Analis: BI Rate Berpotensi Naik 200 Bps ke 6,75% pada 2026

bisnis.com
6 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) diproyeksikan menempuh langkah moneter yang jauh lebih agresif hingga akhir 2026 dengan suku bunga acuan (BI Rate) berpotensi melonjak hingga 200 basis poin atau naik 2,00% ke 6,75%.

Proyeksi tersebut melampaui estimasi awal pelaku pasar menyusul langkah kilat bank sentral yang mempercepat Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50% demi menahan kejatuhan nilai tukar rupiah di level Rp18.200 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sepanjang tahun berjalan kebijakan moneter BI sejatinya telah menguras ruang intervensi yang cukup besar. Secara kumulatif, bank sentral tercatat sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps dari posisi awal tahun di 4,75%.

“Namun, dengan realisasi hari ini yang sudah menyentuh total kenaikan 75 bps, ada kemungkinan besar suku bunga BI sampai akhir tahun melesat 200 bps jika kondisi global memburuk,” ujar Ibrahim kepada rekan media, Selasa (9/6/2026).

Menurut kalkulasi tersebut, dengan asumsi batas atas kenaikan mencapai 200 bps dari posisi awal tahun, maka BI masih mengantongi sisa ruang pengetatan moneter sebesar 125 bps lagi untuk dieksekusi pada paruh kedua tahun ini. 

Sementara itu, dalam keterangan resmi, BI mengkonfirmasi keputusan mengerek BI Rate ke 5,50%, suku bunga Deposit Facility 4,50%, dan Lending Facility menjadi 6,25% bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca Juga

  • Efek BI Rate hingga Rencana Buyback Himbara, Saham Bank Pesta!
  • Terungkap! Alasan BI Naikkan Suku Bunga 25 Bps jadi 5,5%
  • IHSG Melonjak 4,8%, Saham Prajogo Pangestu hingga Bank Jumbo Kompak Menghijau

Berdasarkan evaluasi mingguan sejak RDG Bulanan periode 19–20 Mei 2026, bank sentral juga mengakui bahwa perkembangan nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dari yang diperkirakan semula.

Selain dipicu oleh tingginya permintaan valas di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendalam ini juga didorong oleh derasnya aliran modal keluar (capital outflow) dari investasi portofolio asing.

Ibrahim menilai keputusan mengerek BI-Rate sudah tepat karena memanfaatkan momentum meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah adanya sinyal penurunan intensitas konflik antara Israel dan Iran.

Kendati demikian, pengetatan moneter lanjutan tetap membayangi lantaran adanya ancaman lonjakan inflasi yang dipicu oleh mahalnya harga barang-barang impor akibat depresiasi rupiah yang mendalam beberapa pekan terakhir.

“Kami melihat ada risiko inflasi bulanan ke depan cenderung naik sebagai dampak langsung dari kenaikan harga barang-barang impor,” imbuhnya.

 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPRD DKI Minta Pelaku Bullying Bocah 6 Tahun hingga Koma di Jakpus Dijerat Hukum meski Berstatus Anak
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Ada Demo Mahasiswa di 4 Titik Jakpus Hari Ini, Masyarakat Diimbau Cari Jalur Alternatif
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Dony Oskaria Tegaskan Danantara Pisahkan Risiko Pengelolaan BUMN dan Investasi
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
PPIH: Asuransi jamaah wafat dibayarkan usai operasional haji rampung
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Dugaan Bullying terhadap Anak di Toraja Utara Bikin Bhabinkamtibmas Turun Tangan
• 22 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.