Amerika Serikat (AS) melalui US Central Command (CENTCOM) meluncurkan serangan kepada Iran di tengah rapuhnya gencatan senjata antara kedua negara.
IDXChannel - Amerika Serikat (AS) melalui US Central Command (CENTCOM) meluncurkan serangan kepada Iran di tengah rapuhnya gencatan senjata antara kedua negara. AS mengklaim serangan tersebut sebagai bentuk pembelaan diri (self-defense) usai Iran menembak jatuh helikoptek Apache milik militer Amerika.
Dilansir Al Jazeera, Rabu (10/6/2026), serangan udara itu dilakukan di bagian timur provinsi Hormozgan, termasuk Kuhestak, Sirik, dan Minab. Serangan itu memicu ledakan di sejumlah titik. AS menyerang pusat produksi drone setelah Shahed -drone Iran-, menembak jatuh helikopter AS.
Presiden AS, Donald Trump memastikan serangan terbatas tersebut perlu dilakukan AS usai jatuhnya helikopter Apache di dekat Selat Hormuz kemarin.
"Saya pikir sangat penting bagi kami untuk merespons. Mereka menembak jatuh sebuah helikopter, dan saat ini kami sedang merespons. Saya percaya responsnya harus sangat tegas dan kuat, dan itulah yang sedang kami lakukan sekarang," katanya.
Menanggapi serangan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, AS harus keluar dari Timur Tengah jika ingin menciptakan perdamaian di kawasan.
"Tinggalkan kawasan kami jika Anda ingin tetap aman. Amerika Serikat memilih menguji kami meskipun mereka kalah. Militer kami yang sangat kuat tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman tanpa balasan," kata Abbas.
Serangan AS kepada Iran dilaporkan masih berlangsung. Di samping pusat produksi drone, serangan AS, terutama ke Sirik, juga menargetkan sumber daya air untuk wilayah Bamani, berdasarkan keterangan dari IRIB.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Timur Tengah, Jean Arnauld tengah berada di AS. Salah satu isu yang akan dibahas yakni progres perdamaian AS-Iran yang dimediasi Pakistan.
"PBB berupaya mendukung berbagai upaya regional untuk memajukan hubungan yang didasarkan pada penghormatan penuh terhadap kedaulatan nasional dan keamanan bersama," kata Juru Bicara PBB, Farhan Haq.
(Rahmat Fiansyah)





