, dan pengembangan aplikasi khusus domain.
”Saat ini, ada kekurangan talenta yang luar biasa untuk komputasi kuantum,” ucap Osama Raisuddin, peneliti algoritma kuantum di Rensselaer Polytechnic Institute (RPI), AS, dalam salam satu panel diskusi di New York Tech Week. Ia tidak menyebut angka soal kekurangan talenta itu.
Namun, menurut dia, berbagai pihak perlu menggalakkan literasi tentang kuantum. ”Di RPI, kami sangat beruntung karena memiliki komputer kuantum yang memungkinkan kami bereksperimen. Dengan begitu, kami berharap lahir talenta dari generasi baru,” ucapnya.
Tantangan lainnya adalah menjadikan komputer kuantum dapat digunakan secara luas dan menghasilkan keuntungan bisnis, bukan sekadar riset. ”Komputasi kuantum yang berguna, terutama untuk bisnis, saya rasa masih jauh,” ucap President Stony Brook University Andrea Goldsmith, panelis lainnya.
Menurut Andrea, monetisasi bisnis dengan komputer kuantum masih membutuhkan waktu. Ia mencontohkan soal AI, yang sudah dibahas sejak 1950-an, tetapi investasi besar-besaran untuk AI baru dilakukan beberapa tahun terakhir. Meski demikian, waktu untuk monetisasi komputer kuantum bisa lebih cepat. ”Mungkin, butuh waktu sekitar 5 sampai 10 tahun lagi,” katanya.
Sebaliknya, Jerry Chow, Chief Technology Officer of Quantum-Centric Supercomputing IBM, menilai, dampak komputer kuantum, termasuk untuk bisnis, telah dirasakan dan akan semakin masif beberapa tahun ke depan. Itu sebabnya, pihaknya telah membuat peta jalan pengembangan kuantum.
Peluang akan lebih besar jika kita terlibat lebih awal dalam pengembangan komputer kuantum. Tidak ada gunanya menunggu karena ini seperti gelombang yang cepat.
Tahun 2029, misalnya, pihaknya ingin mencapai fault tolerance (tahan terhadap kesalahan). Puncaknya, pada 2033, ketika komputer kuantum mampu menjalankan lebih dari 1 miliar operasi dengan ribuan qubit. Ia mengakui, terdapat tantangan untuk mencapai target itu. Namun, perusahaan perlu berinvestasi untuk teknologi ini.
”Peluang akan lebih besar jika kita terlibat lebih awal dalam pengembangan komputer kuantum. Tidak ada gunanya menunggu karena ini seperti gelombang yang cepat. Jika terlambat, orang-orang akan ketinggalan kereta,” tutur Chow.





